“Captain America”, Jangan Pulang ketika Film berakhir

FILM anyar bertitel Captain America: The Winter Soldier yang baru dirilis pada 13 Maret 2014 akhirnya sukses besar mendulang pundi-pundi bagi Marvel Studio. Film besutan duet dua bersaudara, Anthony Russo dan Joe Russo ini tampaknya masih akan lama bercokol di layar lebar di banyak negara termasuk Indonesia.

Apa sih bagusnya?

Film aksi dengan tokoh hero tidak selalu menjamin kesuksesan filmnya. Skenario, karakter, dan strategi pemasaran yang tepat berperan signifikan dalam menentukan nasib film tersebut. Semuanya, paling tidak sebagian besar, tampaknya dimiliki oleh The Winter Soldier ini.

Penyesuaian hidup Captain America yang dibekukan selama 70 tahun dengan dunia modern sekarang; relasi erat yang dimilikinya dengan sahabat lamanya Bucky; aksi seru yang ditampilkan hampir sepanjang 136 menit; ditimpali gaya dan humor para karakter pendukungnya; semua tercampur dengan rapi dan luwes membuat penonton bertahan sampai film selesai.

Tokoh Black Widow (Scarlett Johansson) yang sempat-sempatnya mengatur perjodohan untuk Captain America di sela-sela pertempuran, tokoh Falcon (Anthony Mackie) dengan kostum sepasang sayapnya yang membuatnya bisa terbang sehebat elang, menjadi bumbu yang pas untuk ramuan film ini. Apalagi ditambah ‘santan gurih’ berupa penampilan akting menyakinkan aktor kawakan Robert Redfordsebagai tokoh antagonis Alexander Pierce.

captain_america-1584503-1920x1200

Otot kawat balung wesi adalah andalah kekuatan Captain America: The Winter Soldier, film anyar yang mengadopsi cerita komik karya Marvel (Ilustrasi/Ist)

Aktor senior yang telah berusia 77 tahun ini telah mengoleksi dua piala Oscar, termasuk di antaranya Oscar untuk Lifetime Achievement pada tahun 2002.

Strategi pemasaran film ini menarik untuk dibahas oleh mahasiswa ekonomi dan komunikasi. Bagaimana suatu iklan ditampilkan, seperti sepotong kecil gambar perisai Captain America yang penyok menyiratkan serunya pertempuran yang dialaminya. Pemunculan tokoh hero tersebut di Disneyland dan aplikasi komputer gratis yang memungkinkan penggunanya seakan berfoto bersama sang tokoh sampai kemunculan di New York Stock Exchange; semuanya menggiring para penonton potensial untuk melirik dan menantikan pemutaran film tersebut.

Jangan pulang dulu

Cerita film ini sebenarnya agak absurd dan mudah-mudahan cuma fantasi yang tidak akan terjadi di dunia nyata. Dikatakan bahwa SHIELD disusupi demikian rupa oleh kelompok yang berakar pada Nazi Hitler, yang ingin mewujudkan dunia yang ‘murni’ dengan ‘membuang’ orang-orang yang dianggap ‘tidak layak’ menghuni bumi.

Dunia akan dibuat sedemikian rupa sehingga masyarakat bersedia menukar kebebasannya demi alasan keamanan. Captain America dengan cerdas mengkritik hal tersebut ketika dia melihat proyek ambisius tersebut pertama kalinya.

Menarik sebagai hiburan, tentu saja. Hanya satu pesan, jangan pulang dulu ketika lampu-lampu bioskop dinyalakan. Duduklah dengan tenang menunggu sederetan nama-nama ‘tukang film’ dimunculkan di layar. Karena masih ada adegan penutup penting – khas Marvel – yang menjadi benang merah untuk sekuel film berikutnya.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.