Doa-Nya Bukanlah Zona Nyaman-Nya

Sabtu, 6 Agustus 2016
Sabtu Imam
Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya
Dan 7:9-10.13-14; Mzm 97:1-2.5-6.9; 2Ptr 1:16-19; Luk 9:28b-36

Sekali peristiwa, Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. Ketika sedang berdoa, wajah Yesus berubah, dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan, dan berbicara tentang tujuan kepergian Yesus dan akan digenapi-Nya di Yerusalem.

BACAAN Injil hari ini menyatakan kepada kita bahwa Yesus naik gunung untuk berdoa. Lagi-lagi Injil mewartakan betapa penting hidup doa, juga bagi Yesus sendiri.

Juga dikatakan kepada kita bahwa saat Yesus sedang berdoa,wajah-Nya berubah mulia dan pakaian-Nya putih berkilau. Di sana Yesus berbicara dengan Musa dan Elia tentang perjalanan-Nya menuju Yerusalem.

Apa artinya? Saat Yesus berdoa, Ia tidak berpikir tentang mujizat yang dibuat-Nya, kenyamanan dunia, atau ambisi pribadi. Ia tidak berpikir tentang keuntungan, kekuasaan, atau ketenaran nama. Doa-Nya juga bukan istirahat, nyantai atau zona nyaman-Nya.

Lebih dari semua hal lain itu, dalam doa-Nya Yesus berbicara dan berpikir tentang pembebasan manusia dari perbudakan dosa. Satu-satunya keinginan-Nya adalah perjalanan menuju Yerusalem. Itu adalah penderitaan dan kematian-Nya dan perjalanan dari dunia menuju kemuliaan Bapa-Nya, yakni menggenapi kehendak-Nya dengan menyelamatkan manusia.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus, kita belajar berdoa seperti Yesus. Kita tidak berpikir tentang ambisi, keinginan, harapan, kenyamanan atau pemenuhan diri. Di sana kita mohon pada-Nya kebebasan sejati dari belenggu egoisme. Sungguh, penyangkalan diri seperti itu akan berbuah damai, sukacita, kasih dan hidup kekal. Apakah kita memilih mengesampingkan semua kemungkinan itu untul mengasihi Yesus? Apakah kita siap menyerahkan semua kebaikan itu demi kasih kepada Kristus?

Tuhan Yesus Kristus, kami mengasihi Dikau, bahkan meski kami tak selalu mampu memberikan yang terbaik bagi-Mu. Bebaskan hati kami dari setiap bentuk egoisme. Bantulah kami menggunakan jalan kemurahan untuk penyangkalan diri. Bimbinglah kami menuju kebebasan dan sukacita sejati dalam hati kami dan kemampuan yang lebih besar untuk pemberian diri sejati kini dan selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.