Cari Selamat Sendiri (1)

Ayat bacaan:Yohanes 5:7
======================
“Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”

Para koruptor malah merupakan orang-orang yang sebenarnya masih kaya tapi tetap saja merasa kurang banyak. Bahkan mereka rata-rata sudah berada sebelum melakukan korupsi. Mengemplang hak orang lain lewat cara-cara curang jelas merugikan banyak orang dan hanya menguntungkan pribadi atau golongan, tetapi itu tega dilakukan semata-mata karena ketamakan dan berpusat pada kepentingan diri sendiri. Semakin lama semakin banyak orang yang tidak lagi punya empati. Manusia berubah menjadi individu-individu yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak lagi peduli terhadap nasib orang lain. Jangankan membantu, kata-kata yang tajam dan kasar pun tanpa rasa bersalah dilayangkan kepada orang yang sedang berada dalam kesusahan.

Sebagian besar orang selalu merasa kekurangan dan tidak pernah merasa cukup. Mereka cenderung menimbun dan menimbun dan merasa rugi untuk menabur. Mereka terus mengejar harta dan tidak lagi tahu bersyukur. Kalau kita peduli, sebenarnya ada begitu banyak masalah di sekitar kita. Ada banyak orang yang butuh bantuan di sekeliling kita, ada banyak yang masih harus dibereskan. Seandainya saja orang-orang percaya mengikuti apa yang disuarakan Kristus mengenai saling tolong menolong, kalau saja kita mengimani betul bagaimana kasih Allah, maka rasanya jumlah orang yang menderita bisa menurun dengan sangat drastis dan bangsa bisa menjadi lebih makmur. Benar, merupakan salah satu pekerjaan rumah pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya. Tapi apakah benar kita tidak punya peran disana?

Dalam hal kerohanian pun begitu. Kita semua ingin selamat, tidak satupun dari kita yang ingin berakhir dalam siksaan kekal, namun berapa banyak di antara kita yang peduli kepada nasib begitu banyak saudara-saudara kita lainnya? Sikap cari selamat sendiri kalau perlu mengorbankan orang lain jauh lebih populer dibandingkan berkorban untuk orang lain. Nanti dulu soal berkorban, untuk hidup menikmati hak sendiri tanpa merampok hak orang lain pun sudah semakin sulit untuk dilakukan. Itu pola pikir dunia yang sayangnya sudah merasuk orang-orang percaya. Padahal itu bukanlah sebuah sikap yang diinginkan oleh Tuhan dari anak-anakNya.

Akan hal ini, ada sebuah kisah dari perjalanan Yesus di muka bumi yang menarik untuk disimak. Mari kita lihat lagi kisah kedatangan Yesus ke kolam Betesda dalam Yohanes 5:1-18. Kolam Betesda adalah tempat dimana orang-orang sakit bisa berharap untuk disembuhkan. Ada malaikat-malaikat yang muncul sewaktu-waktu di sana, dan begitu air diguncangkan oleh para malaikat itu, maka orang sakit yang pertama kali masuk menceburkan diri ke kolam akan sembuh, apapun penyakitnya. Tidaklah heran jika ada begitu banyak orang sakit berada di setiap sisi lokasi, baik di serambi atau koridor yang menuju ke kolam. Dari kisah ini kita bisa mengetahui bahwa sifat mementingkan diri sendiri atau cari selamat sendiri sebenarnya sudah berlangsung sejak dahulu kala.

Pada saat itu ada seorang yang sudah mengalami sakit selam 38 tahun lamanya (ay 5). Yesus yang berada disana kemudian menemuinya seraya bertanya, “Maukah engkau sembuh?” (ay 6). Lihatlah bagaimana jawaban orang tersebut: “Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” (ay 7). Seperti itulah manusia pada umumnya, yang hanya peduli kepada keselamatan diri sendiri tanpa mau memikirkan orang lain. Apa yang terjadi jika ada yang sembuh? Sepertinya mereka akan langsung pulang tanpa mempedulikan orang lain yang menderita disana. Mengapa tidak bergantian saja? Bukankah kegembiraan setelah disembuhkan seharusnya menggerakkan orang untuk menolong sesamanya? Ternyata tidak. Yang penting diri selamat, yang lain ya urus sendiri saja. Itulah gambaran sifat banyak orang.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.