Dari Sudut Pandang Positif

Ayat bacaan: Filipi 4:8
==================
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

memandang sisi positif

Selalu menarik melihat fotografer-fotografer handal mengabadikan sisi-sisi sosial manusia. Bagi kita mungkin objek-objek mereka itu terlihat biasa saja, tapi di tangan mereka objek itu terlihat menjadi sangat menarik. Air muka, berbagai kerutan, perpaduan antara objek dengan lingkungan sekitarnya, ekspresi dan sebagainya membuat foto-foto tersebut tampil punya nyawa dan bisa berbicara banyak tanpa harus mempergunakan kata-kata. Ini seringkali tidak mudah. Karena selain mereka harus jeli dalam melihat sesuatu yang menarik dari objek mereka, tetapi mereka pun harus tahu kapan momen yang tepat untuk membidik agar foto itu bisa tampil istimewa. Dari sini kita bisa melihat bagaimana bagaimana sudut pandang yang berbeda bisa menghadirkan hasil yang berbeda pula.

Ada banyak orang yang sangat cepat atau mudah melihat keburukan orang lain. Sisi negatif orang begitu mudah terlihat, namun sepertinya begitu sulit melihat sisi baik dari orang lain. Kita sulit memuji tapi mudah mengkritik, menuduh, menghina atau bahkan menghujat. Itu bisa kita lakukan dengan sangat mudah tanpa melihat dahulu baik-baik letak persoalannya, atau mengenal terlebih dahulu seseorang itu. Padahal siapapun mereka, mereka adalah juga ciptaan Tuhan yang sama seperti kita. Manusia semuanya punya kekurangan, tapi jangan lupa semua orang pun punya kelebihan masing-masing. Perbedaan status sosial, perbedaan suku, ras atau kepercayaan seringkali membuat kita membuat dinding-dinding dan sekat pembeda atau pembatas. Dunia semakin lama semakin cenderung membentuk kotak-kotak perbedaan dan menganggap itu adalah wajar, padahal di mata Tuhan semua manusia itu sama berharganya. Saya, anda dan mereka tetaplah masterpieceNya, hasil ciptaanNya yang spesial.

Daud pada suatu kali melakukan perenungan sambil ditemani keindahan langit yang bertaburan bintang-bintang dan bulan yang bersinar dengan indahnya. Semua yang ia lihat menghiasi langit di malam hari itu sangatlah indah dan merupakan karya Tuhan yang sungguh luar biasa. Tetapi biar bagaimanapun, Daud tahu bahwa manusia, yang mungkin sering dipandang tidak berarti bagi sesamanya sendiri, ternyata jauh lebih berharga dari segala keindahan alam. Maka Daud pun menulis: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:4-5). Daud sadar betul betapa berharganya manusia di mata Tuhan. Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.” (ay 6-9). Dan Daud menutup tulisannya pada pasal ini dengan sebuah pengakuan akan keagungan Tuhan. “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (ay 10).

Jika manusia memang diciptakan begitu istimewa, bahkan dikatakan sesuai gambar dan rupa Allah sendiri, tentu kita tidak bisa menyangkal bahwa manusia itu sangatlah berharga di mata Tuhan. Betapa keterlaluan ketika kita yang sama-sama ciptaan Tuhan malah saling menghujat, menghakimi, merendahkan atau menghina satu sama lain. Lihatlah bagaimana Tuhan mengangkat orang-orang pilihanNya dalam sepanjang kisah Alkitab. Dalam mengangkat nabi-nabiNya di Perjanjian Lama, hingga murid-murid yang dipilih Yesus, kita melihat bahwa orang-orang yang dipakai pun adalah orang biasa yang mungkin tidak dipandang atau malah dianggap hina bagi masyarakat. Tuhan tidak memilih raja, orang kaya raya, punya pengaruh, atau luar biasa pintarnya, tetapi ternyata lebih senang memilih orang-orang biasa yang kemudian menjadi luar biasa ditanganNya. Tuhan tidak memilih pewarta firman yang hebat dalam berbicara, orator, dan sebagainya, tapi malah memilih pembunuh orang Kristen, teroris pada masa itu yang kemudian bertobat dan bekerja secara luar biasa demi Tuhan. Nelayan, pemungut cukai, gembala, orang yang sulit bicara, seorang abdi dan lain-lain, mereka ini bisa diubahkan Tuhan secara luar biasa dan Dia pakai secara luar biasa pula. Artinya, orang yang mungkin tidak berarti di mata sesamanya pun punya sisi-sisi menarik. Manusia mungkin memandang mereka hanya seperti batu yang tidak berharga, tapi di mata Tuhan mereka bisa menjadi mutiara yang sangat berharga. Karena itulah kita harus mampu melatih pikiran kita agar tidak berpusat pada hal-hal negatif semata, namun dasarkanlah pada segala sesuatu yang baik, yang manis dan sebagainya. Ini diingatkan oleh Paulus dalam suratnya untuk jemaat di Filipi. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8). Dalam versi BIS dikatakan seperti ini: “Akhirnya, Saudara-saudara, isilah pikiranmu dengan hal-hal bernilai, yang patut dipuji, yaitu hal-hal yang benar, yang terhormat, yang adil, murni, manis, dan baik.” Ini adalah penting, karena dengan menghormati ciptaan Tuhan berarti kita juga menghormatiNya.

Mari kita senantiasa menjaga kemurnian hati dan belajar untuk memandang siapapun dari sudut yang positif. Tidak memandang rendah orang lain, tidak menghakimi, tidak menghujat satu sama lain, dan sebagainya. Ingatlah bahwa siapapun mereka, mereka punya sisi menarik yang jika kita pandang dengan berdasar pada segala hal yang manis, baik, dan sebagainya seperti apa yang dikatakan Paulus, maka kita akan bisa melihat sisi lain dari seseorang. Sesuatu yang menarik dan istimewa pasti ada pada diri sisapapun. Seperti ilustrasi fotografer di awal, meski dari “kamera” yang sama, hasil yang diperoleh bisa berbeda. Ketika kita tahu dari sudut mana kita harus memandang dan melihat sesuatu, maka hasil yang positif pun bisa kita peroleh. Kita harus senantiasa menjaga hati dan pikiran kita agar tidak terbiasa melihat sisi negatif dari segalanya. Mazmur Daud berkata: “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.” (Mazmur 24:4-5). Kita berharga dimataNya, maka mari kita menghargai pula sesama kita, yang sangat istimewa di mata Tuhan.

Latih terus hati dan pikiran kita agar mampu melihat sisi baik dan menarik dari orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.