“Bukan Aku tapi Kita”, Diskusi Mahasiswa Indonesia di Guangxi Normal University, China

Pengantar Redaksi:

Dua mahasiswa Indonesia di Guangxi Normal University di Guilin, China, yakni Aulia Rahman dan Johanes Olivian Ariputra mengirim berita hasil diskusi bersama Konsul Jenderal RI di Guangzhou Bpk. AA Gde Alit Shantika. Berikut laporannya dan foto suasana diskusi yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Indonesia di Guangxi Normal University (HIMIGNU).

———————-

GUILIN, sebuah kota kecil, bersih dan indah di Provinsi Guangxi, China. Guilin menjadi mendunia karena destinasi wisata alamnya yang menawan. Apalagi menyusuri Li River dari dermaga Guilin menuju Yangshuo dimana di tepian sungai jalur kiri-kanan banyak bertebaran bukit-bukit karst yang menjulang tinggi di tengah hamparan pegunungan nan hijau.

Tapi Guilin bukan hanya cerita indahnya Sungai Li yang tersohor. Kali ini, kisahnya tentang kegiatan diskusi dan seminar yang diselenggarakan oleh setidaknya 100-an mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang tengah merajut ilmu di Guangxi Normal University di jantung kota Guilin di Provinsi Guangxi ini.

Guilin bisa ditempuh dengan penerbangan langsung dari Kuala Lumpur selama hampir 3 jam. Bisa juga dicapai dengan KA cepat dari Guangzhou.

Guilin seminar bersama Pak Konsul

Ceramah kebangsaan bersama Konsul Jenderal RI di Guangzhou, China Bpk. AA Gde Alit Shantika di Guangzxi Normal University, Guilin, China (Photo credit: Johanes Berchmans Olivian Ariputra)

Guilin bersama Pak Konsul salaman 2

Cindera mata untuk Bapak AA Gde Alit Shantika, Konsul Jenderal RI di Guangzhou, China usai menjadi pembicara utama dalam seminar kebangsaan yang digagas oleh para mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Guangxi Normal University, Guilin, China. (Photo credit: Johanes Berchmans Olivian Putra)

Bukan aku tapi kita

Mengambil topik diskusi bertema “Bukan Aku, tapi Kita”, arek-arek Indonesia yang tengah berkuliah di Guilin mengundang Bapak AA Gde Alit Shantika dari Konsulat Jenderal RI di Guangzhou sebagai pembicara  utama dalam seminar yang digagas PPI Tiongkok Cabang Guilin ini. Judul lengkap dan resminya adalah  ‘Mari bersatu Membangun Negeri-Bukan Aku Tapi Kita’.

Tujuannya memang idealis, yakni menstimulus kaum muda Indonesia dalam menggugah peran strategisnya sebagai agen-agen perubahan menuju tata  kelola negeri yang semakin baik.

Nation building

Menurut ketua panitia penyelanggara Aulia Rahman, Indonesia ‘lahir’ bukan secara kebetulan. Melainkan dirancang dan dibangun bersama oleh para pejuang kemerdekaan untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penindasan bangsa lain. Untuk itu, diperlukan sebuah nation bernama Indonesia sebagai identitas bersama yang menaungi seluruh elemen anak bangsa.

Diskusi itu menjadi penting, lantaran tahun 2015 ini akan dibukan keran perdagangan bebas. Pertanyaannya, adakah kita sebagai bangsa siap menerima segala konsekuensi logis dari era perdagangan bebas ini? Konkritnya, mampukah kita bersaing dengan anak-anak bangsa dari negeri lain yang akan berbondong-bondong masuk ke Indonesia untuk bekerja di Nusantara.

Itu berarti, lahan pekerjaan kita akan ‘direbut’ oleh kaum profesional dari negeri-negeri asing.

Guilin panorama seminar

Suasana seminar dan diskusi kebangsaan bersama Himpunan Mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang berlangsung di Guangxi Normal University, Guilin, China. (Photo credit: Johannes Berchmans Olivian Ariputra)

Pilihan yang ada hanya dua: siap atau malah kian galau karena modal untuk masuk dalam persaingan global tidak ada. Nah, pada tahapan ini peran negara (state) harus makin diperjelas dan diperkuat. Nah, dalam konteks inilah peran anak-anak muda –terutama kaum mahasiswa dan mahasiswi- menjadi sangat penting.

Apalagi, kata Leonardus Virdy yang juga mahasiswa di Guilin—sebagai negara dan bangsa Indonesia terkesan kian tidak pede menghadapi percaturan politik dan ekonomi global. Apalagi mekanisme pengelolaannya kian dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar dan asing.

Indonesia sudah lama merdeka tapi kok belum mampu mengelola sumber daya alamnya sendiri yang melimpah. Kedaulatan negara atas bumi Indonesia kian lemah.

Guilin bersama Pak Konjen RI

Mahasiswi Indonesia menyempatkan diri berfoto bersama Konsul Jenderal RI di Guangzhou, China yakni AA Gde Alit Shantika (Photo credit: Johanes Berchmans Olivian Ariputra)

Guilin peserta seminar pose bersama

Bukan aku-kamu tapi kita semua. Inilah semangay berbangsa dan bernegara yang digaungkan para mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Guangxi Normal University di Guilin, China usai mendengar seminar kebangsaan bersama Konsul Jenderal RI di Guangzhou Bapak AA Gde Alit Shantika. (Photo credit: Johanes Berchmans Olivian Ariputra)

Pada kesempatan sama, Konsul Jenderal RI di Guangzhou AA Gde Alit Shantika juga mengajak Himpunan Mahasiswa Indonesia di Guangxi Normal University (HIMIGNU) untuk menyukseskan pesta demokrasi terbesar tahun ini, yaitu Pemilu 2014. Ia juga mengajak kami semua mendukung penuh pelaksanaan Malam Kebudayaan Indonesia (MKI) yang akan diadakan pada akhir Mei 2014.

Seminar ini ditutup dengan pekikan salam persatuan yaitu Bukan Aku tapi Kita. (ryi)

  • Reporting: Aulia Rahman dan Johanes Berchmans Olivian Ariputra
  • Photo credit: Johanes Berchmans Olivian Ariputra

 

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.