Diskusi Politik Komisi Kerawam KWI (1)

TAHUN 2014 merupakan Tahun Politik. Demikian sekarang masyarakat menyebutnya. Hingar bingar pemilu yang dipandang sangat strategis, karena akan membawa perubahan ke Indonesia baru, bisa negatif maupun positif, juga munculnya pemerintahan yang baru.

Komisi Kerasulan Awam KWI yang lebih dikenal dengan nama Komisi Kerawam telah menegaskan fokusnya untuk  membidik politik sejak berlangsungnya Rakernas tahun 2013; dan terutama ingin  memusatkan program kegiatannya pada Pemilu.

Ajakan memilih gencar dilakukan, sosialisasi memilih yang sesuai hati nurani dan juga mencari wakil rakyat yang holistik – bukan sekedar mewakili kesejahteraan rakyat – akhirnya dilakoni hingga turne ke daerah-daerah.

Guna sosialisasi lebih lanjut kepada pengurus ormas katolik, pada 20 Februari 2014, Komisi Kerawam KWI mengadakan diskusi di Kantor KWI, Jl. Cikini II. Narasumber yang ditampilkan adalah Osbin Samosir, anggota Banwaslu, dan Hadar N. Gumay, komisioner KPU.

Mengawal suara pasca TPS

Osbin Samosir menekankan urgensi mengawal tahapan pemilu,  khususnya serangan fajar dan perolehan suara pasca TPS. Terlebih lagi di daerah yang jauh dari pusat, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

Penghitungan suara di TPS relatif aman dan bersih, tetapi perpindahan ke kabupaten lanjut provinsi dan pusat, nah itu –kata dia- yang bisa menjadi  rawan korupsi data.

“Siapa yang bisa melacak lagi suara asli tiap TPS dibandingkan dengan suara akumulasi di pusat,” demikian peringatan Osbin yang tahun lalu berhasil menyelesaikan program doktoral bidang sosial politik di Universitas Indonesia.

Transparansi tanpa program canggih

Indonesian Bishops of Conference Commission for the Laity Kerawam KWI host an social awareness seminar in Jakarta recently

Suasana diskusi politik tentang Pemilu 2014 yang diprakarsai Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) KWI di Kantor KWI Jl. Cikini II, Jakarta Pusat, pertengahan Februari lalu. (Dokumentasi FMKI Jakarta)

Komisioner KPU yang terkenal santun dan simpati, Hadar N. Gumay, memaparkan perbedaan Pemilu 2009 dengan Pemilu 2014.

Walau kemajuan teknologi begitu merasuk dalam kehidupan masyarakat, KPU malah tidak mau menggunakan teknologi canggih seperti program khusus pemilu yang diperkenalkan pada Pemilu 2009. Ternyata teknologi mahal tersebut tidak banyak membantu proses perhitungan suara seperti yang diharapkan. “Kita menggunakan teknologi yang lebih sederhana dengan pertimbangan beragamnya kemampuan teknologi di daerah-daerah,” jelas Hadar.

Hasil perhitungan nantinya dipindai dan diemail sebagai pelengkap laporan yang nantinya akan diunggah ke website KPU.

Transparansi juga coba diterapkan dengan mewajibkan tiap KPU daerah menampilkan profil caleg di website. Hanya dalam kenyataannya, masih banyak daerah yang belum melaksanakan perintah tersebut.

Romo Iwan Rusbani Pr

Romo Rusbani “Iwan” Setiawan Pr, imam diosesan Keuskupan Bandung; staf Komisi Kerawam KWI dan pastur Paroki Subang, Jawa Barat (Foto:FMKI KAJ)

Hal ini menyulitkan masyarakat untuk mengenali para calon wakilnya. Setidaknya seperti juga  dikemukakan oleh Romo Iwan Rusbani Setiawan Pr tentang kesulitan mencari data profil caleg  Subang dan sekitarnya.

Hadar juga mengimbau agar orang muda aktif berperan dalam Pemilu, misalnya dengan menjadi petugas KPPS, karena transparansi perlu dukungan dari semua golongan masyarakat. Masyarakat pemilih juga sangat dimudahkan supaya bisa menyalurkan hak pilihnya.

Bagi pemilik hak suara yang namanya tidak tercatat dalam daftar pemilih, bisa langsung mendatangi TPS di lingkungannya dengan membawa KTP yang menunjukkan memang dia bertempat tinggal di lingkungan tersebut.

Segala upaya menjadikan Pemilu sebagai perhelatan rakyat yang bertujuan mengubah kehidupan rakyat yang lebih baik di masa mendatang, perlu didukung segenap ormas dan kategorial dalam Gereja.

 

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.