Diselamatkan untuk Menyelamatkan

Ayat bacaan: Efesus 2:10
====================
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”

diselamatkan untuk menyelamatkan

“Betapa enaknya menjadi manager atau pemain bola profesional” kata seorang teman saya pada suatu kali. Bayangkan, jika seandainya mereka dikontrak selama 3 tahun, dan dalam tahun pertama prestasi mereka jeblok, mereka tetap dibayar seluruhnya seperti bekerja 3 tahun sesuai kontrak. Karenanya mereka bisa duduk-duduk tanpa bekerja, tapi gaji mereka tetap dibayar sepenuhnya. Pemain profesional pun demikian. Meski mereka tidak bisa bermain, gaji mereka akan tetap utuh. Bagi teman saya, hidup terasa tidak adil. Di saat orang harus banting tulang mati-matian untuk mencari nafkah, sebagian orang bisa menghasilkan tanpa harus bekerja.

Apa yang hendak saya sampaikan hari ini bukanlah mengenai keadilan, tapi mengenai adanya kecenderungan bagi kita orang percaya untuk menerima keselamatan tanpa mau berbuat apapun. Kita tidak boleh membiarkan diri kita berlaku seperti contoh manager atau pemain bola profesional di atas. Jangan sampai kita berpikir: “saya kan sudah selamat.. saya sudah mendapat jaminan hidup yang kekal, jadi saya tidak perlu berbuat apapun untuk Tuhan.” Itu bukanlah perilaku yang diharapkan Tuhan. Keselamatan memang hadir bagi kita sebagai bentuk anugerah kasih karunia Tuhan dan bukan lewat perbuatan baik kita. Itu benar. Paulus dengan jelas menyatakan hal itu dalam suratnya kepada jemaat Efesus. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9). Apa yang dikatakan Paulus dalam ayat ini memang menyatakan bahwa keselamatan itu datang bukan dari usaha kita, bukan dari perbuatan-perbuatan baik, bukan dari amal dan kehebatan kita memberi sumbangan atau sedekah. Ini bukan berarti bahwa kita boleh egois, hanya menerima dan tidak ingin memberi. Dalam ayat selanjutnya Paulus menjelaskan hal itu. “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (ay 10). Lihatlah dikatakan disana bahwa kita diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik, sesuai dengan apa yang dipersiapkan Allah bagi masing-masing kita, dan hendaklah kita hidup dengan melakukannya. Saya selalu menggambarkannya begini: Kita diselamatkan untuk menyelamatkan, kita diberkati untuk memberkati, kita diberi untuk memberi. Keselamatan bukanlah pemberian berdasarkan perbuatan baik kita, tapi itu sama sekali bukan berarti bahwa kita tidak perlu melakukan apapun, hanya duduk-duduk saja setelah menerima keselamatan, melainkan harus lebih giat lagi dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan di dunia ini.

Amanat Agung yang diberikan Yesus dengan jelas menginstruksikan kepada kita mengenai apa yang harus kita perbuat. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20). Ini merupakan bukti bahwa kita tidak pernah diminta untuk duduk diam saja menerima keselamatan. Kita harus selalu peka dan peduli terhadap sesama kita, mengulurkan tangan dan memberi bantuan dalam kasih sejauh kita bisa. Tidak harus dalam bentuk materi saja, tapi lewat perhatian, kepedulian, sebagai pendengar yang baik, lewat nasihat atau sekedar senyuman pun ada kalanya bisa menjadi setetes embun bagi mereka yang sedang ditimpa kesulitan. Dikatakan juga demikian: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2). Tuhan telah memberikan tugas kepada kita seperti apa yang telah Dia rencanakan sebelumnya kepada masing-masing orang. Dan kita seharusnya melaksanakan tugas itu. Bukan karena kita berhutang atas keselamatan yang telah diberikan, tetapi untuk memuliakan Kristus yang sudah menebus kita semua hingga keselamatan bisa menjadi milik kita.

Sekali lagi, keselamatan bukan merupakan upah dari perbuatan baik, bukan dari sehebat apa kita memberi, bukan dari banyaknya kita berbuat baik, tapi itu merupakan “hadiah”, anugerah dari Tuhan atas kasih karuniaNya melalui iman kita kepada anakNya yang tunggal Yesus Kristus. Tapi itu bukan berarti bahwa kita boleh duduk diam saja menerima keselamatan dari Tuhan tanpa melakukan apapun. Efesus 2:8-10 telah memberi gambaran jelas kepada kita tentang bagaimana konsep sebenarnya. Apa yang diberikan Tuhan sungguh merupakan sesuatu yang luar biasa besar. Dan untuk itu, sudah selayaknya kita bersyukur. Wujudkan rasa syukur itu lewat segala perbuatan baik berdasarkan kasih, dimana lewat itu semua kita bisa memuliakan Tuhan. Ingatlah bahwa adalah merupakan sebuah kehormatan besar jika kita menerima panggilan untuk melayani Tuhan.

Diselamatkan untuk menyelamatkan, diberkati untuk memberkati, diberi untuk memberi

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.