Buat Apa Susah

Ayat bacaan: Matius 6:27
=====================
“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”

buat apa susah, kekuatiranIngatkah anda kepada sebuah lagu anak-anak yang sebagian liriknya berbunyi: “Buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanya”? Penggalan lagu berjudul Sayonara ini rasanya sering kita nyanyikan ketika kecil. Dan apa yang diajarkan dalam lagu ini sebetulnya baik, agar kita tidak tenggelam dalam kesusahan yang tidak membawa manfaat apa-apa. Namun lagu tinggal lagu, karena ternyata dalam perjalanan hidup kita seringkali kita menyerah kepada himpitan masalah. Kita terus kuatir akan hari depan, takut tidak menemukan jodoh, takut tidak lulus ujian, takut tidak mampu membayar berbagai rekening dan lain-lain. Kita berharap ada orang lain yang mampu menolong kita, namun sebenarnya bukan itu yang kita butuhkan, karena meski ada orang yang menolong dalam satu masalah, kita akan membuka kekuatiran baru pada masalah-masalah selanjutnya. Artinya, faktor penyebab kekuatiran seringkali berasal dari diri kita sendiri.

Firman Tuhan dengan jelas menyuruh kita agar tidak terjebak dalam kekhawatiran atau ketakutan-ketakutan dalam hal apapun. Mari kita lihat apa yang diajarkan Yesus mengenai hal kekuatiran. “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Matius 6:25). Itulah pesan pembuka dari Yesus mengenai kekuatiran. Cuplikan lagu di awal renungan hari ini pun kemudian tergambar dari firman Tuhan. “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (ay 27). Tidakkah itu benar? Apa manfaat yang bisa kita peroleh dari rasa kuatir kita? Apakah kekuatiran yang terus kita pelihara atau bahkan pupuk untuk terus membesar dalam diri kita akan mampu menjadi solusi meski sedikit? Tentu tidak, bukan? Tidak ada manfaat positif apapun yang bisa kita peroleh dari kekuatiran, malah yang kita dapatkan adalah tekanan yang lebih besar lagi dalam mental kita hingga kita pada suatu ketika menyerah dan putus asa, atau malah mulai berpikir untuk mengakhiri saja hidup ini.

Tuhan Yesus mengajak kita untuk melihat sejenak burung-burung yang beterbangan di udara dan merefleksikan hal tersebut kepada kondisi kita hari ini. “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (ay 26). Lalu setelah memandang ke atas ke arah burung-burung, kita pun diajak untuk memandang lurus ke depan, ke arah bunga-bunga bakung yang tumbuh di ladang. “Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.” (ay 29-30). Jika Tuhan memelihara burung-burung di udara dan bunga-bunga bakung di ladang yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, apalagi kita anak-anakNya. Tuhan pasti pelihara kita, yang dibuat secara istimewa, His masterpiece, seperti gambarNya sendiri. Oleh sebab itulah Yesus kemudian meminta kita agar tidak kuatir. “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?” (ay 31). Tuhan tahu segala kebutuhan kita, dan Dia peduli dengan itu semua. Apa yang harus kita lakukan adalah ini: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (ay 33). Itu janji Tuhan kepada anak-anakNya yang selalu berpegang teguh dan terus bertekun mencari Kerajaan Allah beserta kebenaran yang dikandung dalam Kerajaan Allah tersebut. Kita tidak perlu kuatir akan hari depan, sebab hari esok akan memiliki kesulitannya sendiri. “Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (ay 34) , dan kita tidak perlu khawatir, karena Tuhan sendiri yang akan memelihara kita, sesuai dengan janjiNya.

Diselubungi kekuatiran tidak akan pernah membawa hasil apa-apa selain bertambahnya masalah. Ayub punya pengalaman tentang hal ini, seperti apa yang ia katakan: “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” (Ayub 3:25-26). Alangkah memprihatinkannya diri kita jika kita masih saja tenggelam dalam kekuatiran, kecemasan atau ketakutan padahal itu tidak membawa dampak apa-apa, sementara Tuhan sendiri sudah berjanji untuk memelihara hidup kita lebih dari burung-burung dan bunga bakung yang tetap ada dalam pengawasanNya. Daripada energi terbuang sia-sia, tidakkah lebih baik kita pergunakan untuk berbuat yang terbaik dalam mengatasi masalah dan untuk terus memfokuskan diri untuk lebih giat lagi memahami prinsip-prinsip Kerajaan Allah? Apapun masalah yang menimpa anda hari ini, ingatlah bahwa Tuhan sudah berjanji untuk memelihara hidup kita, anak-anakNya yang taat kepada perintahNya. Jika kita termasuk dalam kategori itu, tidak ada alasan lagi untuk kuatir, seperti apa yang diingatkan oleh Petrus. “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Dalam segala hal, serahkanlah sepenuhnya kepada Tuhan, dan percayalah Dia lebih dari sanggup untuk menolong kita.

Jika burung dan bunga saja Tuhan pelihara, apalagi kita anak-anakNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.