Cockle Creek, Titik Nol Tasmania di Ujung Terakhir Menuju Kutub Selatan (19)

< ![endif]-->

BEGINILAH rasanya bisa berdiri di sebuah lahan tanah berukuran 5×6 meter yang berlokasi persis di tepi laut. Di sini  adalah Cockle Creek, sebuah lokasi terpencil di ujung paling selatan Pulau Tasmania, Australia, sebelum akhirnya bisa ‘terbang jauh’ menuju Antartika atau Kutub Selatan.

Mengikuti irama hati ketika manusia purba lazim mengalami perasaan fascinosum et tremendum (terpesona sekaligus takut) ketika mengalami ‘pertemuan’ dengan Yang Ilahi, maka maka begitu pula isi hati kami ketika akhirnya berhasil sampai di Cockle Creek di ujung paling selatan bumi Pulau Tasmania ini.

Titik nol

Cockle Creek adalah titik nol.  Jalan panjang dari Hobart melewati Greeveston, Dover, Catamarang berakhir di titik nol di Coclke Creek ini.

Namun, orang-orang setempat di Cockle Creek rasanya lebih suka menyebut desa terpencil ini sebagai ‘titik akhir’. Kalau Hobart –Ibukota Negara Bagian Tasmania di Austrlia—ini disebut sebagai ‘titik awal’, maka Cockle Creek layak mendapat julukan sebagai ‘titik akhir’ menuju the end of the road. 

Saya pribadi secara berseloroh tertarik ingin emlintirnya menjadi this is the end of the world atau tepatnya the end of the  geographical map of Tasmania.

Cockle Creek you have reached the end of the world

Maksudnya kurang lebih begini. Begitu sampai di Cockle Creek ini, sejak menyisir jembatan mungil, maka orang tidak akan bisa melanjutkan perjalanannya lagi. Mobil berhenti di sebuah lahan parkir kecil di ujung jalan setapak. Kaki bisa menyusuri jalan setapak tak lebih dari 300 meter dan kemudian selesai di ujung jalan ini.Cockle Creek tugu the end of the road email

Tidak ada jalan lagi baik ke arah kanan, kiri dan apalagi terus maju ke depan. Di ujung muka sudah ada perairan laut South East Cape yang akan membawa kita “terbang jauh” menuju Kutub Selatan.

Whale and whaling

Perasaan fascinosum membuncah deras di lubuk hati saya. Bongkahan perasaan ini begitu saja muncul ketika akhirnya saya berhasil sampai tiba di Cockle Creek. Kata orang, inilah ujung dunia paling selatan dari Australia melalui  jalur transportasi melewati Pulau Tasmania untuk kemudian menuju Kutub Selatan.

Di Cockle Creek ini pula, pemandangan luar biasa lazim terjadi di sini. Di depan Cockle Creep di perairan South East Cape inilah sering terjadi pemandangan alam yang indah di perairan laut. Inilah lokasi dimana ratusan ikan paus biasa menyusuri perairan Cockle Creek untuk berenang ke perairan yang lebih dangkal guna mendapatkan tempat yang lebih hangat dibanding perairan di Kutub Selatan yang super dingin.

Tasmania papan pengumuman Cockle Creep 3

Fascinosum terjadi karena di Cockle Creek ini pula puluhan orang Australia memilih meninggalkan rumah-rumah mereka dan kemudian  pergi berkemah di kawasan hutan lindung di sekitar Cockle Creek ini. Turis ’asing’ dari mainland Australia dan warga lokal dari Pulau Tasmania memang dikenal suka sekali ‘menyepi’ ke Cockle Creek –terutama pada hari-hari libur panjang—untuk sekedar retreat kembali ke alam bebas merdeka guna bisa mereguk kembali indahnya hidup di tengah alam.

camping1

Kembali ke alam

Retournons à la nature atau marilah kita hidup kembali ke alam.  Begitu pemikiran filosofis manusia modern guna menggemakan pentingnya manusia hidup bersenyawa dengan alam.

Nah, pada sisi lain berkecamuk juga pada hati saya gelombang dahsyat  perasaan tremendum.

Berdiri tegak menghujamkan pandangan mata ke arah samudera melalui South East Cape sungguh membuat diri kita kecil di hadapan Tuhan. Jadi, kata hati saya saat itu, kita ini siapa kok sesekali bisa menjadi arogan dan kadang menjadi lupa diri di hadapan Tuhan?

Mari kira rasakan kembali derap denyut nadi suara hati, ketika akhirnya bisa sampai  berdiri titik nol dan berada di ujung jalan paling akhir di Cockle Creek yang mungil namun indah ini. Di situ deru angin laut sangat kencang. Pada musim seperti di bulan Desember 2013 ini saja, deru angin laut dari arah South East Cape bisa mencapai kecepatan 40 km/h hingga tubuh ini serasa mau terpelanting ke depan atau menyamping.

Fiat mihi voluntas tua

Angin dingin serasa menusuk tulang. Meski dibalut hangat oleh jumper wool berkualitas, deru angin dingin dari South East Cape tetap menjadi sumber darimana rasa takut disertai kagum itu muncul. Meski badan dibalut jumper wool berkualitas, namun tetap saja dinginnya hembusan air laut seperti duri tajam menusuk tulang dan membakar dingin permukaan kulit di punggung dan telapak tangan yang tidak terbungkus oleh sarung tangan.

Cockle Creek Whale and Whaling

Topi nyaris kabur diterjang angin menuju lautan. Berdiri tegak tidak bisa, karena hembusan angin kencang membuat pijakan kokoh kaki pada tanah tetap goyang. Berjalan gontai walau hanya melangkah satu-dua tapak ke depan. Inilah hebatnya pesona alam di tepian perairan South East Cape di Cockle Creek, Tasmania, Australia.

Berwisata menuju Cockle Creek bukan lagi merupakan wisata plesiran melihat keindahan kota. Sebaliknya, Cockle Creek adalah wisata alam dengan muatan spiritual yang dalam. Ini tentu saja pengalaman personal yang belum tentu orang lain akan mengalami getaran hati dan gejolak jiwa yang sama.

Cockle Creek dengan segala denyut suara hati fascinosum et tremendum itu menjadi titik nol bagi perjalanan manusia –setidaknya saya sendiri—ketika bisa merasakan diri ini  hanyalah “hamba” di mata Tuhan. Maka, doa spontan teramat lirih yang sempat saya ucapkan dalam hati waktu di Cockle Creek ini seperti kata-kata Bunda Maria ketika mendapat berita Kabar Suka Cita dari Malaikat Gabriel.

Cockle Creek prasasti ikan paus

Kata Bunda Maria dengan suara teduh: Fiat mihi voluntas tua.

Di Cockle Creek, saya mendapat peneguhan spiritual untuk mengatakan kepada diri sendiri dan Tuhan: “Maka, hendaknya selalu terjadilah kehendakMu pada diriku ini”.

Photo credit: Titik nol perjalanan di Cockle Creek, Tasmania, Australia (Mathias Hariyadi)

Tautan:

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.