Dihukum Tanda Sayang

Ayat bacaan: Ibrani 12:7
========================
“Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?”

Orang tua yang baik akan mendisiplinkan anaknya terlebih pada masa-masa pertumbuhan. Anak kecil biasanya belum begitu paham mana yang baik dan mana yang buruk. Selain itu mereka pun rentan terhadap penyimpangan-penyimpangan kebenaran di luar sana yang kalau tidak hati-hati bisa menjerumuskan mereka kepada berbagai kesesatan dunia. Ada satu cara mendidik yang saya anggap baik dilakukan oleh teman saya terhadap anaknya. Setiap kali anaknya melakukan kesalahan, ia akan menjelaskan terlebih dahulu apa yang salah, kemudian mengingatkan si anak bahwa ia harus dihukum tapi hukuman bukan ditujukan kepadanya melainkan kepada kesalahannya. Si anak tetap menjalani hukuman tapi tidak harus sakit hati. Anaknya tetap dekat dan akrab karena tahu bahwa hukuman bukanlah merugikan melainkan demi kebaikannya sendiri.

Ada banyak anak yang melawan ketika diingatkan dan cepat merasa sakit hati saat harus dihukum. Mereka tidak melihat itu sebagai pelajaran berharga dan menganggap orang tuanya hanya tidak suka mereka bersenang-senang, hanya karena iri atau jahat. Mereka tidak sadar bahwa pada suatu ketika nanti mereka bisa tumbuh menjadi orang-orang yang tidak disukai perilakunya kalau dibiarkan terus melakukan hal-hal buruk sejak masa kecil. Anak kecil terlahir bagai buku kosong, maka adalah tugas dan tanggung jawab orang tua untuk mengisi hal-hal baik sesuai kebenaran Firman Tuhan kepada anak-anak mereka sejak dini. Kalau didikan orang tua yang terkadang apabila perlu hadir berupa hukuman itu sangat penting, Tuhan sebagai Bapa kita juga perlu mendidik kita anak-anakNya, kalau perlu ada hukuman atau ganjaran yang harus kita terima dengan lapang dada sebagai konsekuensi atas kesalahan kita. Itu bisa terasa menyakitkan, tetapi Tuhan melakukannya bukan karena ingin menyakiti atau bertindak kejam melainkan karena Dia mengasihi kita dan tidak ingin satupun dari kita binasa.

Sebagai manusia, kita memiliki kemampuan berpikir yang terbatas. Ada kalanya kita tidak mengerti apa yang menjadi rencana Tuhan, dan kemudian menjadi bingung. Akibat ketidakpahaman ini kita bisa jadi memprotes Tuhan, menganggap Tuhan tidak adil, atau bahkan menyalahkan Tuhan ketika Dia sepertinya mengijinkan hal-hal yang “aneh”, yang mungkin memberatkan, untuk terjadi dalam kehidupan kita. Ketika kita merasa berada dalam pihak yang menjadi korban misalnya, terkadang Tuhan malah menyuruh kita untuk memulai perdamaian terlebih dahulu. Ada hal-hal yang secara manusiawi sulit kita terima pada saat-saat tertentu. Ketika Tuhan mendisiplinkan kita, dan itu sakit rasanya, kita pun bisa berteriak dan menganggap Tuhan terlalu keras atau pilih kasih. Ketika Dia menghukum kita, kita menganggap bahwa Tuhan berlaku kasar dan tidak sesuai dengan sosokNya yang penuh kasih. We tend to take everything only according to our thoughts and knowledge. Tapi kita harus tahu bahwa terkadang kita butuh teguran bahkan hukuman, sekali lagi bukan dengan tujuan menyakiti kita, melainkan untuk membangun diri kita agar menjadi layak di hadapanNya, seperti apa yang Dia rindukan bagi kita semua.

Penulis Ibrani melukiskan serangkaian penjelasan mengenai bentuk pendisplinan dan pengajaran Tuhan. “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:5-6). Tuhan menegur kita bukan karena kejam, namun justru karena Dia mengasihi kita. Justru karena kita dianggapNya sebagai anak-anakNya, yang harus diajar agar benar hidupnya, tidak melenceng sana sini. Kalau anak-anak kita yang masih kecil pun harus kita ganjar dengan hukuman sekali waktu, agar mereka bisa belajar dari kesalahannya dan tidak mengulangi lagi, kenapa kita tidak?

Betapa inginnya Tuhan menjadikan kita anak-anakNya yang tidak bercela. “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” (ay 7,8). Bukan saat kita ditegur dan didisplinkan kita harus bersedih, tapi seharusnya kita sedih kalau Tuhan justru tidak menunjukkan teguran apapun dan membiarkan kita terus terseret arus kesesatan semakin jauh dan semakin dalam.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Kita sering melihat ayat ini dan menganggap bahwa ini adalah ayat yang berbicara hanya soal “kebaikan” menurut pandangan kita, seperti kenyamanan, pertolongan Tuhan, hidup tanpa masalah, limpahan berkat materi dan finansial dan sebagainya. Tapi ingatlah bahwa sebentuk teguran, peringatan atau hukuman, lembut atau keras, semua itupun termasuk hal-hal yang bertujuan untuk mendatangkan kebaikan. Kita ditegur agar lebih baik, kita dimarahi agar tidak terus melakukan kesalahan, kita dihukum agar tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Itu juga mendatangkan kebaikan. Yang pasti, Tuhan menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak, menghajar anak-anakNya agar menjadi pribadi yang benar, sehingga layak di hadapanNya dan layak menerima janji-janjiNya. Tidak selamanya hidup ini mudah dan menyenangkan.

Ada masa-masa dimana kita harus menangis akibat penderitaan atau kegagalan. Tapi jangan menyerah, jangan putus asa. Yakobus mengingatkan hal ini, dan menganjurkan agar kita merasa beruntung dan tetap bertekun ketika mengalami pencobaan. “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:2-4). Jangan mundur, dan jangan sakit hati ketika kita didisplinkan. Bisa jadi ada “masa-masa di padang gurun” yang harus kita lewati agar layak memasuki “tanah terjanji”. Malam ini, bersyukurlah atas pergumulan atau permasalahan yang tengah Dia biarkan untuk terjadi dalam kehidupan kita. Tetaplah bertekun hingga memperoleh buah yang matang, hingga anda kembali ke jalur jalan yang benar dan bisa mencapai garis akhir dengan kemenangan yang gilang gemilang. Pada saatnya, anda akan diangkat keluar dan dinyatakan lulus sebagai manusia baru yang telah layak untuk menerima kemuliaan Tuhan.

Bersyukurlah ketika ditegur Tuhan, karena itu tandanya kita dikasihi sebagai anak

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.