Dipandu Damai Sejahtera

Ayat bacaan: Kolose 3:23
=====================
“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.”

Pernahkah anda merasa kehilangan damai sejahtera dalam melakukan sesuatu? Secara pribadi anda merasa benar dalam melakukan sesuatu itu, tapi anda tidak lagi merasakan damai sejahtera, atau bahkan gelisah. Saya dahulu pernah mengalaminya, dan ada seorang teman juga yang baru saja mengalami hal yang sama. Sejak awal ketika ia mengambil sebuah keputusan ia merasa ada sesuatu yang tidak kena. Ia tidak nyaman, merasa sepertinya ada yang mengganjal dalam hatinya tapi ia terus saja menjalankannya. Pada akhirnya ia sadar bahwa ia telah mengambil keputusan yang salah. Sayangnya itu baru ia sadari setelah ia mengalami kerugian yang tidak sedikit akibat investasi yang ia keluarkan.

Ada kalanya kita mengikuti pikiran kita sendiri tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Tuhan dan meminta persetujuanNya. Atau kalaupun kita bertanya, kita seringkali memaksa Tuhan untuk menyetujuinya. Kita berpikir bahwa itulah yang terbaik buat kita, mungkin karena tergiur melihat keuntungan yang dijanjikan begitu besar, segan menolak atau alasan lain. Kita terus melanjutkannya meski hati nurani kita sebenarnya tidak setuju dengan itu. Dan pada akhirnya ketika kita mengalami kerugian akibat keliru dalam mengambil keputusan, kita pun teringat bahwa sebenarnya ketika menjalaninya Roh Kudus sebenarnya sudah berulang kali berbicara menasihati kita. Tuhan selalu siap mengingatkan manusia dengan berbagai cara, termasuk lewat ketukan dalam hati kita. Tapi tetap saja semua itu tergantung kita juga, apakah kita mendengarkan dan mau menuruti atau beranggapan bahwa kitalah yang paling tahu apa yang terbaik buat kita. Salah satu caranya biasanya bisa ditandai dengan ada tidaknya damai sejahtera dalam hati kita ketika kita memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Ketika kita mengambil sebuah tndakan lalu menyadari bahwa kita tidak lagi meraakan damai sejahtera atau tenteram mengenai tindakan itu, apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Hal yang terbaik tentunya adalah segera berhenti. Tetapi yang sering terjadi kita terus melanjutkan meski damai sejahtera tidak lagi kita rasakan. Kepalang tanggung, terlanjur basah, atau keuntungan terlalu memikat untuk dilewatkan, itu bisa menjadi alasan. Pada akhirnya nanti kita akan menyesal, tetapi pada saat itu kerugian baik secara materi atau lain-lain sudah terlambat untuk dicegah.Ingatlah bahwa tuntunan batin dari Roh Kudus bisa membawa rasa kegelisahan atau damai kepada kita. Ini adalah sesuatu yang harus kita pikirkan dengan cermat. Bagi orang percaya, Yesus sudah mengutus Penolong yakni Roh Kudus untuk menyertai kita selama-lamanya. “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” (Yohanes 14:16-17). Roh Kudus akan membantu mengingatkan kita, menegur, menasihati dalam kelemahan kita, termasuk di dalamnya membantu kita untuk menyampaikan kepada Allah tentang keluhan-keluhan yang tidak lagi bisa terucapkan oleh kita. (Roma 8:26). Jika anda termasuk orang yang peka, anda akan merasakan betapa seringnya Roh Kudus memberitahukan banyak hal lewat batin kita. Itu adalah salah satu cara yang kerap dipakai oleh Tuhan untuk membimbing anak-anakNya. Tetapi kehendak bebas yang Dia berikan kepada kita membuat kita bisa memilih untuk patuh atau tidak terhadap suaraNya.

Sebuah ayat dalam surat Kolose bisa kita jadikan landasan akan hal ini. “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” (Kolose 3:15). Dalam versi BIS kita bisa melihatnya dengan lebih jelas. Disana dikatakan:“Hendaklah keputusan-keputusanmu ditentukan oleh kedamaian yang diberikan oleh Kristus di dalam hatimu.” Lihatlah bahwa rasa damai sejahtera Kristus bisa menjadi pemandu kita. “Let the peace (soul harmony which comes) from Christ rule (act as umpire continually) in your hearts [deciding and settling with finality all questions that arise in your minds, in that peaceful state]” (English AMP). Dari ketiga versi di atas kita bisa melihat jelas bahwa damai sejahtera Kristus seharusnya menjadi penentu dalam pengambilan keputusan. Masalahnya tinggal pada kita, apakah kita cukup peka untuk mendengar atau merasakannya, mau taat atau menolak.

Damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Yesus Kristus berulang kali dinyatakan oleh Paulus terutama dalam penutup surat-suratnya. Lihatlah pada akhir surat Galatia, Efesus Filipi, Tesalonika dan Timotius selain pada Kolose, Paulus selalu menyatakan hal yang kurang lebih sama: “Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.” Yohanes menyatakan itu juga dalam suratnya: “Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.” (2 Yohanes 1:3) Petrus pun sama. “Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus. Amin.” (1 Petrus 5:14b). Damai sejahtera dari Bapa dan Kristus akan selalu menyertai kita, tinggal lagi kitalah yang memilih apakah kita mau menerima atau menolaknya, apakah kita mau menjadikannya sebagai pemandu bagi langkah, pengambilan keputusan kita atau justru mengabaikannya.

Sangatlah penting bagi kita untuk bisa mendengar baik-baik suara Tuhan. Kita tidak boleh membiarkan diri kita terus terlalu sibuk dengan rutinitas kehidupan dunia sepanjang waktu. Kita harus mulai berpikir untuk memberi Tuhan waktu dan perhatian kita secara khusus dan serius. Tanpa itu kita tidak akan memiliki kepekaan yang cukup terhadap suara Tuhan, atau malah kita akan hidup tanpa pernah memiliki damai sejahtera sama sekali di dalam diri kita. Selain itu ingat lupa bahwa ayat bacaan kita hari ini ditutup dengan peringatan agar kita senantiasa mengucap syukur. “..Dan bersyukurlah!” Jangan anggap remeh akan hal ini. Berhati-hatilah agar kita tidak dikuasai oleh kekesalan, kejengkelan, amarah dan sebagainya akibat berbagai urusan dalam hidup ini. Itu semua bisa menjadi penghalang yang akan membuat kita sukar untuk menerima panduan Roh Kudus. Berilah penghargaan dan ucapan terima kasih kita kepada Tuhan. Dengan memiliki hati yang bersyukur, anda akan mendapati bahwa jauh lebih mudah untuk mendengar suaraNya jika Dia berbicara dan merasakan damai sejahtera daripadaNya. Lalu sebelum anda memutuskan untuk melakukan sesuatu, berdoalah agar Tuhan memberitahukan apakah tindakan tertentu yang ingin anda lakukan tersebut sesuai dengan kehendakNya atau tidak.

berhentilah segera jika anda tidak merasa damai sukacita dalam melakukan sesuatu

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.