Dodol, Sosiologi Pemetaan Umat Beriman di Paroki Limpung, Kabupaten Batang

< ![endif]-->

DARI kacamata ilmu sosiologi, ‘paroki’, bisa dilihat sebagai himpunan orang. Orang berhimpun lalu menjadi satu kumpulan. Dasar berhimpun adalah ideologi dan tujuan yang  sama. Dasarnya adalah iman. Tujuannya adalah mendapatkan keselamatan abadi.

Sebagai himpunan umat beriman, agar hidup bersama tertata, teratur, perlulah adanya pengurus. Untuk bisa melayani, para pengurus perlulah bertemu, rapat. Syukur-syukur bisa terlaksana secara rutin.

Para pengurus Paroki Limpung, kini secara rutin selalu melakukan rapat. Tiap pekan kedua, hari Jumat, pukul 19.00. Lumayan, program bertemu rapat regular ini sudah berjalan.

Ada plus. Dan tentu saja juga ‘harus’  ada  minusnya.

Minusnya adalah yang datang tak bisa lengkap, full. Bisa dimengerti, mereka sudah pada capai di malam hari. Itu karena mayoritas kelompok beriman ini  berprofesi sebagai pedagang. Siang hari mereka di toko atau di pasar. Sore hari sibuk menghitung uang masuk, uang keluar, dan keuntungan, atau malah kerugian. Maka tak mengherankan, jika datang rapat pun, sebagian dari mereka wajahnya sudah kelihatan letih.

Dodolan

Pada suatu kesempatan, seorang katekis mengajak secara berkobar-kobar agar mereka rajin datang ke gereja. Tak hanya hari Minggu saja. Supaya kelihatan gereja selalu ada orang. Selalu ada aktivitas. Tak hanya malam, juga siang hari. Sesudah agak lama Sang Katekis mengutarakan ajakannya, seorang ibu-umat-aktivis, melontarkan sebuah kalimat pendek, ‘Nek awan dodoooooool…… Pak !’. (Kalau siang mah harus jualan/dagang)

Ketika di Kampung Laut, Cilacap, pertemuan-pertemuan umat kerap diadakan di siang hari. Malah ada yang terlaksana pada pukul 13.00. Dalam kesempatan itu kerap terjadi dan terdengar suara orang ‘angop’: ‘Huahhhhhhemmmmm…..!’.

Bisa dimengerti, beberapa di antara mereka, jika malam hari suntuk di laut, mencari ikan. Memang usaha mereka adalah menjadi nelayan.

Mengajak umat, aktif menggereja, rupanya perlu memperhatikan apa profesi dan situasi-kondisinya. Jika demikian ukuran menggereja, juga harus berwarna ‘kontekstual’.

Selamat melayani umat. Selamat pula ber-konteks-tual.

Wasalam: Pengudud ’76

Menanggapi pemetaan sosiologis di Paroki Limpung ini, Uskup Diosis Purwokerto Mgr. Julianus Sunarka SJ menyambut positif pengamatan reflektif ini.

“Ytk. Romo  Agung Pralebda di Subah Limpung. Sugeng Prapaska. Saya terkesan bahwa pengamatan Romo Agung Pralebda ini sae sanget, among umat punika kedah nggatosaken pakaryan lan mangsanipun. Mangga kalajengaken. Wonten unen-unen “bebakulan mawa tata, tetanen mawa cara, pegawai mawa suwala (bagus sekali, tugas pastoral menggembalakan umat beriman itu mau tidak mau juga harus memperhitungkan atmosfir kebatinan mereka berhubungan dengan pekerjaan dan keseharian mereka.  Ada pepatah yang mengatakan setiap sisi kehidupan selalu punya ‘tata caranya’ sendiri: berdagang ada jurusnya, bertani ada prosedurnya, menjadi karyawan ada etikanya.)

 Berkah Dalem. Jsunarkasj”

Photo credit: Ilustrasi/Ist

Tautan:  Apa Yesus Mendirikan Paroki Limpung di Kabupaten Batang?

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.