Buta Rohani (1)

Ayat bacaan: Yohanes 9:2
=====================
“Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”

Buta Rohani

Buta Rohani

Jika mendengar kata buta, rata-rata pikiran orang akan mengacu kepada orang yang mendapat gangguan penglihatan sehingga tidak bisa melihat alias tuna netra. Ada pula orang yang bermasalah membedakan warna sehingga disebut buta warna. Lantas bagi yang tidak bisa membaca sering disebut buta huruf. Pendeknya, buta merupakan ketidakmampuan untuk melihat atau membedakan sesuatu. Jika ini yang menjadi dasar penyebutan buta maka ada buta-buta lainnya yang relatif lebih jarang diperhatikan seperti buta akan kebenaran, buta terhadap peraturan sampai buta rohani. Ada orang-orang yang buta penglihatan tapi mata hatinya berfungsi baik dan tajam, sebaliknya ada pula yang matanya tidak ada gangguan tapi mata hatinya buta sehingga sulit membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah. Atau perhatikan orang yang hanya melihat keburukan orang lain dan selalu berkata negatif, tapi tidak mau melihat hal-hal positif dari seseorang atau sebuah kejadian. Tanpa melihat lebih jauh mengenai kebenarannya dulu kita sudah buru-buru menghakimi orang lain. Hal seperti ini bukan saja terjadi di antara orang-orang dunia, tetapi di antara anak Tuhan sendiri bisa terjadi. Secara tidak sadar kita bisa mengeluarkan ucapan-ucapan yang secara tidak langsung menyakiti orang lain, menyudutkan dan menjatuhkan. Komentar-komentar yang selintas, sambil lalu, tanpa kita tahu kebenarannya tapi menyakitkan orang yang kita komentari. Sikap seperti ini pun sering dianggap wajar alias manusiawi, padahal tidaklah demikian kalau mengacu kepada ketetapan Tuhan.

Ironisnya, sikap seperti ini pernah terjadi di antara murid-murid Yesus sendiri. Mari kita lihat sepenggal kisah perjalanan Yesus bersama para murid dalam perikop berjudul “Orang yang buta sejak lahirnya” dalam Yohanes 9:1-41. Pada suatu hari ketika Yesus sedang berjalan bersama murid-muridNya ada seorang pengemis yang buta sejak lahir melewati mereka. Melihat kehadiran pengemis tuna netra tersebut, sontak murid-murid Yesus bertanya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yohanes 9:2). Aduh, betapa tidak pantas kata ini diucapkan, terlebih oleh murid-murid Yesus, ditanyakan kepada Yesus sendiri. Bayangkan seandainya pengemis buta itu mendengar, ia pasti akan merasa terpukul dan sedih dikatai seperti itu. Tidak bisa melihat dan hanya bisa mengemis, itu tentu sudah sangat menderita. Hidupnya susah dengan keterbatasannya. Tapi bukannya di bantu, diberi sedekah, disapa dengan ramah, yang ada malah dikomentari. Jelas perilaku seperti ini akan semakin menambah penderitaannya. “Kok sampai bisa buta begitu ya… apa karena dosanya sendiri atau orang tuanya..?” Seperti itulah kira-kira pikiran mereka. Para murid lupa bahwa kasih seharusnya tidak punya ‘output’ seperti itu. Mereka juga lupa bahwa mereka sendiripun sama-sama manusia yang tidak luput dari dosa. Belum tentu mereka lebih baik dari si pengemis buta itu. Mengeluarkan komentar seperti ini menunjukkan bahwa mereka pun buta, yaitu secara rohani. Mereka lupa diri, merasa hebat dengan status mereka sebagai murid Yesus sehingga seolah punya hak menghakimi secara tidak langsung dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas.

Menanggapi komentar murid-muridNya, ketimbang menjawab secara lisan Yesus memilih untuk melakukan sesuatu secara nyata. Yesus menyembuhkan pengemis buta tadi sehingga dia bisa melihat. Ini dikatakan sebagai sesuatu yang belum pernah dialami sang pengemis sejak lahir. Baru setelah itu Yesus menjawab: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (ay 3). Yesus mengatakan bahwa pekerjaan Allah harus dinyatakan dalam diri sang pengemis yang buta sejak lahir. Bukankah itu luar biasa? Sebelum bertemu Yesus, hidup baginya hanyalah kegelapan, dia tidak berguna. Ia diabaikan, tertolak dan tidak mendapat perhatian dari orang lain. Bertemu Yesus, ia mendapat perhatian, disembuhkan sehingga kini bisa melihat terang, dan kemudian dilibatkan dalam pekerjaan Allah! Ini sesuatu yang sungguh luar biasa. Perjumpaannya dengan Yesus merubah hidupnya. Ia dipulihkan dan menjadi kesaksian bagi banyak orang, termasuk para murid yang masih buta secara rohani.

Lihatlah betapa seringnya kita sebagai murid-murid Kristus jaman ini masih saja sering terpeleset dalam kesalahan yang sama. Ketika kita merasa diri sudah baik, sudah hidup benar, sudah rajin berdoa, sudah bisa hidup kudus, minimal rasanya tidak seburuk orang lain, kita bukannya mengasihi orang lain tetapi malah tega menghakimi dan mengomentari orang lain, menuduh yang bukan-bukan bahkan menghujat. Ini adalah sebuah sikap yang benar-benar harus kita jaga agar jangan sampai ada di pikiran atau hati kita sehingga menimbulkan kecemaran terhadap kita sendiri.

(bersambung)

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ilustrasi buta rohani
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.