Curhatan Seorang ‘Yudas Iskariot” tentang Fenomena Budaya Gereja Katolik

Imam pastor dan ekaristi dalam sebuah poster di Gereja Christ the King of Singapore ok

Pengantar Redaksi:
Tulisan ini ditulis oleh seorang dengan nama samaran: Yudas Iskariot. Lalu, oleh anggota sebuah milis katolik diunggah dan mendapatkan beberapa respon menarik. Karena namanya tersamar, kami publikasikan saja agar berguna untuk dibaca sebagai bahan refleksi bersama.
——————–
SEKEDAR curhat tentang fenomena budaya di Gereja kita saja.

Begini. Saya mau mengawalinya dengan beberapa fenomena menarik atau bisa dikatakan memprihatinkan. Barang kali Anda tahu, ada seorang pastor besar di Indonesia bernama Drijarkara.

Almarhum adalah seorang rohaniwan Yesuit dan cendekiawan dari Kedung Gubah, Purworejo.

Meskipun di sana pernah lahir seorang pastor besar, tapi di Kedung Gubah sendiri kekatolikan tidak meninggalkan jejaknya. Nah, itu juga yang saya alami ketika pulang kampung. Tidak ada orang Katolik yang baru. Sama sekali tidak ada.

  1.  Pertama, yang ada justru penyusutan jumlah orang Katolik. Yang tua sudah meninggal. Yang muda pindah agama. Yang kecil, ya ikut mama papanya yang pindah agama. Bukan hanya dari pihak katolik, dari Gereja Kristen juga. Teman-teman muda saya yang dulu berjumlah 15 orang, yang katolik tinggal 5 orang. Itupun tersebar ke berbagai provinsi.
  2. Kedua, fenomena pindah agama, umumnya karena perkawinan, di kota-kota besar juga banyak terjadi. waktu kecil ikut sekolah minggu, remaja ikut PPA, mahasiswa ikut KMK, begitu usia perkawinan hilang. Ada yang pindah gereja, ada yang pindah agama. Beberapa terjadi karena –dan ini yang memprihatinkan– mereka tidak tahu bahwa Gereja memungkinkan untuk terjadi perkawinan beda agama dan beda Gereja.
  3. Ketiga, ini masih katolik . Hanya saja, kalau ke gereja terbiasa telat. Sudah telat, pulangnya sebelum berkat. Duduk di luar. Romonya memimpin ibadah asyik memimpin, namun mereka yang mayoritas anak muda malah bermain gadget. Ini terjadi di Paroki Katedral Jakarta, malam Paska lagi. Karena diluar sinyal tidak tersaring, beberapa ibu muda bermain gadget dari awal mula sampai selesai Ekaristi Kudus. Hanya dimasukkan ke dalam tas kecilnya ketika maju untuk terima komuni. Beneran, ini sungguh-sungguh terjadi.
  4. Keempat, mulai ada beberapa keluhan dari pengurus lingkungan bahwa banyak umat yang tidak terdata karena umat tersebut tidak pernah aktif di Lingkungan dan di gereja. Baru tahu ketika meninggal. Tetangga-tetangganya tahu kalau dia katolik. Ke gereja, tapi bukan Gereja Katolik. Pindah-pindah sesuai dengan selera dan mood. Ada juga tetanggaan yang kaget, ternyata dia katolik pas Natalan ketemu di gereja.
  5. Kelima, ini umum sekali terjadi. Kita bisa menghitung kalau lingkungan-lingkungan mengadakan kegiatan. berapa orang mudika yang hadir. Sering hanya 1-20%. Bahkan beberapa kali ditemui, paling tidak dalam pengalaman saya, di rumahnya kebagian tempat untuk pendalaman iman bersama, yang ngumpul bareng teman seimannya ya hanya orang tuanya. Anaknya? Nonton TV di kamar sambil siap-siap nyiapin konsumsi.
  6. Keenam… tentu kita masih ingat betapa Paus beberapa waktu yang lalu mengunjungi Yerusalem, kemudian mengajak berdoa bersama pemimpin tiga agama besar untuk perdamaian dan menghentikan konflik di Palestina. Hasilnya? Sekarang kita justru selalu disuguhi peristiwa perang di Gaza.

Refleksi

Bukan berarti saya menutup mata pada kenyataan bahwa banyak juga babtisan baru atau banyak umat yang menghadiri ekaristi di ereja. Ga. Umat Katolik masih baik, itu yang sering saya katakan sejak awal. Umat Katolik dikenal lebih religius dibandingkan umat kelompok lainnya.

Tapi, sayangnya…. pengaruh Gereja terhadap masyarakat tidak sebesar antusiasme umat ketika datang ke gereja. Ada polarisasi, ada kutub kesalehan dan kutub keduniaan, ada kutub urusan Gereja dan kutub urusan dunia. Ini sangat jauh dari ajaran Gereja yang mencoba untuk menyelami dan memasuki keprihatinan masyarakat secara konkret. Gaudium et Spes membuka seruannya dengan sangat indah, kegembiraan dan harapan dunia adalah kegembiraan dan harapan Gereja.

Sayangnya, dunia sepertinya tidak bergembira. Tidak seindah seruan Gereja. Dunia berjalan non-linier terhadap seruan Gereja ini. Masyarakat dan umat diberi semacam kebebasan untuk menemukan jalan keselamatannya dan mereka semakin percaya diri bahwa keselamatan bisa dicapai dengan jalan yang berbeda dengan apa yang diajarkan dan dipegang teguh institusi agama. Dengan kata lain, agama semakin menjadi urusan privat. Agama diprivatisasi. Agama, dalam masyarakat dewasa ini bukan lagi urusan komunitas.

Banyak orang yang merasa bisa selamat, meskipun tidak pernah mendengarkan kotbah romonya. pembenaran telah tersedia. Kalaupun didengarkan toh sebentar lagi lupa.

Para romo akan kelihatan pinter kalau umatnya ditanya, minggu yang lalu bacaannya apa bapak ibu? kotbah saya tentang apa? tuh kan sebagian besar lupa. Jadi untuk apa mendengarkan kotbah yang dipersiapkan bagus-bagus. Mending main gadget, ada manfaatnya untuk sosialisasi.

Gereja seperti kehilangan akal bagaimana menyampaikan ajaran-ajarannya yang sangat bagus, sangat kontekstual dengan jaman, sementara pertemuan dengan umat relatif sedikit. Sepertinya tidak terlalu nyambung kalau disampaikan dalam kotbah yang hanya 15-20 menit. Tapi juga rasanya terlalu sulit untuk mencari waktu khusus dengan umat mendalami dan menyelami apa yang bagus dari Gereja ini.

Akhirnya hanya tema-tema besar yang kemudian dijadikan gerakan bersama. Seperti gerakan cinta lingkungan, gerakan cinta ekaristi dan liturgi, gerakan aktif politik, gerakan anti korupsi.

Ya… sekali lagi gerakan-gerakan semacam itu bagus, namun dalam konteks keimanan rasanya terlalu umum. Mungkin harapannya dengan gerakan ini kita bisa ikut bersama terlibat secara massif, sistematis dan terstruktur, meminjam istilahnya Amien Rais. Sayangnya, banyak kritikan terhadap sistem semacam itu. Pola-pola semacam ini adalah pola-pola modern.

Sementara pola sekarang, mengikuti arus pemikiran post modern, bukan lagi terstruktur, tapi keluar dari struktur, bukan lagi universal tapi partikular, dan yang jelas. Masyarakat sekarang cenderung menolak absolutisme. Bahkan moralitas direlativisir.

Kalau anda mencoba mencari berita di YouTube atau di google, penolakan Paus ke sejumlah negara banyak terjadi. Terutama bagi kaum feminis, kaum sekularis, dan juga kaum pro choice. Ada dua hal yang ditolak atau menjadi dasar kecaman terhadap ajaran Gereja, kontrasepsi, larangan aborsi, dan penentangan perkawinan sejenis. Bukan karena ajaran Paus salah maka pertentangan terjadi, tapi karena dianggap tidak praktis, tidak terbuka, dan kolot.

Nah, kita di Indonesia juga menghadapi hal serupa. Meskipun rajin ke Gereja, umat banyak yang tak terpuaskan dengan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Beberapa orang merasa, malas membaca buku-buku daripada nanti jadinya menyimpang. Manut sajalah, romo. Saya ini umat yang baik kok.

Tapi di sisi lain, dalam hatinya timbul semacam kegelisahan. Ibadah-ibadah yang dilakukan adalah sebuah upaya untuk meredam kegelisahan rohani tersebut.

Di sisi lain, banyak orang yang akhirnya acuh tak acuh. bukan manut, tapi terserahlah. Yang penting saya masih beragama. Akhirnya, hilanglah pengaruh-pengaruh agama, bukan hanya kekatolikan tapi juga agama yang lain, terhadap permasalahan-permasalahan publik.

Hal ini disebabkan karena masyarakat mendapati dan mempercayai adanya sumber-sumber moral yang lain, yang bagi mereka menggeser peran agama. Pindah agama, meskipun kadang terasa berat, hanya karena rasa malu, misalnya, tapi ini tidak terlalu substansial. agama toh urusan pribadi. urusan saya dengan Tuhan. Tidak pantas dan tidak semestinya orang lain campur tangan dengan agama saya.

Perlunya evangelisasi yang baru

Ada yang menggembirakan akhir-akhir ini bahwa meskipun ada keluhan bahwa jumlah panggilan menurun, tapi panggilan semakin hari semakin meningkat. Bahwa jumlahnya belum sebanding dengan jumlah umat, barang kali benar. Tapi peningkatan ini pantas disyukuri. meningkatnya jumlah panggilan dan kuatnya religiusitas umat sesungguhnya menjadi kapital yang baik, seraya terus memohon bimbingan Roh Kudus, untuk membuat sebuah gerakan evangelisasi yang baru. Evangelisasi yang berupaya menyampaikan perintah Yesus agar membabtis manusia dari segala bangsa.

Kalaupun tidak ada lagi gerakan misi seperti zaman Fransiskus Xaverius, minimal kita, Gereja bisa mempertahankan umat, nguri-uri pakaryan dalem Gusti.

Saya kira, akhirnya kita bisa mengkontekstualkan apa yang menjadi ajaran Tuhan, menerjemahkan ajaran Gereja dan kemudian menjelaskannya agar bisa lebih menghidupkan ‘roh’ dan spirit kekatolikan di tengah masyarakat.

Kredit foto: Ilustrasi imam dan perayaan ekaristi dalam sebuah poster di halaman Gereja Christ the King of Singapore (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.