Daud dan Sukacitanya

Ayat bacaan: Mazmur 16:8-9a
======================
“Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak..”

sukacita

Apakah anda termasuk satu di antara banyak orang yang semakin kehilangan kegembiraan hari-hari ini? Ada banyak orang di sekitar saya yang dulunya terlihat ceria sekarang cenderung terlihat murung. Kalaupun senyum itu terlihat dipaksakan karena air muka dan matanya menyiratkan kemurungan. Senyum dan tawa semakin lama semakin menghilang dari raut muka banyak orang. Jika ketika tertawa atau tersenyum mulut melengkung ke atas, sekarang lengkungannya ke bawah. Sinar mata berbinar semakin lama semakin jarang ditemukan. Beberapa teman saya yang tadinya sering bercanda sekarang lebih banyak duduk menghela nafas dan terlihat melamun. Betapa banyak orang yang kehilangan sukacita akhir-akhir ini. Jika melihat hidup yang semakin sulit, itu tidaklah mengherankan. Tetapi itulah sebenarnya sebuah kekeliruan yang seringkali kita buat dalam mencari sukacita. Kita berpikir bahwa sukacita akan otomatis hadir jika hidup tanpa masalah. Tetapi saya pun telah bertemu dengan banyak orang yang tidak merasa bahagia justru di tengah kemewahan mereka. Beberapa hari terakhir saya terus merasa terdorong untuk menulis mengenai sukacita, dan hari ini ijinkan saya untuk menuliskannya sekali lagi.

Menyerahkan perasaan kepada situasi akan membuat kita semakin jauh dari sukacita. Betapa tidak, bukankah hidup ini terasa semakin berat saja? Bagaikan jalan mendaki, semakin lama rasanya semakin curam. Kita akan mudah berkata bahwa kita tidak akan bisa tetap gembira ketika hidup penuh dengan problema, tetapi masalahnya jarang sekali hidup berjalan tanpa masalah. Kita akan berhadapan dengan setumpuk permasalahan, yang terkadang bahkan datang pada waktu bersamaan sekaligus. Dan memang seperti itulah hidup. Jika demikian, bagaimana kita bisa tetap merasakan sukacita meski di tengah kesulitan-kesulitan yang ada dalam hidup kita? Alkitab memberi jawabannya. Sukacita yang bisa membawa rasa gembira dalam hidup bukan tergantung dari kesulitan-kesulitan yang kita alami, melainkan bergantung kepada seberapa jauh kita mengandalkan Tuhan dalam hidup kita, seberapa dekat kita berada denganNya, atau seberapa jauh kita menyadari  keberadaan Tuhan bersama kita.

Kita bisa belajar akan hal ini dari Daud. Daud adalah seorang raja. Tapi status raja ternyata tidak serta merta membuat hidupnya aman dan tenang seratus persen. Daud adalah manusia yang sama seperti kita. Berulang kali Daud mengalami masa-masa sulit bahkan tidak jarang nyawanya terancam. Daud bisa dengan mudah menyalahkan Tuhan jika ia keliru dalam memandang hubungan antara kedekatan dengan Tuhan dan bagaimana kehidupan berjalan. Tetapi Daud tidaklah berpikir demikian. Lihatlah apa yang ia katakan. “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak” (Mazmur 16:8-9). Daud mengerti benar bahwa sukacita dan sorak-sorai bukanlah bergantung dari berat-ringannya situasi yang sedang ia hadapi. Tetapi ia percaya bahwa dengan memandang kepada Tuhan, menyadari kehadiran Tuhan yang selalu berjalan di sebelahnya dengan setia akan membuatnya mampu untuk terus berdiri tegak meski situasi sama sekali tidak kondusif. Bagi Daud, kehadiran Tuhan bersamanya merupakan kunci utama yang membuatnya mampu terus hidup dengan penuh sukacita dan keriangan. Bersama Tuhan dia tidak perlu takut. Bersama Tuhan ada solusi atau jawaban, pertolongan bahkan kemenangan. Bersama Tuhan kita akan selalu bisa bersukacita. Itu disadari Daud, dan itu bisa kita lihat dengan jelas dari tulisan-tulisannya dalam kitab Mazmur.

Apakah anda sedang sulit tersenyum dan sulit merasa bahagia saat ini? Sadarilah bahwa beban kehidupan akan selalu datang silih berganti. Life is hard, and it will always be. Tetapi kabar baiknya adalah, Tuhan mengerti kesulitan kita. Dia mendengar segala teriakan, rintihan dan keluh kesah kita dan sangat peduli terhadap itu semua. Lihatlah apa kata Yesus: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). Tuhan selalu siap menyertai kita, dan selalu siap pula memberi kelegaan bahkan melepaskan kita dari belenggu masalah. Mungkin jawaban tidak langsung hadir sesuai keinginan kita, mungkin kita tidak langsung lepas pada saat ini juga, tetapi jika kita memiliki iman yang teguh kita akan tahu bahwa menaruh harapan pada Tuhan tidak akan pernah berakhir sia-sia. Menaruh pengharapan penuh di dalam Tuhan akan membuat kita tidak mudah goyah meski dalam badai, dan dengan demikian kita tidak harus kehilangan sukacita walau sedang berada dalam keadaan yang tidak baik. Kegembiraan akan membuat banyak hal positif hadir dalam kehidupan kita, sebaliknya hati yang selalu susah akan membuat segalanya tampak buruk. “Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.” (Amsal 15:15). Diperlukan iman untuk membuat kita bisa hidup penuh pengharapan. Dengan kacamata iman kita tahu bahwa tangan Tuhan akan selalu siap mengangkat kita keluar tepat pada waktunya. Dengan kacamata iman kita tahu bahwa janji Tuhan cepat atau lambat akan digenapi. Dengan kacamata iman kita akan tahu bahwa Tuhan tidak akan pernah lalai dan akan selalu menepati janji tepat pada waktunya. Hari ini mungkin belum, tetapi iman akan memungkinkan kita untuk percaya sepenuhnya akan itu, sebab firman Tuhan jelas berkata bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Janganlah ragu apabila pertolongan Tuhan belum hadir saat ini, karena “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian.” (2 Petrus 3:9). Imanlah yang memampukan kita untuk bisa melihat itu. Iman lah yang menjadi bukti akan hal itu, sehingga kita tidak perlu khawatir dan bisa terus memiliki sukacita sejati yang berasal dari Allah dalam menjalani hidup ini.

Jika hari ini anda masih merasa sulit untuk merasakan kegembiraan dalam hidup ini, pakailah kacamata iman anda dan arahkan pandangan anda kepada Tuhan. Yakinlah bahwa Dia tidak pernah meninggalkan anda. Dia berdiri tepat di sebelah anda dan siap untuk memelihara anda dalam melangkah. Terus memusatkan pikiran dan pandangan terhadap masalah akan membuat kita semakin sulit untuk gembira, sementara tidak ada satupun yang berubah menjadi lebih baik dengan terus memupuk kekuatiran. Firman Tuhan sudah mengingatkan hal ini sejak dulu.  “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27). Kegembiraan sejati berasal dari Tuhan dan tidak pernah tergantung dari kondisi yang kita alami saat ini. Mari kita baca sekali lagi bagaimana Daud tetap bisa bersukacita bahkan bersorak-sorak meski tengah berada dalam kesulitan sekalipun. “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak..” (Mazmur 16:8-9a). Itulah kunci untuk memperoleh sukacita sejati yang tidak tergantung dari keadaan. Itulah rahasia agar jiwa kita bisa tetap bersorak-sorak walaupun situasi dan kondisi sedang jauh dari kondusif. Daud mengetahui kuncinya dan ia sudah membagikannya kepada kita. Mari kita tanamkan ayat ini dalam-dalam sehingga kita tetap bisa berdiri tegak dengan sukacita dalam menghadapi hidup yang makin berat saat ini.

Sukacita sejati tidak tergantung dari kondisi melainkan dari kedekatan kita dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: