Disebut “Trappist”, karena Mengadopsi Nama Biara La Grande Trappe di Perancis

Biara La Grande Trappe di Normandie dan para rahib Trappist di Pertapaan Trappist Santa Maria Rawaseneng, Kabupaten Temanggung. (Ist)

PERTAPAAN Santa Maria di tlatah perbukitan Rawaseneng yang jauh dari keramaian di pelosok Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah akrab dikenal dengan sebuatan Biara Trappist. Begitu lupa Pertapaan OCSO di Lamanabi, Keuskupan Larantuka,  di Flores Timur juga disebut Biara Trappist.

Kemudian, di lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Desa Gedono, ada juga Pertapaan Bunda Pemersatu yang menyebut diri Trappistin untuk hunian bagi para rubiah Trappistin (perempuan).

Baca juga: 

Nama OCSO

OCSO merupakan akronim  dari  Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae. OCSO adalah sebuah tarekat religius katolik berkategori “Ordo” (untuk membedakan dengan kategori Kongregasi) yang para anggotanya melakoni hidup kontemplatif yakni dengan berdoa, sembari bekerja seperlunya guna menghidupi dirinya.

Para rahib dan rubiah Trappist/Trappistin ini hidup mengikuti regula (aturan) spiritualitas Santo Benedictus. Karena itu, semua rahib pengikut/penganut spiritualitas St. Benedictus lalu disebut Benediktin.

Mereka hidup untuk berdoa dan bekerja seperlunya di balik tembok biara (klooster) dan membatasi diri untuk berkomunikasi dengan orang-orang luar. Maka dari itu, para tetamu yang datang mengunjungi Pertapaan Trappist di Rawaseneng atau di Lamanabi Flores dan Pertapaan Trappistin di Gedono hanya boleh menginjak kawasan terbatas. Selebihnya, ruang dalam Biara ini ‘steril’ dari kaki para pengunjung alias tidak diperbolehkan memasuki ruangan-ruangan dalam di biara yang berlabel Trappist atau Trappistin ini.

La Grande Trappe di Normandie

Tetapi mengapa OCSO mengadopsi nama Trappist/Trappistin?

Nama “Trappist” itu berasal dari nama lokasi Biara Pertapaan La Trappe or sering disebut La Grande Trappe yang berdiri sejak tahun 1664 di Soligny-la-Trappe, Orne, France. Di kawasan Normandie di bagian Perancis Barat Daya yang langsung berbatasan muka dengan daratan Inggris inilah, Ordo OCSO lahir.

Ordo Trappist ini lahir sebagai reaksi atas kendornya hidup monastik (biara) yang sebelumnya dilakoni oleh para rahib Cistersiensis. Di La Trappe hiduplah Armand Jean le Bouthillier de Rancé.

Sosok itulah yang pertama kali  menggelorakan semangat ‘reformasi’ hidup monastik di La Trappe ini.  Sebelumnya, ia adalah tokoh awam yang justru hidup dengan memungut cukai dari biara-biara monastik Cistersiensis di bekas Provinsi Normandie (Normandia). Namun, setelah ‘bertobat’ dan masuk Cistersiensis, De Rancé malah mereformasi hidup para rahib Cistersiensis.

Pada tahun 1893, kelompok Reformis Cistersiensis ini minta izin kepada Paus agar bisa menjadi sebuah komunitas religius yang mandiri. Atas restu dan izin Paus,  maka sejak itu para rahib Cistersiencsi ini menyebut diri “Trappist” karena tinggal di Biara La Grande Trappe.

Kaul stabilitas

Berbeda dari tarekat-tarekat religius lainnya yang mengikrarkan tiga kaul yakni kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan, maka para rahib/rubiah OCSO –selanjutnya menyebut diri Trappist atau Trappistin–  mengikrarkan tiga macam kaul yakni stabilitas (hidup permanen di sebuah biara tertentu), kesetiaan mengikuti cara lakon hidup gaya monastik/biara, dan ketaatan kepada Pemimpin Gereja dan Ordo (Romo Abbas).

Irit bicara

Dalam akronim OCSO ada kata-kata yakni “Strictioris Observantiae”.

Dua kata ini mengacu pada regula Santo Benediktin yang menginginkan para rahibnya sangat “irit bicara”. Karena itu, selain melakoni hidup kontemplatif dalam doa dan karya, para rahib dan rubiah Trappist/Trappistin menjalani hari-harinya dengan sangat irit bicara. Mereka diharapkan selalu setia menjaga keheningan dalam biara dengan tidak mau banyak bicara, bahkan kepada sesama rahib dan rubiah.

Banyak bicara dan kemudian memecah keheningan, demikian argumen Santo Benedictus, itu membuat orang bisa ‘tuli’ dan kurang peka ‘membaca’ dan ‘merasakan’ denyut kehendak Tuhan dalam keseharian hidup.

avatar Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Konsultan Media & Communication di lembaga internasional mhariyadi@sesawi.net, mathias.hariyadi@gmail.com

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.