Cicak di Istana Raja

Ayat bacaan: Amsal 30:28
===================
“cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.”

Apakah anda termasuk orang yang geli dengan cicak? Kebanyakan seperti itu, bahkan mungkin pula merasa jijik. Apalagi kalau cicak sampai terjatuh dan mengenai kita. Cicak adalah hewan yang sama sekali tidak berbahaya. Ia lemah, tak berdaya. Cicak tidak punya kemampuan menyerang yang mematikan. Cicak tidak punya tenaga, taring dan kuku tajam seperti singa. Cicak tidak punya bisa mematikan seperti ular, cicak tidak punya sistem pertahanan mumpuni seperti landak atau kumbang pembombardir, cicak pun tidak punya kecepatan lari/melompat seperti halnya rusa. Satu-satunya yang bisa dilakukan cicak untuk menyelematkan diri hanyalah dengan memutuskan ekornya yang akan terus menggeliat-geliat untuk mengelabuhi musuh sementara ia merayap secepat mungkin menyelamatkan diri. Sangat mudah menangkap cicak, bahkan bisa dengan tangan kosong saja, atau kalau tega, membunuhnya. Itu pun mudah. Selagi saya duduk bekerja malam ini, ada seekor cicak yang tengah mengincar mangsa tepat di dinding di depan saya. Dengan begitu sabar ia merangkak perlahan. Jika mulai mencurigakan, cicak itu berhenti dan tidak bergerak sama sekali. Begitu jaraknya memungkinkan, dengan sangat cepat ia menyergap buruannya. Begitulah cara cicak memenuhi kebutuhannya akan makanan. Satu hal yang saya perhatikan selain kesabarannya dalam mencari mangsa, cicak bisa berada dimana-mana. Di rumah anda tentu ada cicak juga. Di rumah mewah dengan pagar tinggi menjulang cicak pun mudah dijumpai, atau bahkan di istana sekalipun.

Kemarin kita melihat bahwa lewat Ayub kita diingatkan agar tidak menutup mata untuk belajar lewat hewan baik di darat, laut maupun udara. “Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan.” (Ayub 12:7). Meski hewan tidak berhikmat dan berakal budi, selalu ada yang bisa kita jadikan pedoman dari hewan-hewan ini agar bisa bertumbuh lebih baik lagi. Sehubungan dengan itu, sangatlah menarik jika kita memperhatikan bahwa cicak yang lemah ini ternyata juga dijadikan Tuhan sebagai contoh yang memberi pelajaran untuk manusia.

Dalam Amsal 30, Agur bin Yake menyebutkan ada empat sosok binatang yang kecil tetapi sangat cekatan di muka bumi ini, dan salah satunya adalah cicak. Katanya: “cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.” (Amsal 28:30). Empat hewan yang sangat cekatan, atau dalam bahasa Inggrisnya disebutkan sebagai “small but exceedingly wise” alias kecil tapi sangat bijak, cicak adalah satu dari keempat hewan yang ia sebutkan. Cicak memang lemah, bahkan mudah kita tangkap dengan tangan, tetapi cicak bisa berada di istana-istana raja. Kita yang jauh lebih kuat dan besar dibanding cicak saja mungkin belum tentu bisa menginjakkan kaki di istana. Tapi cicak bisa, dan keberadaan mereka tidak akan dipermasalahkan bahkan oleh raja sekalipun. Mengapa cicak tidak harus dibunuh meski masuk ke dalam istana? Karena cicak bukanlah hewan buas yang bisa merepotkan, bukan pula tergolong serangga yang mengganggu. Kalau menyebut serangga, cicak bisa jadi lumayan berguna karena mereka memakan serangga-serangga yang merugikan seperti nyamuk misalnya. Meski lemah, ternyata cicak tidak membahayakan dan malah berguna, dan karena itu mereka bisa berkeliaran dengan bebas di dalam istana. Karenanya keberadaan cicak tidak akan diusik, bahkan oleh raja sekalipun. Dalam mencari makan,  cicak bisa begitu sabar menanti buruannya. Cicak tidak terburu-buru dalam memangsa. Mereka sangat tenang dan sabar. Dan itu juga bisa menjadi sebuah hal baik untuk kita jadikan pelajaran.

Cicak itu hewan yang lemah. Dijepret dengan karet saja sudah jatuh dan mati, kalau mau ditangkap dengan tangan pun tidak terlalu sulit. Tapi lihatlah bahwa cicak ternyata bisa berada dalam istana dan keberadaannya tidak akan diusik oleh siapapun termasuk oleh raja. Kita manusia pun merupakan mahluk yang lemah dan rentan terhadap berbagai godaan yang berujung dosa. Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita telah diperlengkapi berbagai organ, indra dan kemampuan adaptasi oleh Tuhan dalam menjalani hidup, sehingga sebenarnya, kita mampu berbuat jauh lebih banyak dari apa yang kita pikirkan. Apalagi jika kita menyadari bahwa kita tidak sendirian. Ada Roh Allah bersama-sama dengan kita yang akan memampukan kita untuk melakukan lebih dari perkiraan kita terhadap kemampuan sendiri. Tapi sayangnya banyak orang yang lebih mudah untuk mengeluh bahkan menyesali keadaan dirinya ketimbang memikirkan hal sebaliknya: betapa Tuhan telah menyediakan segala sesuatu secara lengkap, yang cukup bagi kita untuk menghasilkan buah, bekerja buat Dia dan memuliakanNya. Dalam dunia yang begitu luas dan kejam ini kita sama lemahnya seperti cicak. Tapi dengan segala sesuatu yang ada pada kita, kita bisa berusaha untuk tampil sebagai pemenang, bahkan lebih dari pemenang, dan itulah sebenarnya yang dikehendaki Tuhan atas diri kita.

Tuhan punya rencana bagi setiap kita, masing-masing sudah dilengkapi secara khusus dan ditempatkan sesuai yang Dia kehendaki, seperti yang digambarkan Paulus dalam 1 Korintus 12:18. Untuk itu semua Tuhan telah menyediakan segalanya. Jika anda masih merasa lemah, ingat pula bahwa “Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.” (ay 22). Selemah apapun anda, anda tetap berguna bagi Tuhan dan diinginkan untuk berhasil dalam kehidupan dan dijanjikan kehidupan yang kekal dalam Kristus. Tuhan tidak pernah menginginkan kita hanya sebagai ekor, melainkan sebagai kepala. Kita diciptakan untuk tetap naik dan bukan turun. Dan ini semua bisa kita lakukan jika kita mendengar perintah Tuhan dan melakukannya dengan setia. “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia” (Ulangan 28:13). Jangan lupa juga bahwa firman Tuhan sudah menyatakan kepada kita: “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29). Jika anda masih ragu akan hal ini, lihatlah bahwa cicak sudah membuktikannya. Kalau cicak bisa, seharusnya kita bisa lebih dari itu.

Belajar dari cicak, kita harus mampu memaksimalkan segala sesuatu yang telah diberikan Tuhan pada hidup kita untuk menyatakan kemuliaanNya baik dalam pekerjaan maupun kehidupan kita sehari-hari. Itu semua akan membuat kita menjadi orang-orang yang cakap, dan orang  yang cakap akan selalu dicari dan bisa berdiri di hadapan raja-raja. Pergunakan segala talenta dan anugrah Tuhan untuk berbuat yang terbaik, dan tetaplah mendengar serta menjadi pelaku firman. Pergunakan semua potensi dan talenta untuk melakukan yang terbaik, sungguh-sungguh bukan setengah-setengah. Jika itu yang kita lakukan, meski kita manusia yang lemah dalam dunia yang keras, kita akan mampu tampil menjadi yang terdepan, seperti halnya cicak di istana-istana raja.

Pergunakan karunia yang diberikan Tuhan untuk tampil lebih dari pemenang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.