Diutus seperti Domba di Tengah Serigala

domba serigala

DIUTUS seperti domba di tengah serigala. Ini adalah zona yang tidak aman, zona yang penuh resiko, atau karya yang penuh tantangan tetapi kadang perlu dilalui. Sedang zona aman yaitu kerja di tengah Umat Katolik yang tradisional dengan merayakan Ekaristi harian rutin dan melayani doa-doa bersama dengan ibu-ibu yang sudah lanjut usia. Bukan maksudnya menyatakan hal ini tidak baik.Tetapi misi Gereja lebih-lebih agar Umat terjun ke masyarakat.

Pernah ada seorang ibu Kadus (Kepala dusun) Katolik mensharingkan pengalamannya di depan warga lingkungan: “Sebagai kepala dusun saya harus melayani semua kelompok, beraneka tugas, sampai bertumpuk-tumpuk. Karena saya Katolik maka saya langsung dipercaya untuk mengurusi soal keuangan koperasi. Saya tidak bisa menolak. Tantangan yang harus saya hadapi sekali, Banyak kasus-kasus dari warga masyarakat, entah soal tanah, soal jual beli rumah, bahkan soal pekawinan juga ditumpahkan pada saya.

Saya pernah membela penguburan Katolik di desa meskipun ada yang tidak senang dan membela memberi izin untuk adanya tempat doa bagi Umat Katolik. Tetapi saya mencari akal agar rumah doa ini untuk siapa saja, rumah doa paguyuban. Yang berat yaitu bahwa ke Gereja untuk Misa saya tidak teratur, karena kadang Minggu pagi ada rapat-rapat. Banyak warga yang pinjam kendaraan saya, katanya untuk mengantar sunatan. Kalau tidak dipinjami orang akan mengira bahwa saya tidak setuju, kalau saya setujui mobil saya lama-kelamaan cepat rusak…….dan masih banyak lagi”

Pengalaman ibu ini menunjukkan bahwa ia tidak takut resiko. Ia mencoba cerdik seperti ular, tetapi tetapi tulus seperti merpati. Ia tidak khawatir dan tidak takut resiko, meski ia juga pernah didemo oleh warga desa mengenai sengketa agama. Akibat kesaksian dan keberanian ibu, banyak warga desa ingin masuk jadi warga Gereja dan pastor juga amat berterimakasih atas perjuangan seorang ibu yang dipilih jadi kadus.

Pernah ibu itu didatangi banyak tokoh masyarakat yang meminta agar ia mau dicalonkan sebagai camat, tetapi dengan syarat bahwa ia harus meninggalkan tanda salibnya. Namun ibu ini menolak tegas, bahwa ia tidak menginginkan kedudukan. Ibu mengatakan” “Kalau masyarakat mencalonkan saya untuk naik jabatan, tetapi saya tetap dalam keyakinan iman dan agama saya, saya mau.”
Inilah contoh diutus bagai domba di tengah serigala. Masih banyak contoh yang lain.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.