Don Carron: “Kami Datang pada Paus Fransiskus Seperti Pengemis Iman”

< ![endif]-->

Don Carron 1

INI untuk menyambut Hari Gerakan Awam, Komunitas baru, Asosiasi dan Yayasan Katolik yakni  18-19 Mei sebagaimana  telah ditetapkan  Konsili Kepausan untuk Evangelisasi Baru dalam rangka Tahun Iman.

Berikut ini adalah artikel Julián Carrón, Pemimpin Fraternitas Communion and Liberation berjudul Seperti Pengemis Iman” dan telah diterbitkan oleh L’Osservatore Romano. Ini memberi kesaksian bahwa pertemuan dengan Bapa Suci: “Adalah sebuah kesempatan untuk menemukan kembali pentingnya fakta yang kokoh ini dan ikatan kami dengan Paus Fransiskus”.

Pada tanggal 18 Mei Sri Paus mengumpulkan semua gerakan dan komunitas Katolik untuk berdoa bersama memohon kepada Roh Kudus:  karunia dari kehadiranNya yang menjembatani kebutuhan kita yang tak terbatas. Kami adalah sebuah gerakan awam dan kami ingin menjadi bagian dari Gereja ini yang dikumpulkan bersama oleh Paus Fransiskus.

Apakah arti dari panggilan ini bagi kita masing-masing?

Itu adalah sebuah kesempatan yang sangat indah dan berharga untuk kembali berkata bahwa Sri Paus adalah sangat penting bagi kami, karena ia adalah titik bersejarah yang diberikan Kristus kepada kita, yang kejahatan dan kebingungan tidak akan menang atasnya.

Untuk itulah kami datang kepadanya sebagai pengemis, agar didukung dan dikuatkan di dalam iman.

Supaya peziarahan ini bukan menjadi sebuah sikap formal, atau hanya sikap “beragama” atau “devosi”, kita harus memahami implikasinya bagi hidup kita. Melihat kebingungan yang mendominasi dimana-mana di sekeliling kita, kita bertanya: mengapa di dalam diri kita kebingungan itu tidak menang?

Alasannya tidak terikat pada fakta sebagai orang yang lebih hebat atau lebih pandai atau lebih konsisten daripada orang lain; bukan karena itulah kita tidak merasa bingung, tetapi karena kita secara terus menerus menemukan diri di hadapan sebuah fakta yang kokoh (Yesus), yang senantiasa membebaskan kita dari disorentasi umum.   

Kami datang kepada Paus di dalam Tahun Iman, dan memang keadaan ini yang mengatakan kepada kita apakah karakter dari iman Katolik: keberadaan dari sebuah titik sejarah, objektif, bukan produk dari imaginasi kita, sebuah titik yang nyata yang menyelamatkan kita dari ajang penafsiran, dan oleh sebab itu dari kebingungan.

Seperti yang dikatakan don Giussani (pendiri CL), tanpa titik sejarah ini tidak da sebah pengalaman katolik: “Kristianisme adalah sebuah pewartaan dari sebuah Fakta, sebuah Fakta yang baik bagi manusia, sebuah Injil: Kristus lahir, mati dan bangkit. Itu bukan sebuah definisi yang abstrak, sebuah pemikiran yang dapat ditafsirkan. Firman Allah – Verbum – adalah sebuah fakta yang terjadi di dalam kandungan seorang wanita, Ia menjadi seorang bayi, Ia menjadi manusia yang berkotbah di hadapan banyak orang, yang telah makan dan minum bersama orang lain, Ia telah dihukum mati dan dibunuh. Rupa dari manusia itu ada saat ini kebersamaan dari umat beriman, yang merupakan tanda jaman, atau – seperti kata Santo Paulus – yang merupakan sang Tubuh, Tubuh misterius, yang dinamakan juga “umat Allah”, dibimbing seperti jaminan dari seorang pribadi yang hidup, yaitu Uskup Roma” (Luigi Giussani, Pemahaman Allah dan manusia modern)**.  

 

Pergi ke Roma bagi kita masing-masng adalah sebuah kesempatan untuk menemukan kembali pentingnya Fakta yang kokoh ini dan ikatan kita dengan Paus Fransiskus. Kita dapat menjalani sikap formalitas ini, lalu kekeringan, padang gurun mulai menang di dalam diri kita; atau kita dapat menjalani sikap terimplikasi di dalam kenyataan yang dimulai dari kehadiran yang kokoh ini, lalu mulailah ketertarikan, keingintahuan, rasa terkejut menang; hanya ini yang membedakan.

 Paus Fransiskus dan poster

Sejak dari awal masa kepausan-nya, Paus Fransiskus mengundang kita untuk mengenali alasan mendalam mengapa kita telah dipilih melalui pembaptisan dan mengapa kita telah menemukan sebuah karisma, dengan mengajak kita “membuka pintu-pintu hati kita, hidup kita, paroki-paroki kita, (…) gerakan-gerakan awam, komunitas-komunitas, dan “keluar” bertemu dengan sesama, mendekatkan diri kita untuk membawa cahaya dan kebahagiaan dari iman kita, (…) mengetahui bahwa kita menempatkan tangan kita, kaki kita, hati kita, tapi kemudian justru Allah yang memimpin semua itu dan menjadikan semua perbuatan kita berbuah” (Audiensi Umum, 27 Maret).

 Paus Fransiskus di tengah kerumunan

Begitu besarkebutuhandari hati manusiasaat ini,di mana hanya satu jawaban yang sama kokohnya dapat mengimbangi situasi itu: “Kebenaran kristen itu menarik dan meyakinkan karena menjawab kepada kebutuhan mendalam dari keberadaan manusia, mewartakan dengan cara yang meyakinkan bahwa Kristus adalah satu-satunya Juru Selamat bagi semua manusia dan semua orang. Pewartaan ini tetap berlaku saat ini sebagaimana dengan dulu pada awal kristianisme” (Audiensi Umum, 15 Maret 2013).

Sri Paus mendorong kita untuk senantiasa menghidupkan iman sebagai kesaksian: “Orang tidak dapat mewartakan Injil Yesus tanpa kesaksian yang nyata dalam hidup”. Namun mengingatkan kita bahwa hal itu dimungkinkan hanya “jika kita mengenal Yesus Kristus, karena Ia yang telah memanggil kita, mengundang kita untuk melangkah di jalanNya, memilih kita. Mewartakan dan bersaksi memungkinkan hanya jika kita dekat dengan Dia, seperti Petrus, Yohanes dan murid-murid lain” (Homili di Basilika Santo Paulus diluar Tembok, 14 April 2013).

Mengherankan saya bahwa tidak ada hari di mana Paus Fransiskus tidak mengingatkan kita untuk hidup seperti Yesus: “Menjadi umat kristen bukan hanya hidup mengikuti perintah-perintah, tetapi berarti berada di dalam Kristus, berpikir seperti Dia, bertindak seperti Dia, mengasihi seperti Dia; yaitu membiarkan Dia memiliki hidup kita dan mengubahnya, merubahnya, membebaskannya dari kegelapan kejahatan dan dosa” (Audiensi Umum, 10 April 2013). Pergi ke Roma untuk mengemis Roh Kristus, sehingga kita mampu mengakui dengan kesederhanaan hati: “Engkau dulu dan sekarang adalah segalanya bagiku” (Ada Negri)***; bukan hanya: “Engkau dulu”, sebagai sebuah relikwi dari masa lampau, tetapi “Engkau sekarang”, di sini dan sekarang, sebagai sebuah Kehadiran yang membawa kita ke dalam pupara hidup.

 

*Pemimpin Fraternitas Communion and Liberation

** Luigi Giussani, Il senso di Dio e l’uomo moderno

***Ada Negri, Tutto per me Tu fosti e sei

 

Diterjemahkan oleh Shirley Hadisandjaja

Sumber: L’Osservatore Romano

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.