Dendam Tujuh Turunan

Ayat bacaan: 2 Samuel 9:3
=========================
“Kemudian berkatalah raja: “Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah.” Lalu berkatalah Ziba kepada raja: “Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya.”

dendam

Dendam tujuh turunan, itu dianggap wajar bagi banyak orang yang pernah merasa disakiti atau dirugikan. Dendam itu dipupuk dari satu generasi ke generasi selanjutnya bagaikan tongkat estafet yang berpindah dalam lintasan lomba. Sebisa mungkin dendam itu harus terbalas, kalau tidak mereka akan menjadi arwah penasaran. Apabila musuh terjatuh tanpa kita berbuat apa-apa, itu artinya balasan dari Tuhan yang harus dirayakan dengan sorak sorai atau pesta pora. Mengapa tidak? Bukankah mereka sendiri yang salah telah menyakiti kita? Atau banyak pula orang terus mengutuki orang lain, bahkan tidak jarang pula merasa biasa saja untuk mendoakan yang jelek-jelek. Meminta Tuhan mematikan orang itu dan keluarganya, menjadikan Tuhan seolah pembunuh bayaran untuk membalaskan sakit hati mereka. Dunia menganggap hal ini wajar dan manusiawi, dan ironisnya tidak tertutup kemungkinan sikap memupuk dendam ini diadopsi oleh banyak anak-anak Tuhan sendiri.

Sikap Daud terhadap cucu Saul atau putra Yonatan yang bernama Mefiboset menunjukkan sikap yang seharusnya dimiliki oleh orang percaya. Pada saat itu Saul baru saja tewas di medan perang. Daud lalu menjadi raja yang bertahta atas bangsa Israel. Saul yang begitu membencinya dan sudah membuat hidupnya sulit dalam waktu yang cukup panjang telah tewas. Bukankah ini sebuah kemenangan besar yang seharusnya dirayakan? Kata-kata kepuasan dan kemenangan pun terasa layak untuk diucapkan. Dan bagi orang-orang yang terbiasa hidup dalam kebencian, itulah saatnya untuk membalas dendam habis-habisan atas keluarga yang ditinggalkan. Tetapi perhatikan bagaimana sikap Daud. Daud memilih untuk melakukan sebaliknya, dan ini bisa jadi mengherankan.

Pada suatu kali setelah Daud menjabat sebagai raja, ia teringat akan nasib keluarga Saul. Lantas ia memanggil hambanya. “Kemudian berkatalah raja: “Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah.” (2 Samuel 9:2a). Perhatikan baik kata-kata Daud ini. Ia memikirkan keluarga Saul yang sekiranya masih ada yang hidup. Bukan untuk dihabisi hingga tuntas, tetapi justru untuk dikasihi, sebuah kasih yang hidup di dalam dirinya yang berasal dari Allah. Jika kita mau sedikit mundur ke belakang, kita pun akan menemukan ada saat dimana Daud punya kesempatan untuk membunuh Saul dari belakang. Dalam 1 Samuel 24:1-23 kita membaca kisah itu. Daud pada saat itu tengah dikejar-kejar oleh Saul dan 3000 prajurit untuk dibunuh. Ia sampai harus lari bersembunyi ke padang gurun. Ternyata ketika ia masuk ke dalam sebuah gua, Saul tengah berada disana dengan posisi membelakanginya. Pada saat itu sebuah kesempatan emas terbuka bagi Daud. Para anak buahnya pun berpikiran demikian. Tapi Daud punya sikap hati yang berbeda. Meski ia bisa melakukannya, ia memutuskan untuk tidak memanfaatkan kesempatan. Daud lebih memilih untuk dikuasai kasih dari Allah ketimbang memanfaatkan situasi. Tidak ada dendam dalam hatinya. Dan itu bisa kita lihat dari perkataan Daud. “Lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: “Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.” (1 Samuel 24:7).Tidak hanya itu, Daud pun melarang anak buahnya untuk menyerang Saul. (ay 8).

Sebuah sikap hati seperti ini sungguh langka kita temui hari ini. Terhadap Mefiboset yang merasa rendah diri akibat cacat yang ia derita ditambah nasibnya yang berubah drastis akibat kematian kakek dan ayahnya, Daud memilih untuk menyatakan kasih dari Allah dengan kelembutan dan kerendahan hati. Ia setia terhadap sahabatnya, Yonathan anak Saul, tetap mengingatnya meski ayah Yonathan, Saul begitu jahat terhadapnya. Dan ia pun menghargai Saul sebagai pribadi yang pernah diurapi Allah, meski hidupnya sempat lama susah akibat kejahatan Saul. Selanjutnya Daud mengamalkan sikap hati yang dipenuhi kasih secara langsung lewat perbuatan nyata, bukan hanya di bibir saja. Dalam menghadapi musuh, Tuhan menyatakan bahwa kita tidak boleh membenci mereka. Tidak hanya sekedar tidak membenci, tetapi kita pun harus sanggup mengasihi dan mendoakan mereka. Yesus berkata “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:43-44). Firman Tuhan pun sudah mengingatkan kita agar tidak bersukacita ketika musuh terjatuh.  “Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok” (Amsal 24:17).

Lewat Daud kita bisa belajar untuk tidak mendendam dan tetap menyatakan kasih tanpa tergantung oleh situasi, kondisi atau pengalaman masa lalu. Daud memilih untuk mengingat keluarga Saul yang masih hidup yang pasti menderita dengan dengan kehancuran total seperti itu. Mefiboset yang cacat dan terbuang pun ia panggil untuk tinggal bersamanya bahkan diberi hak untuk makan satu meja dengannya. Mengapa ia melakukan hal itu? Sekali lagi, karena Daud “hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah.” (ay 2a). Orang yang mendendam artinya sama dengan tidak mengenal Allah. Firman Tuhan berkata “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8). Dan kasih tanpa pamrih seperti halnya Tuhan mengasihi kita ini sudah selayaknya diberikan kepada siapapun, termasuk kepada musuh yang sudah berlaku sangat jahat kepada kita. Tidak ada alasan bagi kita untuk menolak memberikan bentuk kasih seperti ini, karena sesungguhnya Allah sendiri sudah mendemonstrasikannya kepada kita. Ditambah lagi kasih dari Allah ini sudah dicurahkan kepada kita lewat Roh Kudus. Kita bisa melihat buktinya lewat kitab Roma: “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5). Sekarang pertanyaannya, apakah kita memilih untuk memakai kasih Allah itu dalam kehidupan kita secara nyata tanpa pandang bulu atau kita menolaknya dengan terus memelihara dendam dan merasa senang ketika musuh kita terjatuh? Daud memilih untuk menghidupi kasih Allah secara nyata dalam kehidupannya. Ia ternyata memiliki pengenalan yang baik akan Allah, dan itu harus menjadi teladan buat kita. Apakah kita masih lebih senang memupuk kebencian dan menunggu saat yang tepat untuk melakukan pembalasan atau mau mulai belajar untuk mengampuni dan mengasihi?

Nyatakanlah kasih yang dari Allah kepada siapapun bahkan terhadap musuh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: