Derita Jenilia Tahaf, Himpitan Ekonomi Berujung Maut

KISAH sedih menimpa keluarga Jenilia Tahaf, anak SEKAMI Paroki Mena, pada Selasa (11/10/2016). Derita berujung maut bermula ketika sepanjang tahun 2015-2016 badai el nino menimpa Mena-Kaubele wilayah Pantai Utara Kab. TTU – NTT, tempat domisili Jenilia dan keluarga.

Badai yang ditandai dengan rendahnya curah hujan tersebut, menyebabkan kekeringan berkepanjangan. Akibatnya daerah yang sebagaian besar penduduknya bermata pencaharian petani ini terpaksa harus menderita gagal tanam dan gagal panen. Persawahan yang luas membentang tidak berfungsi apa-apa karena curah hujan yang sangat rendah tersebut.

Saudara (alm)Jenilia, ibu dan nenek, sedang berjaga/Foto : RD BoweSaudara (alm)Jenilia, ibu dan nenek, sedang berjaga/Foto : RD Bowe

Mengalami situasi yang demikian, orang tua Jenilia harus membanting setir mencari kerja untuk menafkahi keluarga. Yasintus Abatan, ayah Jenilia coba bekerja sebagai tukang kayu dengan membuat meja dan tempat tidur. Namun pekerjaan ini tidak terlalu menjanjikan karena penghasilannya tidak seberapa.

Kondisi Ekonomi Rumah Tangga yang labil

Melihat situasi perekonomian yang semakin parah, Yasintus memutuskan untuk pergi mencari kerja di Papua. Hal ini ia putuskan karena ada beberapa kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi. Pertama, persediaan makanan yang sudah habis. Kedua, kebutuhan untuk biaya sekolah anak-anak. Ketiga, kebutuhan untuk persiapan penerimaan sakramen ekaristi (Komuni Pertama) bagi dua kakak laki-laki Jenilia. Ketiga alasan ini menjadi dasar yang kuat bagi Yasintus untuk pergi ke Papua. Alhasil ia berangkat ke Papua, pada Selasa (16/08/2016). Sesuai rencana, Yasintus akan bekerja di sana selama dua tahun.

Dukungan keluarga dan tetangga dalam doa dan kebersamaanDukungan keluarga dan tetangga dalam doa dan kebersamaan

Selepas setelah kepergian Yasintus, keadaan ekonomi keluarga bukannya makin membaik, justru makin parah. Yasintus pergi dengan meninggalkan istri dan ke-4 anaknya. Masing-masing bernama Arkadius Tahaf, Yohanes Tahaf, Jeremus Tahaf dan Jenilia Tahaf. Selain 4 anak yang ditinggalkan tersebut, ada juga anak sulungnya yang saat ini sedang berada di Kalimantan Selatan.

Paceklik Makanan, Biaya Komuni Pertama & Ketiadaaan Biaya Kesehatan

Sejak kepergian Yasintus ke Papua, Marta Meko, sang istri harus menjadi single parent bagi Jenilia dan kakak-kakaknya. Kondisi ini sangat riskan. Betapa tidak, menurut penuturan salah satu tetangga mereka, Marta Meko harus berjalan dari rumah ke rumah untuk mencari pekerjaan yang bisa mendatangkan sesuap nasi bagi dia dan anak-anaknya.

“Kami kasihan sekali dengan Mama Marta. Dia selalu ke rumah untuk minta pekerjaan supaya bisa memberi makan kepada anak-anaknya. Karena tidak ada pekerjaan, biasanya kami bantu dia dengan memberikan beras 1-2 kilo”, kata seorang ibu yang enggan menyebutkan namanya.

Kesusahan keluarga Jenilia makin menjadi-jadi manakala kedua kakaknya Yohanes Tahaf & Jeremus Tahaf dituntut untuk membereskan administrasi keuangan untuk persiapan penerimaan Komuni Pertama. Pada saat bersamaan, Jenilia jatuh sakit. Ibu Jenilia kebingungan. Mau mengurus perut atau anak-anak yang lagi persiapan menerima Komuni Pertama atau Jenilia yang sedang sakit? Keluarga Jenilia sungguh diperhadapkan pada Salib hidup yang begitu berat.

Dengan keterbatasan SDM dan uang yang terbatas, ibu Jenilia pergi membeli obat seadanya di kios terdekat. Entahkan obat itu cocok untuk penyakit yang diderita oleh Jenilia, itu tidak menjadi perhatiannya. Baginya yang penting Jenilia dikasih obat. Alhasil, selama tiga hari Jenilia kelihatan sembuh. Ia bahkan sempat menemani kakek dan neneknya pergi menerima komuni bagi para jompo yang diberikan oleh Frater TOP Paroki Mena di rumahnya Ketua Lingkungan mereka.

Setelah sembuh dari sakit, Jenilia kembali beraktivitas seperti biasa. Bocah berusia 3 tahun ini seperti biasa menemani ibunya mencari sesuap nasi di rumah tetangga. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pada hari Sabtu (08/10/2016) secara mengejutkan Jenilia jatuh sakit lagi. Badannya meriang dan kejang-kejang. Beruntung ada tetangga yang baik hati mencoba menolong dengan mengantarnya ke Puskesmas terdekat.

Dari puskesmas, Jenilia dirujuk ke RSUD. Mgr. Gabriel Manek- Atambua. Sampai di sana, ia ditempatkan di ruang ICU selama tiga hari. Sayangnya, nyawa Jenilia tidak tertolong. Rupanya kondisi Jenilia sangat kritis, sehingga maut menjemputnya. Fakta menarik terjadi pada detik-detik terakhir kematian Jenilia. Ternyata ia belum dibabtis. Atas bantuan pihak Rumah Sakit, Jenilia akhirnya berhasil dibaptis oleh Diakon Vinsensius Paolo Bria, Pr. Jenilia dibabtis dengan nama Jenilia Tahaf. Ia akhirnya mengembuskan nafasnya yang terakhir pada Selasa (11/10/2016) sekitar pukul 21.00 Wita.

Kejadian mengharukan terjadi ketika hendak mengurus administrasi keuangan. Sesuai dengan standar, biasanya biaya untuk perawatan di ruang ICU selama tiga hari diminta Rp. 2.000.000. “Petugas meminta uang dua juta, tapi saya bilang ini orang susah. Suaminya di Papua. Dia hanya seorang diri mencari nafkah untuk anak-anaknya di rumah. Mereka tidak ada uang. Mau makan saja susah kakak” tutur Ludo Abani kembali menceritakan kejadian malam itu (Selasa, 11/10/2016, Red).

Mendengar penjelasan Ludo itu, petugas langsung memberi informasi kepada kepala ruangan. Dengan serta merta kepala ruangan pun menelpon dokter dan menyatakan bahwa biayanya gratis. Lebih mengharukan lagi, ketika jenazah Jenilia dibawa ke ruang jenazah, sang dokter datang membawa amplop berisi sejumlah rupiah dan memberikannya kepada ibu Jenilia. Dengan bekal uang yang ada, sang single parent itu membawa pulang anaknya, Jenilia dengan derai air mata.

Ketika ditemui di rumah duka pada Rabu malam (12/10/2016), Ibu Jenilia begitu sedih bercampur bahagia. Ia sedih karena Putri semata wayangnya harus pergi lebih dahulu meninggalkan mereka. Ia bahagia karena ada banyak orang yang memperhatikan keluarganya, mulai dari para tetangganya sampai pada para perawat dan dokter di RSUD Mgr. Gabriel Manek-Atambua. Ia juga mengungkapkan kebahagiaannya karena para guru agama, kepala sekolah dan para pastor mau menerima kedua putranya untuk tetap menerima komuni pertama tahun ini.

Data diri
Nama : Jenilia Tahaf
Ortu. : Yasintus Abatan
Marta Meko
TTL. : Kaubele, 07 Juni 2013
Permandian : 11 Oktober 2016
Oleh. : Diakon Vinsensius Paulo Bria, Pr
Saksi. : Kristoforus Molo
Meninggal : 11-10-2016

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.