Buli Minyak seorang Janda (1)

Ayat bacaan: 2 Raja Raja 4:1
======================
“Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.”

Mau cari duit ada banyak caranya. Ada cara yang cepat, ada yang butuh usaha. Ada yang mudah, ada yang sulit. Kalau mau dapat uang cepat modelnya macam-macam, mulai dari yang membutuhkan keahlian dan pengalaman, yang model piramid, investasi sana sini sampai berbagai bentuk penipuan dan kejahatan. Saya termasuk orang yang tidak tertarik untuk mencari uang dengan cara cepat. Buat saya, uang itu harus saya peroleh lewat butir keringat yang keluar. Jujur, bekerja dengan baik, tidak melihat orang lain sebagai peluang bisnis yang harus diprospek dan tidak harus pula dijadikan tempat berhitung untung rugi secara sempit. Selama yang saya kerjakan itu baik dan bisa memuliakan Tuhan, saya percaya Tuhan selalu bisa memberkati pekerjaan itu tanpa saya harus repot menipu, hitungan atau curang. Kenapa? Karena dari kecil saya memang dididik seperti itu. Untuk bisa memperoleh sesuatu saya terlebih dahulu harus bekerja keras dan giat, termasuk dalam belajar. Meski kedua orang tua saya termasuk berkecukupan, mereka tidak mau membiasakan anak-anaknya manja. Ketika diajarkan berusaha misalnya, saya disediakan modal, diajarkan caranya, lalu saya sendiri yang harus menjalankannya. Ayah saya setiap saat akan dengan senang hati membimbing dan membantu kalau ada hal-hal yang belum bisa saya atasi.

Saat kita berjalan mengarungi arus kehidupan, kita tidak bisa berharap terus berlayar di laut tenang. Akan ada waktu-waktu dimana angin bertiup kencang bahkan badai yang setiap saat bisa menenggelamkan kapal. Ada kalanya situasi baik dengan peningkatan, ada kalanya stabil, tapi ada waktu-waktu dimana kita harus mengalami situasi yang tidak menyenangkan atau bahkan penuh penderitaan. Ketika mengalami situasi menderita seperti itu, apa yang kita lakukan? Ini sebuah pertanyaan yang penting untuk kita renungkan, karena ada banyak orang termasuk orang percaya sekalipun yang lantas kecewa kepada Tuhan, meragukanNya dan meninggalkanNya. Tidak jarang pula yang akhirnya mengambil jalan yang salah, mengira jalan yang mungkin terlihat pintas dan menjanjikan itu sepertinya baik. Padahal mereka tengah menjerumuskan diri mereka lebih dalam lagi ke dalam kehancuran. Kita menuntut Tuhan untuk segera memberi jalan keluar atau solusi secara langsung, cepat dan terarah. Instan, tidak perlu pakai usaha lagi, tidak mau repot-repot lagi. Padahal Tuhan jauh lebih suka memberi modal kail dan ikan di laut ketimbang secara langsung menggelontorkan ikan dari langit.

Hari ini marilah kita melihat sekelumit kisah mengenai seorang janda dengan dua anak dalam kitab 2 Raja Raja. “Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.” (2 Raja Raja 4:1). Apa yang dihadapi janda ini sungguh berat. Sudah tidak ada suami, ia kemudian terlilit hutang dan harus terancam kehilangan kedua anaknya untuk melunasi hutang. Penagih hutang sudah datang, dan ia harus siap-siap untuk segera kehilangan anaknya yang sebentar lagi akan dijadikan budak. Bagaimana mungkin ini semua terjadi ketika suaminya dengan jelas dikatakan sebagai hamba Tuhan yang taat? Tapi itulah yang dialami oleh ibu janda ini. Untunglah ia tidak terjebak untuk mengambil keputusan yang salah dan mengambil sikap benar. Ia memilih untuk membawa persoalannya kepada Elisa dan tidak memilih untuk berputus asa, mencari kambing hitam dan lain-lain. Elisa pun kemudian bertanya apa yang bisa ia perbuat bagi ibu itu. Menariknya, Elisa menanggapi seperti ini. “Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.” (ay 2).

Perhatikan, Elisa bukannya segera memberi uang atau bereaksi secara langsung, tetapi ia menanggapi dengan menanyakan apa yang dipunyai si ibu. Sebagian orang mungkin akan marah dan segera pergi meninggalkan Elisa. Tapi si ibu menjawab bahwa ia tidak punya apa-apa lagi selain sebuah buli-buli berisi minyak. Perhatikan pula penekanan ibu janda ini berada pada ketiadaan, bukan kepada apa yang masih ia miliki. Tapi setidaknya ia masih mengingat sebuah botol berisi minyak miliknya yang tersisa.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.