Demikianlah Kakek Saya Menulis Surat

Mendiang kakek saya seorang petani
yang bisa menulis dan membaca.
Anaknya enam merantau semua.

Saya suka memperhatikannya menulis surat.
Di hadapan selembar kertas bergaris-garis ukuran folio,
ia suka tercenung. Tangan kanannya memegang pena biru
tangan kiri menopang kening.

Ia menulis satu-dua buah kalimat dengan sangat hati-hati
lalu tercenung agak lama. Ia menulis satu-dua buah kalimat lagi
lalu tercenung agak lama lagi. Demikianlah seterusnya hingga selesai.

Tulisannya rapi, agak panjang-panjang, agak rebah ke kanan.
Saya lihat suratnya itu seperti sepetak sawah yang subur
ditumbuhi bibit padi, tapi warna biru, umur dua minggu
sedang dibelai angin sore sepoi-sepoi.

“Ananda…”
demikianlah ia mengawali setiap suratnya.
Tidak pernah saya temukan coretan tanda koreksi
atas kesalahan yang ada karena bergesa-gesa.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.