Ciri Anak Raja (1)

Ayat bacaan: Roma 8:17
====================
“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.”

Bagi anda yang pernah sekolah minggu ketika masih kecil, anda tentu mengenal lagu “Aku Anak Raja”. Lagunya sangat sederhana sehingga tidak sulit dicerna anak-anak. Bagi yang sudah dewasa mungkin lagu ini terasa terlalu ringan, tetapi makna yang terkandung di dalamnya sesungguhnya sangat penting bagi orang dewasa sekalipun. Lagu ini mengingatkan kita akan status yang kita sandang. We are not a nobody but we are the children of the King of kings. Sebagai anak kita seharusnya mewarisi sifat Bapa dan sedikit banyak akan berdampak pada nama baikNya. Layaknya seorang pangeran, jika pangeran itu berbudi dan mengasihi, maka harum pula nama ayahnya, sang raja. Sebaliknya, meskipun raja baik tapi pangeran punya perilaku buruk, maka nama ayahnya pun akan turut tercoreng.

Status kita sebagai anak berarti pula bahwa kita adalah ahli waris, yang artinya kita dilayakkan untuk menerima berkat-berkat yang telah disediakan Allah sebagai Bapa. “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Roma 8:17). Status sebagai anak tidaklah main-main. Itu adalah sebuah kehormatan besar yang seharusnya kita jaga. Jika kita bisa bangga menjadi anak dari orang tua kita, apalagi menjadi anak Allah. Tapi sayangnya banyak orang yang tidak memperhitungkan anugerah Tuhan yang begitu luar biasa besarnya ini. Hari ini saya ingin mengajak anda untuk merenungkan sudah sejauh mana kita berlaku selayaknya anak Raja, alias anak Allah. Apakah apa yang kita lakukan sudah memuliakan Tuhan, sehingga orang bisa mendapatkan gambaran Kristus yang benar seutuhnya, atau malah kita terus menjadi batu sandungan sehingga Kristus pun menjadi tercoreng karena sikap kita yang tidak baik.

Agar kita bisa mencermati sampai sejauh mana kita sudah berdiri sebagai anak Raja, ada beberapa ciri yang bisa kita jadikan landasan seperti yang tertulis di dalam Alkitab. Apa saja cirinya?  Mari kita lihat satu persatu.

1. Dipimpin Roh Allah
“Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah….Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.” (Roma 8:14,16).
Anak-anak Allah adalah orang-orang  yang hidupnya dipimpin langsung oleh Roh Allah. Inilah Roh yang dijanjikan Tuhan Yesus sebagai Penolong untuk menyertai kita selama-lamanya seperti yang disebutkan dalam Yohanes 14:16. Artinya kehidupan anak-anak Allah adalah sebuah kehidupan yang selalu disertai oleh Roh Kudus dalam setiap perbuatan dan perilaku sehari-hari. Roh Kudus diberikan kepada siapapun yang menjadi anak Allah yang sejati. “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Galatia 4:6). Hidup yang dipimpin Roh Allah akan mendasari keputusan-keputusannya dalam kebenaran, mengacu kepada ketetapan firman Tuhan. Hidup seperti ini tidak lagi berpusat pada diri sendiri tetapi diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Apabila kita masih gamang dalam melangkah, tidak bertanya kepada Tuhan sebelum mengambil keputusan-keputusan, jika kita masih hidup menurut pandangan dunia, mentolerir dosa, mendahulukan keinginan daging, itu artinya kita belumlah hidup sebagai anak Allah, meski sudah mengaku beriman kepada Kristus sekalipun.

2. Dibaptis dalam nama Yesus Kristus
“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.” (Galatia 3:26-27).
Memberi diri dibaptis adalah sebuah langkah ketaatan dalam iman akan Kristus. Mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, dan merupakan lambang menenggelamkan (meninggalkan) hidup kita yang lama untuk kemudian lahir baru, menjadi ciptaan yang sama sekali baru. Predikat anak Allah diberikan Tuhan kepada kita ketika kita memberi diri dibaptis dalam Kristus, yang artinya mengijinkan Kristus bertahta dan berkuasa dalam hidup kita.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.