Damayani Sabini Mencerahkan Pengrajin Tenun Ikat Atambua, NTT

Damayani Sabini memberi paparan pencerahan kepada para ibu pengrajin tenun ikat di Atambua. (Romo Kris Fallo)

SEBANYAK 10 orang, tergabung dalam kelompok Tenun Ikat Mawar, Bakal Paroki Kuneru, Paroki Katedral Atambua, Nusa Tenggara Timur, Minggu 31/07/2016,  mendaptakan pencerahan dari Ibu Damayani Sabini, salah seorang pemerhati sosial yang berdomisili di Jakarta.

Pertemuan yang difasilitasi oleh para Suster FSGM Kuneru itu menghadirkan Maya, sapaan akrabnya, sebagai pembicara tunggal. Menurut beliau; “Umat di Atambua ini sebetulnya punya potensi untuk maju. Ibu-ibu mempunyai keterampil menenun, dan ini tidak hanya untuk melestarikan budaya tetapi juga bisa bernilai ekonomis, tinggal bagaimana kita membantu mereka, membuka pemahaman mereka tentang  menejemen keungan, dan juga menyangkut pemasaran. Kedepan kita akan terus dampingi mereka hingga bisa maju dan menjadi contoh untuk yang lain.”

Menjaga kualitas produksi

Untuk tahap pertama ini, kata Maya, dia hanya ingin memberikan pencerahan bagi para ibu sehingga usaha mereka bisa berkebang dan layak untuk dipasarkan. “Keterampilan merupakan modal utama yang telah mereka miliki, tinggal bagaimana didampingi, diberikan pencerahan agar usaha mereka bisa menembus pasar. layak dipasarkan dan mendapat keuntungan yang bagi keluarga. Supaya bisa menembus pasar, yang harus diperhatikan adalah kualitas dan juga komitmen yang kuat untuk bekerja,” tambah Maya.

Melihat sendiri di lapangan bagaimana ibu-ibu mengerjakan produk seni lokal berupa kain-kain tenun ikat khas Atambua di Timor, NTT. (Romo Kris Fallo)Melihat sendiri di lapangan bagaimana ibu-ibu mengerjakan produk seni lokal berupa kain-kain tenun ikat khas Atambua di Timor, NTT. (Romo Kris Fallo)

Mama Ida, salah seorang peserta mengungkapkan berikut ini.  Ada tiga masalah utama yang dihadapi dalam perempuan bertenun. Yakni,   pertama modal usaha:  Dari mana mendapatkan modal? Kedua pemasaran: Kemana harus dipasarkan? Ketiga harganya kadang-kadang tidak seimbang antara yang biasa dikeluarkan dan keuntungan yang bisa

didapatkan. “Dengan adanya pertemuan ini, saya merasa seang karena ibu Maya telah membantu kami membuka pemaaman kami, agar kami bisa berubah ke arah yang lebih baik,” kata Mama Ida.

Setelah diberi pencerahan dan pemahaman, Maya bersama para suster turun dan melihat langsung bagaimana proses kerja mereka di rumah masing-masing.

Sr. Dorothea FSGM, dalam arahan pembukaannya mengatakan,  “Ini adalah kesempatan yang baik bagi kita untuk bisa bergerak maju. Karena itu,  satu hal yang dituntut dari kita adalah kita harus menekuni profesi . Sebagai seorang penenun harus komit dan fokus pada pekerjaan kita”.

avatar Pastor diosesan (praja) Keuskupan Atambua; sekarang bertugas pastoral di Paroki Katedral St. Maria Immaculata Atambua, Timor, NTT.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.