Bukan Damai Melainkan Pedang

pedang

Senin 14 Juli 2014, Mat 10:34-11:1

PERNAH dalam suatu pertemuan seorang bapak ditanyai oleh kelompok:“ Mengapa bapak masuk katolik?”

Bapak itu menjawab dengan tenang: “Karena agama katolik tidak memaksa orang.Dan agama katolik itu rasanya begitu damai. Sudah lama saya mencari ketenangan dalam hidup saya, tetapi saya tidak menemukan. Tetapi ketika saya membaca apa yang tertulis dalam Injil Matius ini, saya jadi bertanya-tanya, mengapa Yesus mengatakan ini:’Jangan menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah seisi rumahnya.’

“Lalu bapak sekarang sudah merasa damai atau belum?”

Lalu bapak itu terdiam sejenak, lalu menjawab: “Hati saya damai, karena saya telah boleh menerima Yesus dalam hidup saya, tetapi dilain pihak saya masih tetap gelisah, karena isteri belum ikut saya, anak juga belum ikut saya semua, sehingga dalam rumah sering ada pertentangan”.

Nah justru inilah yang dimaksud bahwa Tuhan Yesus datang membawa pedang, sebab kehadiran Yesus dan panggilan Yesus terhadap manusia selalu menuntut sikap memilih “ikut atau tidak ikut”. Yesus tidak pernah memanggil orang secara paksa.

Perpecahan dalam keluarga itu diakibatkan karena pilihan masing-masing orang berbeda. Perpecahan dalam keluarga di dalam soal iman hanya bisa didamaikan dengan cara: Kerap diadakan doa bersama dalam keluarga, ada kemauan untuk bicara soal rohani,soal iman, soal keyakinan dan arah hidup dan lebih-lebih yang sudah merasa mantab, mau memberikan teladan dan memberi kesaksian nyata, sehingga orang lain dapat mengikutinya.

Anak tidak mau mengikuti bapaknya, kalau dalam soal agama harus selalu ada perintah. Dengan diperintah, anak merasa terpaksa. Anak bisa nampak rajin dan taat, tetapi kerap kali ia berceritera dengan teman-temannya bahwa ia terpaksa. Ia takut dengan bapaknya. Bimbingan dalam keluarga yang paling baik yaitu kalau bapak dan ibu mau membuat suasana damai dan suasana yang menyenangkan, rukun, sehingga seisi rumah merasa kerasan.

Nah dalam suasana damai inilah kasih Tuhan dapat dialami. Keluarga sibuk, dimana seluruh anggotanya hanya mementingkan acaranya sendiri dan tak pernah memberi perhatian satu sama lain, memang pada saat inilah pedang Kristus dapat dialami, yaitu masing-masing anggota terpisah satu sama lain, karena menolak kehadiran Kristus. Tetapi dimana anggota keluarga saling berbagi kasih, maka kehadiran Kristus akan kembali dirasakan dan akan ada kebaruan iman.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.