“Charlie and The Chocolate Factory”, Orang Miskin yang Bermartabat

< ![endif]-->

FILM yang dirilis tahun 2005 ini merupakan adaptasi dari buku anak-anak terkenal karya Roald Dahl (1964). Roald Dahl merupakan penulis Inggris keturunan Norwegia kelahiran tahun 1916 dan meninggal pada 1990. Sutradara film sukses yang mendulang $475 juta dan hanya  bermodalkan $150 juta ini adalah Tim Burton (karyanya yang lain Alice Wonderland).

Film ini mulai direncanakan pada 1991, tetapi baru diselesaikan pada 2005, setelah mengalami pergantian naskah berkali-kali. Penyebabnya adalah karena keluarga Roald Dahl menghendaki naskah sedekat mungkin mirip dengan buku aslinya, tidak seperti adaptasi pertama buku tersebut yang berubah dalam bentuk selulod berjudul ‘Willy Wonka & the Chocolate Factory yang sangat mengecewakan Roald Dahl.

Aktor watak Johnny Depp berperan sebagai Willy Wonka, Freddie Higmore (pemeran Norman Bates dalam serial Bates) sebagai Charlie Bucket. Satu hal unik dalam film ini adalah penampilan  puluhan Oompa Loompa,  pekerja pabrik yang suka menyanyikan lagu jahil ketika seorang anak terjatuh dalam ‘pencobaan. Ssebenarnya tokoh ini hanya diperankan oleh satu orang saja yaitu aktor Deep Roy. 

Kisah fantasi tentang pencarian ahli waris sebuah pabrik coklat yang luar biasa ‘canggih dan aneh’ ini memuat banyak nilai moral di dalamnya.

Charlie and the Chocolate Factory

Wisata bersama Willy Wonka (Johnny Depp), pemilik dan pewaris tunggal pabrik coklat Willy Wonka. (Ilustrasi/Ist)

Anak merupakan cerminan orang tua dan perwujudan didikan mereka. Hal ini dimunculkan secara implisit dan teaterikal dalam film tersebut. Kelima anak yang memenangi tiket emas untuk mengunjungi pabrik coklat Wonka bersama wali mereka benar-benar menggambarkan peribahasa ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’.

August yang dimanjai dengan makanan berlimpah dan tidak pernah puas; Violet yang diajari menang adalah hal paling utama; Veruca yang dituruti berlebihan dengan keinginan apa pun yang dimintanya, dan Mike yang dibiarkan terobsesi dengan games komputer dan kurang beretika. Kepada keempat anak ini ingin ditunjukkan pemandangan  satu persatu gagal dalam perjalanan sehari tersebut.

Masing-masing menemui nasib buruk akibat perbuatan jelek mereka sendiri. August yang jatuh ke danau coklat diisap ke tabung; Violet yang mengunyah permen karet inovasi percobaan berubah menjadi blue berry; Veruca yang dianggap buah kenari jelek oleh para tupai yang ingin dimilikinya dibuang ke tempat penampungan sampah, dan Mike yang sok pintar menyusut menjadi sebesar tikus karena mencoba transporter coklat Wonka.

Charlie Bucket yang dari awal digambarkan sebagai anak baik, tidak mengeluh, bertutur kata sopan, dan murah hati merupakan produk didikan orang tua termasuk kedua pasang kakek neneknya. Tinggal di rumah reyot bersama keluarganya – kedua orang tua plus dua pasang kakek nenek yang tidak pernah meninggalkan tempat tidur – tentu bukan hal yang mudah karena semua tergantung pada gaji ayahnya yang hanya buruh di pabrik pasta gigi.

Terlebih lagi ketika ayahnya diberhentikan karena digantikan mesin. Menu mereka sehari-hari sama – sup kubis encer. Satu-satunya ‘kemewahan’ bagi Charlie adalah sebatang coklat seharga satu dolar pada setiap hari ulang tahunnya. Itu pun dengan senang hati dibaginya ke seluruh anggota keluarganya.

Ketika pada akhirnya Charlie beruntung mendapatkan tiket emas terakhir, hal yang didambakannya melebihi apa pun, toh dia mengusulkan tiket itu dijual supaya keluarganya tidak kelaparan. Kemampuan berkorban luar biasa ini dicegah oleh Kakek George yang memberitahu dia bahwa tiket emas itu lebih berharga dari uang apa pun di dunia. Maka jadilah ia menuju petualangan melihat pabrik coklat Wonka, ditemani Kakek Joe yang pernah bekerja di situ.

Charlie and the Chocolate Factory 2

Lima anak beruntung mendapat ‘tiket wisata’ berkeliling Pabrik Coklat Willy Wonka; namun tak semua berakhir sukses, lantaran terlalu ambisius dan terkendala oleh beberapa watak perangai yang tidak baik. Hanya Charlie Bucket yang berhasil memenangkan ‘pertandingan’ ini. (Ilustrasi/Ist)

Keluarga yang Utama

Cerita ditutup dengan keberhasilan Charlie sebagai peserta yang bertahan sampai akhir – maka hadiah sebagai pewaris pabrik coklat Wonka diberikan kepadanya. Tetapi Charlie menolaknya dengan tegas karena Willy Wonka memintanya pindah sendiri – tanpa keluarganya. Willy Wonka terperangah karena baginya keluarga bukan hal yang penting malahan menjadi perintang hidup dan kariernya, seperti pengalaman pribadi dengan ayahnya yang melarangnya makan permen dan coklat.

Kepribadian emas Charlie ditunjukkan lagi ketika dia menawarkan untuk menemani Willy Wonka bertemu kembali ayahnya setelah puluhan tahun Willy meninggalkan rumah tanpa pernah mengirim kabar. Sebuah pelajaran mahal tentang keengganan menunjukkan kasih sayang, membuat Wilbur Wonka kehilangan anaknya.

Pertemuan mereka akhirnya menghangatkan kembali hati Willy ketika mengetahui ayahnya rupanya mengikuti perkembangannya dengan mengkliping seluruh berita tentang coklat Wonka dan sebuah pelukan di antara mereka melumerkan kebekuan ayah dan anak tersebut.

Film tersebut ditutup dengan adegan hangat dimana Willy Wonka makan malam dengan keluarga Bucket. Seperti musim dingin yang berganti musim semi.

Sebuah film keluarga yang sayang sekali kali dilewatkan dan buku cerita yang sangat layak dihadiahkan kepada anak-anak.

Photo credit: Ilustrasi/Ist

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. tokoh willi wonka
  2. kata kata willy wonka
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: