CERPEN : Menjahit Pakaian Sobek (1)

SIANG itu, tanggal dua puluh enam, Bulan Desember, tahun dua ribu sepuluh, seorang anak kecil bertelanjangkan dada dan tidak memakai sandal, berjalan memasuki sebuah kompleks perumahan yang cukup elit dan berkelas. Di tangannya, dia memegang sebuah alamat rumah dan rupanya anak itu sementara mencari alamat yang berada dalam genggamannya.

Di tengah kebisingan siang yang semakin membakar kulit, dia tidak pernah menghiraukan terik yang saat itu sementara memanggang dirinya. Dalam hatinya, dia hanya berharap semoga apa yang dia cari bisa segera didapatinya.

Dari raut wajahnya, tidak tampak rona kegelisahan. Yang ada hanyalah rona kesemangatan. Denyut nadi dan irama darahnya pun tak henti-hentinya memacu semangatnya untuk terus dan terus mencari tahu alamat itu. Tepat di sebuah persimpangan dan masih di dalam kompleks itu, dia duduk terpekur karena keletihan yang telah menggorogotinya. Kerongkongannya pun terasa kering. Tapi dia tetap bersemangat.

Tekadnya hanya satu, bisa menemukan alamat itu. Dalam terpekurnya, datanglah seorang bocah kecil dan mungkin kira-kira berusia lima tahun. bocah itu menghampirinya dan menyapanya dengan sapaan yang terasa halus dan mungkin dia belum pernah mendengar kalimat sehalus itu. “Maaf, kakak mencari siapa?” begitulah kalimat pembuka yang ditanyai bocah itu dengan dialek Jakarta.”

Dia belum menjawab pertanyaannya. Bocah kecil itu kembali bertanya, “Maaf, kakak mencari siapa?”. Lagi-lagi bocah itu kembali bertanya dan semakin mendekat serta menepuk pundaknya, “Maaf, kakak mencari siapa?”. Dia memalingkan wajahnya dan menatap bocah itu dengan sebuah tatapan yang belum dimengerti oleh bocah itu. Saat itu terjadi sebuah pertanyaan dan sebuah jawaban.

Namun, itu semua belumlah lengkap, sebab apa yang ditanyakan bocah kecil itu masih merupakan sebuah tanda tanya. Dan tentunya tanda tanya itu bukan miliknya bocah itu, melainkan miliknya juga. Siapa yang akan menjawabnya? Karena melihat belum ada sebuah jawaban, bocah itu kembali menyapanya. “Maaf, kalau boleh tahu sebenarnya kakak sementara mencari siapa? Saya sudah bertanya berkali-kali tetapi kakak tidak mau menjawabnya.
Kalau boleh tahu, kakak mencari siapa?”. Setelah bertanya, bocah kecil itu sembari memberikan senyum kepadanya, dan dia pun membalas senyumannya serta memegang jari-jari lentiknya. Bocah itu membiarkannya sebagai bagian dari keakraban. Dia terus memegang jarinya dan tersenyum serta menatap bola matanya. Bocah kecil itu dengan tersenyum dan memperhatikan bola matanya.

Rupanya apa yang disembunyikannya, bisa ditebak dan bisa dibaca oleh bocah itu. Ternyata bola mata bisa dijadikan sebagai jawabannya. Bola mata adalah tempat dan jawaban dari semua pertanyaan. Bola mata juga merupakan bagian dari yang tak tersembunyi. Bola mata adalah suara dari sebuah suara yang tidak bisa dibohongi. Bola mata adalah permainan kata-kata dalam mencari sesuatu jawaban. Dan bola mata juga adalah percikan kasih sayang karena di dalamnya tersimpan dan terbungkus sebuah makna kejujuran.

Dengan bola mata-lah seseorang bisa mengerti akan sebuah perasaan. Dan dengan bola mata pulalah, yang buta bisa melihat dan yang tuli bisa mendengar, karena bola mata adalah jalan menuju sesuatu yang ingin dicapai.

Dia masih menatap bocah itu. Jari-jemarinya menjadikan jari-jarinya bocah itu bagaikan tali gitar. Dengan penuh perasaan, dia memencet jari-jarinya bocah itu dan sesekali terdengar bunyian. Tapi bunyian itu hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Bocah itu semakin terlena dan terbawa dengan setiap goresan yang dia goreskan dengan jarinya sendiri di jarinya.

Jari-jarinya yang lentik telah membungkus bocah itu dengan kasih sayang, dan menjadikannya sebagai kain penghangat tubuh dikala hawa dingin menggigit dengan dinginnya. Dia dan bocah itu sama-sama menikmati dinginnya permainan itu. Dia menyukai jari-jarinya bocah karena mudah digerakan dan mudah diputar bagaikan tali gitar sehingga terdengar sebuah nyanyian merdu hasil anyamannya bersama hasil simpulan yang telah disiapkan bocah itu.
Bocah itu tidak melarangnya. Bocah itu mengijinkannya untuk terus dan terus memainkan bunyian. Bocah itu pun bernyanyi karena ada untain music di sampingnya. Dia membiarkan bocah itu bernyanyi. Suara merdunya telah meluluh lantakan bahkan telah merobek sebagian jantungnya, sehingga dengan sedikit bernapas dia menebarkan senyum.

Suasana pun termakan senyum karena senyum adalah obat. Karena senyum adalah gambaran jati diri. Karena senyum adalah langkah menuju kebahagiaan. Karena senyum seseorang bisa memperoleh cinta dan kasih sayang. Karena senyum pulalah, banyak orang telah mendapatinya. Dan melalui senyum-lah, kupu-kupu dan sekuntum bunga di taman bisa saling menerima dan saling mengerti perasaan.

Senyum bisa menyembuhkan segala luka yang belum disembuhkan. Senyum bisa membangkitkan semangat dalam mengejar cita-cita dan masa depan. Senyum bisa membuat seseorang jatuh cinta. Senyum bisa membuat seseorang terperosok di tengah jalan. Senyum bisa menghangatkan suasana. Senyum bisa membekukan suasana. Senyum bisa membaca sisi yang tersembunyi. Dan senyum bisa menenangkan seseorang ketika orang itu gagal bahkan remuk dalam persaudaraan. Dan senyum-lah jawaban dari sekian banyak senyum yang selama ini dicari seseorang dalam hidupnya.

Bocah itu meremas-remas jarinya pertanda ada sebuah jawaban atas sebuah alamat yang dia genggam dalam genggamannya itu. Melalui remasan itu, dia mengerti dan dia tahu bahwa alamat yang dia cari telah berada di depannya. Karena tanpa sebuah genggaman yang dimainkan jari-jemarinya, dia tidak akan pernah tahu tentang alamat itu. Dia memegang kedua jarinya dan tersenyum seraya berkata, “Dik…yang kakak cari inilah jawabannya. bersambung

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.