“Digital Native” untuk Para Pegiat Gereja

ambon1
“Digital Native” untuk Para Pegiat Gereja 0By Kevin Sanly Putera onJune 27, 2016KOMSOS KWI

PELATIHAN Public Speaking di Saumlaki dimulai. Bertempat di aula depan Gereja Tritunggal Mahakudus, Saumlaki, pelatihan dimulai hari ini sampai besok (28/6) dan difasilitasi oleh Errol Jonathans, Direktur Radio “Suara Surabaya”.

Dalam arahannya kepada para peserta yang terdiri dari para imam, ketua Dewan Pusat Paroki, Ketua Dewan Pusat Stasi dan Ketus Seksi Liturgi,  Romo Yan Alubwaman, Pr., Wakil Uskup Wilayah Maluku Tenggara Barat(MTB) & Maluku Barat Daya(MDB) – Keuskupan Amboina, mengatakan pada pengantarnya, “Pelatihan ini penting karena kita dapat belajar tampil lebih baik di depan umat: dengan mengetahui cara, dasar, termasuk penguasaan diri dan naskah.”

Romo Kamilus, Pr. mengawali sesinya dengan sebuah anekdot. “Seorang ibu yang baru saja melahirkan di rumah sakit: apa yang dia cari pertama? Handphonenya, bukan bayinya. Ia langsung men-update statusnya,” kata Romo Kamilus disambut tawa.

Sekretaris Eksekutif Komsos KWI ini menggunakan istilah digital native untuk mengekspresikan generasi yang lahir ketika teknologi modern sudah ada. “Anak kecil sekarang sudah pandai menggunakan gadget, sebagai generasi dulu, kita harus belajar supaya tidak tertinggal,” kata Romo Kamilus.

Ia menambahkan, menciptakan sebuah katekese yang tidak membosankan adalah tantangan baru. “Kita tidak bisa menyalahkan umat bila mereka bosan dengan teknik penyampaian buku. Bila kita mau belajar dengan teknik seperti audio visual, mereka cenderung lebih tertarik,” jelasnya kepada 70 peserta pelatihan ini.

“Orang menyapa dari hati ke hati, itulah perjumpaan yang sejati, itulah komunikasi yang diharapkan oleh Paus,” ungkap Romo Kamilus. Tidak penting seberapa panjang pesannya, tapi siapa martabat manusia objek komunikasi kita.

====

Editor: John Laba Wujon

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.