Di Tasmania, Sehari-hari Rasanya Libur Panjang tanpa Henti (17)

< ![endif]-->

BENUA Australia resmi dalam catatan sejarah “ditemukan” oleh Captain Cook pada tahun 1977. Namun Pulau Tasmania yang merupakan wilayah di ujung paling selatan dan berada jauh terpisah dari Benua Kangguru ini ternyata lebih dahulu eksis dalam catatan sejarah.

Pulau Tasmania  ditemukan oleh seorang penjelajah Belanda bernama Abel Janszoon Tasman.

Menurut catatan sejarah,  untuk pertama kalinya Abel Tasman berhasil membuang sauhnya di Macquarie Harbour of West Tasmania pada tanggal 24 November 1642. Ia berlayar ke arah “Timur” dari kawasan Barat (Eropa dan Hindia Belanda) membawa misi dagang VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) yang tahun-tahun itu sudah berkecimpung di Indonesia.

Abel Tasman miniatur kapal 0k

Menjadi Tasmania

Semula, pulau baru yang baru saja dia “temukan” itu dia namai sebagai “Tanah” Kepunyaan Meneer Anthony van Diemen untuk mengingatkan nama sponsor perjalanannya. Van Diemen kala itu  menjabat Gubernur Jenderal untuk Hindia Belanda (yang nantinya bernama Indonesia).

Pada tanggal 1 January 1856 Tanah Van Diemen ini lalu  berubah namanya menjadi Tasmania. Sebuah tugu peringatan lengkap dengan seni instalasi berupa kapal-kapal layar berdiri megah tak jauh dari Salamanca Market dan David’s Park di Hobart, menandakan pentingnya jejak kaki Albel Tasman di Pulau Tasmania yang indah ini.Albert Tasman Garden di Hobart ok

Sehari-hari libur

Bagi masyarakat setempat, Tasmania memanglah merupakan satu pulau indah di ujung paling selatan Australia dimana “sehari-hari terasa sebagai liburan panjang”.

Kata Cathy, teman kami di Dover di ujung selatan Tasmania, “Here in Tasmania, everyday is vacationing.”

Dulu, Tasmania lazim menyebut diri sebagai Island of Inspiration. Kemudian, oleh masyarakat luas dikenal sebagai pabrik dan produsen apel berkelas hingga mendapat julukan sebagai The Apple Isle. Bahasa selorohan lalu menyebut Tasmania dengan tassie, dialek slang orang-orang Australia.

Sebagai sebuah negara bagian Australia, Tasmania mengambil motto berbunyi ubertas et fidelitas yang berarti kesuburan dan kesetiaan. Tentu saja, semboyan ini bukan tiada artinya karena tanah di pulau besar ini memang subur dimana banyak buah-buahan tubuh lebat di sini. Sementara, kesetiaan terbaca dari komitmen warga Tasmania untuk tetap ‘setia’ kepada negara ‘induknya’ yakni Inggris dan tentunya negara federalnya: Australia.

Hobart orangtua duduk di David's ParkDengan rentang jarak dari utara menuju selatan sepanjang kurang lebih 364 km dan jarak 306  km membentang dari bujur barat menuju timur, maka Tasmania menjadi surga dunia untuk para penduduknya. Menurut data terakhir, jumlah penduduk di Pulau Tasmania ini tidak lebih dari 500 ribu kepala.

Teramat sepi. Dan justru karena sepi, bebas polusi, iklim sejuk dan tanah subur inilah yang membuat banyak orang pensiun sengaja memilih Tasmania sebagai ‘tempat peristirahatan terakhir’ sebelumnya akhirnya benar-benar istirahat kekal.

Beberapa orang tua di Brisbane di Negara Bagian Queensland, juga di Sydney yang termasuk wilayah administratif  Negara Bagian New South Wales dan di Melbourne yang termasuk bagian pemerintahan Negara Bagian Victoria dengan tegas menyebutkan, Tasmania adalah surga dunia manakala menikmati masa-masa pensiun. Di ujung bagian paling barat di Australia, kota indah Perth yang termasuk Western Australia juga termasuk wilayah paling enak untuk menjadi kemah terakhir menikmati masa tua.

House for sale in Foreshore of Esperance BayNamun dibanding Perth yang tahun-tahun ini mulai sibuk dengan aktivitas kota metropolis dan apalagi juga ada kasino dan judi di Burswood, Tasmania jauh lebih ‘perawan’. Ini dalam pengertian, kawasan Tasmania lebih sedikit penduduknya, alamnya bersih dan indah, serta tidak ada polusi udara. Sepanjang jalur Hobart ke Dover sepanjang hampir 85 km, laju kendaraan yang saya tumpangi  tidak banyak bertemu kendaraan lain.

For sale

Kawasan perbukitan dan pinggir pantai menjadi lokasi paling favorit untuk menikmati hari-hari libur sangat panjang di Tasmania.  Di sepanjang jalan, sekalipun termasuk di pinggiran hutan sekalipun, banyak berdiri plang-plang nama yang menjajakan rumah atau permukiman baru kepada para peminat yang ingin tinggal menetap di Tasmania.

Menurut Kevin, seorang pensiunan pegawai negeri yang kini tinggal di Dover, mayoritas orang menyukai Tasmania karena faktor alamnya yang sangat indah. Polusi udara nyaris tidak ada, selain sisa kepulan asap mobil. Motor di jalanan di luar Hobart dan mungkin Launceston juga tidak banyak. Sepeda onthel barangkali barang langka di sini karena tekstur wilayahnya yang naik-turun mengikuti irama permukaan wilayah perbukitan dan dataran tinggi.

Hawanya sejuk sekali, sekalipun pada musim panas seperti hari-hari di bulan Desember 2013 ini. Kala musim dingin, suhu udara bisa mencapai angka minus 3-4 derajad Celcius: luar biasa freezing untuk kulit orang Indonesia. Sesekali ada hujan, namun seperti kata Cathy, hujan di Tasmania seperti ‘semburan’ air mandi melalui shower saja. Jadi, tidak pernah deras dan sebentar kemudian lalu berhenti untuk memberi kesempatan matahari menunjukkan kegarangannya kembali.

Rumah bagus di Foreshore of Esperance Bay 1

Di hari-hari menjelang berakhirnya tutup tahun 2013, Tasmania kembali bergoyang dengan sejumlah program menarik di akhir tahun yang berpusat di Hobart. Selain event skala internasional berupa perlombaan perahu layar menempuh jalur Sydney-Hobart yang sudah mendunia itu, Hobart tahun ini menggelar event berlabel The Taste of Tasmania.

Inilah salah satu cara untuk mendongkrak popularitas Tasmania yang dikenal di Australia sebagai pulau indah dimana libur panjang serasa tiada habisnya.

Photo credit: Tasmania, Australia (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.