Catatan Malam

Pengurapan Mak Marlina

SEMENTARA Takbir bersahutan
dan kembang api serta mercon
berdentuman di kejauhan
kucatatkan hal-hal ini

pagi ini tadi
setelah Misa Pagi
secara berturutTurut
kulayankan Pengurapan Suci
kepada Mak Marlina
dan Mak Goni

yang pertama di rumah sendiri
di Widosari
yang kedua di rumah sakit
di jalan dokter cipto Pantiwilasa

tentang yang Pertama
saatku diantar ke kamar
tempat Mak Marlina terbaring
dan kulihat Dia maka kusapa
+ halo Mak selamat pagi
dan dijawabnya
dengan kedipan mata
aku sudah Paham
disambutnya daku penuh Cinta

makaku Berani bertanya lagi
+ usia Mak berapa ya
kudengar jawaban lirih
dan dengan suara sengau
: “cepektya….”
(tentu saja kubingung mendengarnya dan lagi bertanya)
+ berapa Mak
(sambil kutatap Lembut)
+ “cepek ya” (masih lirih-sengau)
(kian Bingung aku
apa iya usianya seratus tahun…
… makaku tanya lagi berapa)

sambil menatap Ia berkata lagi
: coba tebak ya…

oh my God… tampaknya pagiPagi
telingaku sudah Ngadat
makanya ucapan Lirih dan sengau
coba tebak ya terdengar cepektya
atau cepek ya…. oooalaaaahhh

hebat sekali Mak Marlina
sudah Sakit masih bisa Bercanda
+ wah berapa ya Mak
– lalu kupancing dengan Tanya –
+ lahir tahun berapa ya

namun ternyata
tak Terpancing juga
tapi lantas dia berjawab sendiri
: delapan puluh
(meski wajahnya
tak setua usianya)

+ cucu berapa Mak
: lima dari lima anak

semua dikatakan dengan Lirih
kadang nyaris tak Terdengar
tapi hatinya tetap Tegar

dan kami pun mulailah
upacara Pengurapan Suci
terjadilah penuh Berkah
kulihat air matanya mengalir
sesudah Minyak Suci kuurapkan

Pengurapan Mak Goni
Pengurapan Mak Goni

usai pengurapan Mak Marlina
kami langsung meluncur
menuju RS Pantiwilisa di Dr Citpo

di ruang itu Mak Goni
terbaring Koma
dengan Nafas satu demi Satu

kubisikkan di Telinganya
namaku dan kuajak Berdoa

bagi Mak Goni usai Pengurapan
masih kudaraskan Doa Koronka
mengingat keadaannya
biarlah Kerahiman Ilahi
menjadi Benteng terakhir
bagi Hidupnya

sebelum menutup dengan Berkat
kuberkidung pula baginya
+ ke dalam TanganMu
kuserahkan diriku
ya Tuhan Penyelamatku
Engkaulah Penebusku
ya Allah yang benar
kemuliaan kepada Bapa dan Putra
dan Roh Kudus…

laluku berpamitan Pulang
untuk menikmati Sarapan

terima kasih Tuhan
boleh mengalami halHal
yang seperti ini
tiga tahun terakhir ini
dan Belakangan ini
sengaja kujadikan Puisi
untuk diriku sendiri
sebagai sebuah Dokumentasi
syukur bila pula jadi Evangelisasi
sebentuk Kesaksian mini
melulu amrih mulya Dalem Gusti
(terima kasih Hwa Sen, Hanna
dan Tesarayana yang menyertai)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.