Dapat Sedikit Tidak Apa-Apa Asal Jangan Curang (1)

Ayat bacaan: Amsal 16:8
===================
“Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan.”

Soal sukses katanya ada di tangan Tuhan, tapi kenyataannya banyak orang yang lebih memilih untuk menghalalkan segala cara untuk sukses. Mulai dari menyuap atau menyogok, menipu atau memanipulasi, memanfaatkan relasi atau kekuasaan orang lain sampai menggunakan berbagai jalan-jalan dari kuasa gelap. Orientasi kesuksesan bagi mereka adalah menjadi terkenal, kaya raya atau melimpah secara finansial dan berbagai hal-hal yang duniawi saja, yang sifatnya fana. Serangkaian kecurangan pun dihalalkan, yang penting kaya atau terkenal. Itu target akhirnya. Tapi namanya orang yang sudah buta, mereka seringkali tidak berhenti sampai di situ. Kata berhasil biasanya tidak memiliki akhir dan sangat relatif sifatnya. Sudah dapat seribu mau seratus ribu, sudah seratus ribu mau sejuta, dan seterusnya. Sifat manusia yang cenderung tidak pernah puas akan memperburuk semuanya, dan akhirnya banyak manusia yang berakhir sebagai orang yang menjadi hamba uang atau hamba status, jabatan atau menghamba pada segala kegemerlapan yang ditawarkan dunia. Tidak hanya di dunia bisnis, dalam dunia olah raga pun demikian. Ada begitu banyak atlit yang melakukan kecurangan agar ia bisa lebih dari pesaing-pesaingnya. Dalam dunia kehidupan pun sama. Kita sangat peduli terhadap status kita di masyarakat, atau lingkungan teman-teman, mengarah lebih kepada manusia dalam status sosial tinggi lewat harta dan ketenaran ketimbang menjalani panggilan sebagai anak-anak Tuhan di dunia yang membawa terang dan garam.

Katanya money isn’t everything, tapi banyak orang beranggapan bahwa memiliki harta melimpah akan membuat mereka bahagia. Itulah titik kebahagiaan bagi mereka. Padahal kenyataannya tidaklah demikian. Kenyataannya, ada begitu banyak orang yang kaya namun hidupnya tetap tidak bahagia. Ketenaran pun tidaklah memastikan kita untuk bisa bahagia. Contoh untuk itu tidak perlu kita cari jauh-jauh karena di sekitar kita pun bertebaran orang yang melimpah secara finansial maupun ketenaran tetapi hidupnya jauh dari bahagia, alias tidak punya kuasa untuk menikmati.

Tidak punya kuasa untuk menikmati? Is there any such thing? Yes there is. Jauh sebelum hari ini Pengkotbah mengingatkan: “orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.” (Pengkotbah 6:2). Bisa memiliki kekayaan lewat jalan jujur, itu merupakan karunia, tapi jangan lupa pula bahwa untuk bisa menikmati, untuk bisa bersukacita dalam jerih payah, itu pun juga karunia Tuhan. “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya–juga itupun karunia Allah.” (Pengkotbah 5:18). Banyak orang hanya berorientasi pada hasil akhir yang sangat semu dan fana, padahal Tuhan menekankan bahwa bukan hasil akhir saja yang menentukan, tapi bagaimana proses kita dalam pencapainya pun tidak kalah pentingnya.

Mari kita lihat sejenak bagaimana raja Ahab begitu bernafsu untuk mengambil kebun anggur milik Nabot dalam kitab 1 Raja Raja 21:1-29. Kebun anggur Nabot yang terletak tepat di sebelah istananya terlihat begitu menggiurkan dan menggoda. Oleh karena itulah Ahab meminta kebun itu agar menjadi miliknya. (ay 2). Tapi Nabot menolak karena tanah itu merupakan pusaka dari nenek moyangnya. (ay 3). Ahab kemudian merasa kesal dan uring-uringan. Izebel istrinya ternyata bukanlah tipe istri yang baik. Bukannya mengingatkan suaminya agar tidak iri terhadap milik orang lain, ia malah menyarankan cara-cara keji untuk memuaskan keinginan suaminya. Jebakan pun dipasang Izebel hingga Nabot pun menemui ajalnya. (ay 9-14). Tuhan segera menegur Ahab dengan sangat keras melalui nabi Elia. Ahab dianggap “sudah memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.” (ay 20). Dan karena itu, hukuman Tuhan pun jatuh atas Ahab dan keluarganya. (ay 21-26). Ahab menganggap bahwa ia akan lebih hebat jika bisa memiliki kebun anggur orang lain, dan bersama istrinya ia menghalalkan segala cara untuk itu. Perbuatan keji itu merupakan proses yang salah dan dianggap sebagai sebuah perbuatan yang jahat di mata Tuhan. Akhirnya ia dan keluarganya pun menerima hukumannya.

Memiliki cita-cita atau keinginan untuk meraih sesuatu atau mencapai sebuah hasil yang bagus memang tidak salah, malah sangat baikapabila kita mau berupaya sungguh-sungguh dengan serius untuk bisa mencapainya. Namun ketika untuk mencapai itu kita mulai menghalalkan segala cara, menipu, mencuri, menyuap dan berbagai bentuk kekejian lainnya yang melanggar hukum dan tentunya jahat di mata Tuhan, di sanalah masalah mulai muncul. Bukan hasil baik, tapi berbagai kemalangan lah yang datang. Kena di dunia, kena pula nanti di fase berikutnya, gagal menerima anugerah hidup kekal karena hidup bertentangan dengan ketetapan Tuhan. Hasil akhir yang baik tentu menjadi impian semua orang. Kalau begitu jangan lupa prosesnya dan jangan tergoda untuk memperoleh hal-hal yang kata dunia ini baik lewat cara-cara curang atau yang berlawanan dengan kebenaran atau prinsip-prinsip hidup Kerajaan.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.