Create Your Own God (1)

Ayat bacaan: Maleakhi 2:17
====================
“Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?” Dengan cara kamu menyangka: “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan–atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?”

Sejak kecil saya menyukai permainan menyusun balok-balok dalam berbagai bentuk dan warna seperti lego. Balok itu bisa saya rangkai sesuai imajinasi saya. Semakin banyak baloknya semakin variatif pula objeknya. Dari jumlah balok yang sama bisa tercipta begitu banyak bentuk. Beda orang tentu beda bentuk, dan orang yang sama pun bisa membuat objek berbeda-beda tergantung idenya.

Ide membuat racikan sendiri seperti itu sudah pula merambah dunia kuliner. Pizza bisa anda racik sendiri toppingnya sesuai keinginan, yoghurt, eskrim, berbagai sajian hotplate hingga minuman. Semakin banyak saja gerai yang memungkinkan kita untuk berkreasi dengan pesanan yang tidak lagi hanya tergantung dari menu. Create your own taste, flavor, add your topping, choose your side dish, choose the sauce, semua itu semakin sering digunakan sebagai strategi bisnis yang jitu dalam menjaring konsumen.

Untuk bisnis itu merupakan ide cemerlang. Tapi bagaimana kalau itu kita terapkan kepada pemahaman kita akan karakter Tuhan? Maksud saya begini. Tuhannya sama, kitab sucinya sama, dasar pengenalannya sama, tapi orang yang berbeda bisa merancang model Tuhannya sendiri, menurut pemahaman sendiri, menurut enaknya sendiri, menurut kepentingannya sendiri. Bukankah itu yang kita lihat dengan semakin terang benderang hari-hari ini?

Maka kita melihat orang-orang yang memegang iman yang sama tetapi warnanya beda. Ambil ayat-ayat tertentu, penggal atau lepaskan dari konteksnya, dan Tuhan versi mereka pun tercipta. Ada yang bahkan sampai berdarah dingin sanggup membunuh orang dengan mengatasnamakan Tuhan, yang jelas menurut versinya sendiri. Ada yang merasa boleh merampas hak orang dengan bawa-bawa ayatnya sendiri juga. Ambil satu ayat, kemudian pelintir sendiri sesuai kebutuhan. Ketika ada ayat yang mengatakan bahwa Tuhan selalu siap mengampuni dosa, maka mereka menganggap ada banyak kesempatan berbuat dosa karena nanti tinggal ‘lapor’ dan langsung beres. Ada yang menganggap bahwa gosip itu tidak apa-apa karena hanya untuk kesenangan saja, berbohong kecil itu boleh dan yang tidak boleh adalah menipu yang bisa menimbulkan kerugian materi besar, korupsi kecil tidak apa-apa asal jangan milyaran, sekali-kali menikmati dosa itu tidak apa-apa karena Tuhan yang baik pasti mengerti, dan sebagainya.

Semua ini adalah kecenderungan dari orang-orang yang tidak mengenal Tuhan secara benar, sehingga mereka berani menempatkan Tuhan pada posisi sesuai keinginan mereka. Jika pemikiran seperti ini terus dipelihara, kita bisa terjebak pada konsep yang salah. Itu sama saja dengan menyalahgunakan kebaikan Tuhan yang tentu saja bisa berakibat fatal. Jika pola pikir sendiri tentang Tuhan terus dipupuk, orang-orang seperti ini tidak akan peduli lagi terhadap kebenaran firman Tuhan yang sesungguhnya sudah menjelaskan secara rinci seperti apa sebenarnya Tuhan itu. Ada yang mencari pembenaran akan perbuatan-perbuatan buruk juga dengan memelintir ayat menurut pemahaman sendiri. Terdengar aneh, tapi pada kenyataannya itu terjadi dan mudah ditemukan di sekitar kita, termasuk di kalangan orang percaya virus yang sama juga menyebar dimana-mana.

Itu bukan masalah baru, tapi sudah berlangsung sangat lama. Mari kita lihat apa yang tertulis dalam kitab Maleakhi berikut ini. “Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?” Dengan cara kamu menyangka: “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan–atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?” (Maleakhi 2:17). Perhatikanlah bagaimana orang bisa dipengaruhi oleh ilusinya sendiri, hingga berani membentuk image baru akan Tuhan yang akan menganggap baik orang yang berbuat jahat, bahkan berani berkata bahwa Tuhan berkenan terhadap kejahatan. Ini adalah sebuah bentuk penggambaran Tuhan menurut pandangan pribadi tanpa mengenal sifat-sifat Tuhan terlebih dahulu secara baik.

Itu adalah sebuah bentuk “create your own God”, yaitu menempatkan Tuhan pada posisi sesuai keinginan kita. Jika kita menikmati dosa, maka kita menganggap Tuhan akan memberi toleransi terhadap dosa-dosa itu. “Ah, sekali-kali tidak apa-apa…Tuhan pasti mengerti.” Atau, “Tuhan kan Maha Baik dan Maha Pengampun, Dia pasti tidak akan apa-apa kalau menyimpang sedikit saja.” Jika tidak hati-hati kita bisa terjebak pada konsep pemikiran demikian, dimana kita tidak lagi peduli terhadap kebenaran firman Tuhan yang sesungguhnya sudah menjelaskan secara rinci seperti apa sebenarnya Tuhan itu dan kemudian berpikir bahwa Tuhan bisa dibentuk sesuai keinginan kita.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.