Dalam Yesus Kristus, Kasih Allah tak Pernah Berhenti

Eternal_Healing

Pekan Prapaskah IV
Yes 49:8-15; Mzm 145:8-9,13c-14,17-18; Yoh 5:17-30

… “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga. … Sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya” …

Yesus menunjukkan daya penyembuhan Allah dan pemulihan kehidupan bagi umat-Nya. Ia bahkan mempunyai daya kuasa untuk membangkitkan dan menghidupkan orang mati dan menghakimi orang yang hidup dan mati. Maka, tidak salah bila Yesus menyatakan daya dan kuasa-Nya atas kehidupan dan kematian. Inilah tanda-tanda Mesianik-Nya.

Sayangnya, para pemimpin Yahudi tidak menerima Yesus sebagai Mesias, yang diurapi Bapa untuk menebus umat-Nya. Bahkan, mereka berusaha untuk membunuh-Nya karena Yesus menyatakan Diri-Na setara dengan Allah dalam hal daya dan kuasa atas kehidupan dan kematian yang sudah dibuktikan-Nya melalui berbagai tanda mujizat-Nya. Mereka gagal mengenal bahwa kehadiran-Nya merupakan jawaban Allah atas doa penantian yang panjang umat-Nya seperti diwartakan dalam bacaan pertama oleh Nabi Yesaya, “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” (Yes 49:8).

Sesungguhnya, Yesus Kristus diutus Bapa sebagai tanda perjanjian bagi umat-Nya untuk mendamaikannya dengan Allah dan memulihkan hidup mereka serta janji keselamatan dan kebahagiaan kekal. Seluruh sabda dan karya-Nya menyatakan belas kasih dan keadilan Allah. Ia menggenapi nubuat Nabi Yesaya dengan membawa penyembuhan, pemulihan, dan pengampunan untuk siapa saja yang mau menerima dan mengimani-Nya.

Yesus melanjutkan menyatakan belas kasih Bapa dengan menyembuhkan dan memulihkan juga pada hari Sabat. Itulah sebabnya, para pemimpin Yahudi menuduhkan Yesus telah merusak dan melanggar hari  dan hukum Sabat. Mereka bahkan hendak membunuh Yesus karena Ia menyetarakan Diri-Nya dengan Allah sebagai Bapa-Nya.

Menurut Yesus, kasih dan belaskasihan Allah tidak pernah berhenti sedetik pun juga pada hari Sabat. Ia juga menyatakan bahwa karya-Nya tidak terpisah dari karya Allah karena relasi-Nya dengan Allah amat dekat-personal-mesra dalam relasi Bapa-Putra. Ia dan Bapa adalah satu hati, budi dan kehendak. Pikiran Yesus adalah pikiran Allah. Sabda-Nya adalah Sabda Alla. Identitas-Nya dengan Bapa dilandaskan pada kasih, iman, dan ketaatan-Nya yang sempurna kepada Allah sebagai Bapa yang mengutus-Nya.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita menyembah dengan penuh cinta Yesus Kristus yang telah menghapus dosa-dosa kita melalui peristiwa penyaliban-Nya. Ia memiliki daya kuasa untuk mengampuni kita dan memulihkan relasi kita dengan Allah sebab Ia telah membayar lunas dosa-dosa kita.

Tuhan Yesus Kristus, Engkau mengajar kami untuk menerima Dikau sebagai kehidupan kami, kehidupan yang berlimpah dengan damai dan sukacita bersama Allah. Semoga kami percaya pada-Mu, Sabda Allah yang Hidup, yang menjadi manusia untuk keselamatan kami. Tambahlah kasih kami pada-Mu dan satukan hati kami dengan hati dan kehendak-Mu, kini dan selamanya. Amin.

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.