Datanglah Roh Maha Kudus

PENTAKOSTA, A; 8 Mei 2014
Kis. 2:1-11; 1Kor. 12:3b-7.12-13; Yoh. 20:19-23

Persatuan, Damai, dan Pengampunan
Hari ini kita menutup Masa Paskah dengan merayakan kedatangan Roh Kudus dalam hati kita. Kurnia berbahasa yang diceritakan pada Bacaan Pertama, melukiskan bahwa Kuasa Roh Kudus itu memulihkan persatuan manusia dengan Allah dan sesamanya yang hilang karena kesombongan manusia di Babel, yang mau membangun menara sampai ke langit; sehingga bahasa mereka dikacaukan Allah.

Kini manusia kembali hendak mengabdi Allah, maka diberi kurnia persatuan itu kembali. Sedang dalam injil Yohanes, Tuhan Yesus yang menampakkan diri, memberi Roh Kudus, dalam kurnia Damai Sejahtera dan Pengampunan. Betapa indah kurnia Pentakosta ini: Persatuan, Damai dan Pengampunan. Betapa benar ketiga kurnia ini, merupakan kurnia dari Roh Kudus. Persatuan kita hendaknya membawa damai. Dan damai sejati, bukan sekedar tidak ada pertengkaran, perselisihan, perang, tetapi damai yang berani menyatakan kesalahanmu bukan masalah bagi saya dan kesalahan saya membuat saya layak menunduk di hadapanmu.

Pengampunan punya dua sisi: kalau kamu salah, itu bukan masalah. Jika saya salah, saya layak merendahkan diri. Hanya orang yang menerima dibimbing oleh Roh Kudus yang dapat menyetujui dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

Seorang imam dari New York pergi ke Roma untuk beraudiensi dengan Paus Yohanes Paulus II. Sebelum bertemu Paus, ia masuk sebuah Gereja untuk berdoa. Di pintu Gereja, ada seorang pengemis yang duduk. Itu pemandangan biasa di Roma. Tetapi pastor itu merasa ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Selesai berdoa, ia menemui pengemis itu. Dan lalu ia mengenali orang itu sebagai rekan di seminari.

Pengemis itu mengatakan, ia lalu menjadi imam, tetapi mengalami kehancuran dan terbakar habis dalam panggilannya. Waktu pastor itu dapat kesempatan bertemu Paus, ia merasa ada dorongan kudus dalam hatinya. Ia berlutut dan mohon Paus untuk berdoa bagi pengemis, imam yang jatuh pada situasi sulit itu.  Paus mengundang imam itu untuk mengajak pengemis itu makan malam bersama Paus. Segera pastor itu kembali ke Gereja dan untung pengemis itu masih duduk disana.

Pastor menceritakan undangan Paus Yohanes Paulus II. Pengemis itu menolak. Dia tidak bisa menghadap Paus. Tetapi pastor itu mendesak dan tidak mau pergi ke Vatikan lagi, tanpa teman imam-pengemis itu. Lalu pengemis itu diajak ke hotel untuk mandi, bercukur dan dipinjami pakaian imam untuk menghadap Paus.

Mereka diterima di istana Paus dan makan malam bersama Paus. Sesudah makan, Paus minta pastor itu keluar supaya Paus dapat bersama temannya itu. Waktu sudah pulang, baru pastor itu mendapat cerita apa yang terjadi waktu dia keluar dari kamar makan.

Waktu itu Paus berkata kepada pengemis itu: “Tolong dengar pengakuan dosa aya.” “Tapi saya bukan imam lagi.” Paus menjawab: “Sekali imam, kamu tetap imam.” Pengemis itu menceritakan bahwa dia sudah mencemarkan dan keluar dari Gereja. Paus menjawab: “Sebagai Paus Roma, saya dapat memulihkan kamu sekarang.”

Dan hal itu dilakukan Paus. Lalu Paus Yohanes Paulus II berlutut di depan pengemis itu dan mengakukan dosanya. Pengemis-imam ity hampir-hampir tidak dapat mengucapkan kata-kata absolusi; lalu jatih berlutut dan dengan berlinang air mata mohon Paus mendengarkan pengakuan dosanya.

Sesudah pengemis-imam itu dikembalikan kepada Kristus dan dipulihkan; Paus minta pastor yang satunya untuk kembali ke ruangan itu. Paus bertanya, di Gereja mana pastor itu menemukan rekan imamnya. Lalu Paus berkata kepada pengemis imam itu: “Sebagai tugas pastoral pertamamu, saya tugaskan kamu pergi ke Gereja itu dan melapor kepada Pastor Parokinya. Kamu akan ditempatkan disana dengan tugas khusus menjangkau dan menyelamatkan teman-teman pengemismu di jalan-jalan.”
Sampai hari ini, pengemis-imam itu bekerja, melayani yang tidak berpunya. Bukankah cerita ini memenuhi Injil hari ini: Terimalah Roh Kudus. Yang kamu ampuni dosanya, dosanya diampuni. Jika kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada (Yoh. 20:22-23).

Kerendahan hati Paus Jphanes Paulus II membuahkan pertobatan pengemis imam itu; menghasilkan pemulihan, pelayanan dan kesatuan dalam Gereja. Persatuan dan damai akan tercipta jika kita belajar tentang pengampunan; menerima kelemahan sesama dan merendahkan diri karena kelemahan kita sendiri. Semoga Roh Kudus membimbing kita dalam semangat pengampunan ini. Sehingga kita dapat menerima dan menyebarkan kurnia Roh Persatuan dan Damai itu dalam hidup kita sehari-hari. Amin.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.