Dimahkotai Kemuliaan dan Hormat

Ayat bacaan: Mazmur 8:6
===================
“Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.”

Ada begitu banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya diciptakan dengan teramat sangat istimewa. Entah akibat tekanan hidup, kesulitan ekonomi, tinggal di pelosok terpencil dan sebagainya mereka pun kemudian menganggap bahwa mereka cuma orang yang tidak berharga. Hari ini saya bertemu dengan seseorang yang berasal dari desa. Ia terus menunduk tak berani menatap wajah lawan bicaranya, bahkan lebih parah lagi ia tidak mau duduk di kursi melainkan hanya di lantai. Ketika diminta untuk pindah ke kursi ia berujar, “Saya cuma orang rendahan pak, tidak pantas duduk di atas kursi seperti majikan.” Aduh, betapa tidak teganya melihat orang yang berpikir seperti ini terhadap dirinya sendiri. Dalam kesempatan lain saya pun sudah bertemu dengan banyak orang yang mengira bahwa masa lalu yang kelam membuat dirinya sangatlah rendah dan hina. Saya pernah kaget ketika ada seseorang yang berkata bahwa dirinya lebih rendah dari hewan sekalipun. Ini bukan saja tidak sehat bagi hidupnya sendiri, tetapi sebenarnya juga merupakan sebuah pengingkaran terhadap gambaran manusia dalam benak Tuhan ketika Dia menciptakan kita.

Mengapa demikian? Alasannya jelas. Alkitab sudah dengan sangat tegas berkata bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang istimewa dalam begitu banyak kesempatan. Salah satunya bisa kita lihat lewat Daud dalam kitab Mazmur. Pada suatu kali ketika Daud sepertinya sedang menerawang memandang langit di malam hari yang dipenuhi bintang-bintang, ia berkata “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:4-5). Dibandingkan keindahan langit penuh bintang dan cahaya bulan yang ada di depan mataku, siapakah aku sebenarnya menurutMu dan seperti apa aku dan manusia di mataMu sesungguhnya? Seperti itulah pemikiran Daud pada saat itu. Lalu Daud melanjutkan,  “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.” (ay 6). Tidak terkira keindahan dan kesempurnaan alam semesta ini diciptakan. Bunga-bunga, bentangan awan biru dan kerlap kerlip bintang di malam hari, pesona keindahan alam di setiap belahan dunia, itu adalah sebuah anugerah yang tidak terbantahkan. Tetapi tetap manusia Dia ciptakan berbeda, teristimewa dibandingkan ciptaan-ciptaan lainnya. Kita diciptakan dengan dimahkotai kemuliaan dan hormat, dibuat mirip Allah, memiliki citra Allah dalam diri kita. Kita dibentuk secara unik dari debu tanah langsung dari tanganNya, lalu Dia sendiri menghembuskan nafas hidup ke dalam kita. (Kejadian 2:7). Itu menyatakan dengan jelas bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang teristimewa, jauh lebih istimewa dibanding ciptaan lainnya. Dan kepada kita diberikan kuasa. Daud mengatakannya seperti ini: “Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.” (Mazmur 8:7). Kalau kita menyadari hal ini, tidak seharusnya kita menilai rendah diri kita sendiri atau orang lain.

Petrus menyebutkan hal yang sama. “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” (1 Petrus 2:9). Lihatlah jati diri kita lewat ayat ini. Kita disebutkan sebagai yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa kudus, milik Allah sendiri. Sebegitu istimewanya kita diciptakan. Tetapi dari ayat ini ingatlah bahwa kita punya tugas untuk menyatakan kemuliaan Tuhan pula di dunia. Menjadi penyampai berita perbuatan-perbuatan besarNya. Menjadi sosok anak-anak terang yang mewakili nama baik Bapa kita, Raja diatas segala raja. Kita dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, kita terpilih sebagai imamat yang rajani, kehidupan kita pun seharusnya mencerminkan prinsip Kerajaan dan menggambarkan citra Sang Raja. Kita diciptakan dengan tujuan mulia secara istimewa.

Karenanya berhentilah menilai rendah siapapun termasuk diri sendiri karena Tuhan tidak pernah menciptakan kita asal-asalan atau tanpa makna. Justru kita diciptakan spesial, dimahkotai kemuliaan dan hormat, ditujukan untuk menjadi imamat yang rajani yang siap untuk memberitakan segala kebaikan Tuhan dan perbuatan-perbuatan besarNya. Oleh karena itu kita harus belajar untuk hidup sesuai prinsip Kerajaan, menjadi anak-anak Allah yang benar-benar menghidupi segala hak-hak yang telah diberikan kepada kita dan melakukan tanggung jawab kita pula. Sudahkah kita benar-benar menghayati jati diri kita sebagai ciptaan spesial yang segambar dengan Allah?

We are the crown of creation

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.