Buta Rohani (2)

(sambungan)

Kemarin kita melihat bagaimana kebutaan rohani bisa menimpa para murid yang tengah bersama Yesus. Hari ini mari kita lihat bagaimana reaksi orang-orang Farisi yang merasa paling paham soal agama menyikapi mukjizat kesembuhan yang diperoleh orang buta itu dari Yesus. Kalau para murid-murid saja sudah salah dengan menanyakan hal yang buruk, perhatikan bagaimana orang Farisi yang merasa diri paling sempurna, suci dan bersih mengomentari hal ini. “Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian pula berkata: “Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?” Maka timbullah pertentangan di antara mereka.” (ay 16). Yesus pun kemudian mengatakan kepada mereka “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.” (ay 39). Bukannya sadar dan malu, para imam Farisi malah menyindir Yesus. “Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” (ay 40). Perhatikan bahwa mereka sama sekali tidak merasa bersalah. Kira-kira begini sinisnya mereka: “Jadi katamu kami ini buta?? Kami ini orang-orang paling benar di dunia tahu!?” Melihat kebodohan mereka, Yesus kembali menegaskan kalimatnya. “Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.” (ay 41).

Apa yang dimaksud Yesus lewat penegasan ini? Yesus mengingatkan mereka bahwa tidaklah baik atau bahkan dosa ketika kita menganggap diri paling benar lalu merasa berhak menghakimi orang lain. Adalah sebuah kebodohan pula untuk mementingkan tradisi-tradisi ketimbang menyatakan kasih kepada setiap orang tanpa terkecuali. Bukannya senang melihat ada orang disembuhkan, yang diributkan malah hukum-hukum Taurat yang diberlakukan kaku. Bukankah ini menunjukkan tingkat kebutaan rohani yang parah? Kedatangan Yesus ke dunia untuk membebaskan orang dari dosa dan memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang Kerajaan Allah. Yesus menjungkir balikkan pandangan-pandangan keliru. Yesus meluruskan persepsi-persepsi yang salah yang ada di dunia selama ini dan menggenapi semuanya. Jika kita selama ini merasa paling tahu apa yang benar, maka Yesus membawa kebenaran yang sesungguhnya dari Bapa. Jika kita menolak kebenaran dan menganggap kita lebih tahu, maka sesungguhnya kitalah yang buta dan akan tetap buta. Kedatangan Kristus pun menjadi sia-sia bagi kita yang keras hati seperti ini, sehingga kalau dibiarkan maka kita tidaklah termasuk orang yang menerima anugerah keselamatan yang sudah dengan susah payah dijalani oleh Yesus sendiri.

Injil Yohanes pasal 9 ayat 1 sampai 41 ini membawa kita untuk melihat dua jenis reaksi dari tipe orang buta secara rohani. Hal yang sama masih terjadi sampai hari ini. Kalau kita periksa diri kita masing-masing, apakah atau masihkah kita termasuk satu diantara kedua tipe ini, atau malah dua-duanya sekaligus? Apakah kita masih termasuk yang buta dalam melihat orang-orang yang susah, cenderung sibuk menjadi komentator dengan bahasa-bahasa dan gerak tubuh negatif ketimbang tergerak untuk membantu? Apakah kita merupakan orang-orang yang aktif menyatakan kasih secara nyata atau hanya suka menghakimi, menghina dan mengejek? Ini pertanyaan penting yang harus kita renungkan. Yesus berpesan bahwa kita harus melakukan pekerjaan Tuhan selama masih ada waktu dan kesempatan. Kata Yesus: “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (ay 4). Jadi bukan saatnya lagi cuma bicara, apalagi membicarakan dosa orang lain, gosip, mengatai orang dan sebagainya. Berhentilah melakukan itu. Mulailah mengambil tindakan nyata selagi “hari masih siang” alias waktu kesempatan masih terbuka. Mengatai, menggosipkan , membicarakan orang lain apalagi menuduh yang bukan-bukan merupakan perilaku yang sangat buruk di mata Tuhan. Hal tersebut tajam adanya dan bisa sangat melukai. Dalam Amsal dikatakan: “Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam.” (Amsal 25:18).

Bentuk-bentuk perkataan yang tidak pada tempatnya itu pun sama halnya seperti menghakimi orang lain. Apa kata Yesus mengenai hal menghakimi? “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2). Oleh karena itu, daripada melakukan hal yang mendatangkan masalah bagi kita dan menyakiti orang lain, lebih baik kita mengambil tindakan nyata dengan mengasihi dan memberkati orang banyak. Masih begitu banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan di ladang Tuhan, ketimbang melakukan hal yang sia-sia lebih baik kita terjun bekerja disana selagi masih ada kesempatan.

Hindari menghakimi orang lain dan bersikap seakan paling suci dan benar, teruslah mengasihi dan memberkati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.