Ditunjuk Jadi Capres, Jokowi Minta Restu Ibu

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, akrab dipanggil Jokowi, telah meminta doa restu kepada ibundanya Sujiatmi Noto Miharjo di Solo, setelah ditetapkan sebagai calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, seperti dikutip dari Antara Jumat (14/3/2014).

Menurut Sujiatmi, ibunda Jokowi, saat ditemui di rumahnya, Jalan Pleret 9A Sumber Solo, Jokowi telah menelepon sekitar pukul 15.30 WIB, dan meminta doa restu atas ditunjuknya menjadi calon presiden.

“Bu, saya dicalonkan oleh Ketua Umum PDIP Ibu Megawati Soekarnoputri, mohon doa restu,” kata Sujiatmi menirukan ucapan Jokowi.

Menurut Sujiatmi, dia (Jokowi) hanya minta doa restu. Jika diberikan amanah harus dijalankan dengan jujur, ikhlas dan hati-hati.

Jokowi tidak ambisi dan serakah, tetapi dia jika diberi mandat oleh ketua partai dijalankan seperti sekarang sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Menurut dia, dirinya mengetahui berita Jokowi dicalonkan menjadi presiden dari siaran televisi. Setelah itu, banyak telepon masuk yang menanyakan soal pencalonan itu, dan banyak kerabat sudah mengucapkan selamat atas pencalonan Jokowi.

Ia menjelaskan, Jokowi memang anak penurut, dan dia dari kecil senang bermain senapan angin untuk berburu, dan alat musik gitar.

Bahkan, Jokowi senang ikut bapaknya berburu ke desa-desa seperti Krangan Karanganyar dan Gumukrejo Boyolali.  ”Makanan kesukaan Jokowi, pisang dan kacang rebus,” kata Sujiatmi.

Doa restu orangtua

Tentu apa yang dilakukan Jokowi ini merupakan langkah yang bagi sebagian besar orang menjadi hal biasa. Kebanyakan orang menganggap doa dari orantua, leluhur, nenek moyang menjadi kekuatan tersendiri bagi setiap perjuangan dan langkah kita. Dalam berbagai kebudayaan, aktivitas minta restu ini kita temui. Tak hanya Jawa. China, Batak, dan beragam budaya lain juga melakukan hal sama.

Doa, apalagi dari ibu selalu diharapkan menjadi kekuatan paling dahsyat yang bisa selalu melindungi dan menguatkan yang didoakan. Memang, bukan doanya yang dahsyat melainkan segala kekuatan yang tersimpan dari yang mendoakan. Itu yang dahsyat. Ibu, sebagai orangtua selama mengandung kita ibaratnya menjalani masa khalwat, retret karena bayi yang dikandungnya adalah jiwa yang harus diselamatkannya. Apa yang dilakukan ibu akan memengaruhi secara langsung bagi bayi yang dikandungnya. Karena itulah, ada ungkapan, “surga ada di telapak kaki ibu.”

Hal yang sama juga dilakukan Yesus dan Maria serta orang-orang suci lain. Dengan segala energi baik/positif yang tersimpan dalam diri pribadi-pribadi ini, mereka mampu menjadi perantara bagi semua doa yang dipanjatkan pada Allah Bapa di Surga. Orang-orang suci, luhur, mulia ini ibarat charger yang akan langsung menyalurkan listrik berkekuatan ratusan hingga ribuan watt ke ponsel (yang diibaratkan tubuh, jiwa dan pikiran kita).

Maka berkat listrik (rahmat Allah) yang disalurkan lewat orang-orang suci dan mulia seperti ibu, semua yang kita jalani bakal lancar. Hidup kita akan berjalan seperti yang diharapkan.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.