Cicak Cicak di Dinding (1)

Ayat bacaan: Amsal 30:28
===================
“cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.”

Anda tentu tahu lagu Cicak Cicak di Dinding. Lagu ini begitu sederhana sehingga bisa dengan cepat dihafalkan oleh anak-anak, bahkan yang belum bisa bicara. Ada dua anak berusia dibawah dua tahun yang saya kenal sudah bisa menyanyikan lagu ini meski dengan bahasa yang belepotan. Lucu sekali melihat mereka hanya pintar melafalkan kata cicak dan ujung setiap bait, sedang yang lainnya asal bunyi saja. Tapi lagu ini akan selalu ada dalam sejarah hidup mereka sebagai lagu pertama yang bisa mereka nyanyikan.

Lagu ini menceritakan hal yang sangat simpel tentang bagaimana seekor cicak dengan tenang dan sabar merayap perlahan untuk menangkap mangsanya. Itu tentu bukan lagi pemandangan aneh bagi kita. Hampir setiap hari saat saya menulis renungan ini atau bekerja menyelesaikan artikel-artikel kerjaan, cicak ada di dinding di depan saya. Meski banyak yang geli kepada cicak terutama ekornya, kita harus angkat topi kepada cicak yang bisa begitu sabar berdiam tanpa bergerak sedikit pun untuk bisa menjebak mangsanya seperti nyamuk, semut atau serangga lainnya. Seringkali cicak hanya menanti hingga mangsa itu mendekat, kalaupun harus bergerak maka cicak akan bergerak mengendap-endap secara perlahan agar mangsanya tidak keburu kabur ketakutan.

Cicak hanyalah hewan lemah yang tak berdaya. Cicak bukanlah seperti ular yang bisa mematuk dan mematikan, cicak juga bukan seperti landak atau kumbang pembombardir yang meski lemah dan tak berbahaya tapi punya sistem pertahanan luar biasa. Apa yang bisa dilakukan cicak hanyalah memutuskan ekornya yang akan terus menggeliat-geliat untuk mengelabuhi musuh sementara ia lari menyelamatkan diri. Untuk menangkap cicak pun bisa dilakukan dengan tangan kosong saja. Anda bahkan bisa membunuh cicak dengan begitu mudahnya. Tetapi lihatlah bahwa meski lemah, cicak seharusnya bisa menginspirasi kita dalam hal kesabaran. Tanpa kesabaran, niscaya semua cicak akan mati kelaparan karena tidak mendapat buruan. Selanjutnya perhatikan pula hal yang tak kalah menarik. Meski tergolong hewan lemah tanpa defense system dan lethal weapon, bukankah cicak ada dimana-mana, bahkan di rumah-rumah mewah atau bahkan istana sekalipun?

Cicak pun dicatat di dalam Alkitab untuk dijadikan contoh bagi kita manusia yang jauh lebih kuat dan pintar serta berakal budi. Dari empat sosok binatang yang kecil tetapi sangat cekatan di muka bumi ini seperti yang disebutkan oleh Agur Bin Yake dalam Amsal 30, salah satu yang disebutkan adalah cicak. Katanya: “cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.” (Amsal 28:30). Empat hewan yang sangat cekatan, atau dalam bahasa Inggrisnya disebutkan sebagai “exceedingly wise” atau sangat bijaksana, dan cicak termasuk didalamnya. Cicak memang bukan hewan yang harus ditakuti, bahkan mudah kita tangkap dengan tangan, tetapi cicak bisa berada di istana-istana raja. Kita yang jauh lebih kuat dan besar dibanding cicak saja mungkin belum tentu diperbolehkan menginjakkan kaki di istana. Tapi cicak bisa, dan keberadaan mereka tidak akan dipermasalahkan bahkan oleh raja sekalipun.

Mengapa cicak tidak harus dibunuh meski masuk ke dalam istana? Cicak bukanlah hewan buas yang bisa merepotkan. Selain itu cicak pun lumayan berguna karena mereka memakan serangga-serangga yang merugikan seperti nyamuk. Meski lemah, ternyata cicak tidak membahayakan malah berguna, dan karena itu mereka bisa berkeliaran dengan bebas di dalam istana. Dalam melakukan itu, cicak bisa begitu sabar menanti buruannya. Cicak tidak terburu-buru dalam memangsa. Mereka sangat tenang dan sabar. Dan itu menjadi sebuah kelebihan yang bisa kita jadikan pelajaran.

Berbeda dengan cicak, kita seringkali terbentuk menjadi manusia yang tidak sabaran. Menunggu sebentar saja bisa membuat kita marah-marah. Dalam menghadapi masalah, sabar kerap menjadi pilihan terakhir bahkan terabaikan. Kita gampang panik dan terburu-buru sehingga seringkali mengambil keputusan-keputusan yang salah akibat ketidaksabaran kita sendiri. Menghadapi orang-orang yang sulit kita malah berlaku lebih sulit lagi ketimbang bersabar.

Orang semakin berlomba cepat dan membuang sabar dari sikapnya. Semua harus cepat karena kita sangat suka berkejar-kejaran dengan waktu. Makanan fast food terus tumbuh subur. Koneksi internet harus berkecepatan tertinggi, mobil harus secanggih mungkin, bermesin besar dan bertenaga besar agar bisa mendorong kendaraan untuk melaju sekencang-kencangnya. Buruh dituntut bekerja secepat-cepatnya dengan upah yang serendah mungkin. Jasa kurir terus berlomba menyediakan layanan paling cepat, sehari sampai ke seluruh pelosok daerah, jika tidak maka mereka akan tertinggal dan dilupakan orang. Orang tidak lagi sabar menghadapi kemacetan dan antrian. Orang tidak lagi mau menikmati proses. Kesibukan bekerja, banyaknya aktivitas dan lain-lain seringkali menjadi alasan bagi kita untuk tidak bersabar. Tenang? Itu bukan pilihan. Dan kita tetap menutup mata meski ketidaksabaran kita sudah mendatangkan banyak kerugian dalam hidup. Coba renungkan ada berapa banyak peluang yang baik dalam hidup ini kemudian terlewatkan begitu saja hanya karena kita tidak cukup sabar dalam meraihnya. Mengenai sikap seperti ini, agaknya benar bahwa kita harus bisa belajar dari cicak, mahluk yang lemah dengan sistem pertahanan yang seadanya, tetapi sangat luar biasa dalam hal kesabaran.

(bersambung)

5 pencarian oleh pembaca:

  1. kelebihan cicak language:id
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.