Bu Risma Mencetak “Hattrick”


P.M. Susbadono, Kontributor, Penulis buku inspiratif


RUMAHNYA berselang tiga rumah dari kami.  Sekian tahun lampau, sekira kelas IV SD, pergi dan pulang sekolah lewat depan rumah.


Lulus SD, keluarganya pindah entah ke mana.  Sejak itu, saya tak lagi berjumpanya.  Meski masih ingat sosok dan wajahnya,  namanya sudah lupa.  Baiklah, untuk mempermudah menceritakan dia, kita sebut saja “Nanang”.


Setiap sore hari, Nanang kecil sering bermain di jalan di depan rumah kami.  Anak periang, suka berteman dan sportif.  Yang menonjol, Nanang terlihat cerdas.  Saya menduga dia anak pandai di kelasnya.  Sampai suatu ketika, sangkaan saya terbukti.


Nanang pulang sekolah bersama beberapa temannya.  Kali itu, wajahnya sangat cerah.  Setengah berteriak menyapa saya :


“Pak, saya juara kelas.  Dapat hadiah buku dari pak Kepala Sekolah.”


Tak tahan saya untuk tak mengintip rapotnya.  Hampir semua mata pelajaran bernilai 9++.  Hanya 2 yang dapat 8, Olahraga dan Seni Lukis.   Di atas tanda tangan wali kelas, tercatat tulisan tangan dengan huruf besar.


“Bagus, ranking 1.  Pertahankan”.


Sore hari, Nanang kembali bermain bersama teman-temannya.  Saya menguping celoteh mereka.  Masih berkisar tentang  bintang pelajar.   Berita yang menjadi topik selama 3 hari di antara mereka.  Nanang, anak kampung, ekonomi lemah, “ngga mitayani”, menjadi juara kelas di sekolah yang cukup  bergengsi.


Kalau saja sekarang, bisa jadi Nanang dituduh “pencitraan”.  Padahal bukan.  Dia berprestasi sejati. Teman-teman, guru dan kepala sekolahnya mengakui kepandaiannya.  Cerita nyata yang  diberitakan kepada publik jelas bukan pencitraan.  Apalagi, Nanang tak punya maksud lain yang tersamar atau terbaca.  Dia hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya nomer 1 di kelasnya.  Biasa-biasa saja, tak ada manipulasi, tak ada hengki-pengki, tak ada politicking atau agenda tersembunyi.  Mungkin dia hanya perlu pengakuan.


“Recognitions create happiness”.


Lazim di dunia pendidikan, siapa yang berprestasi diberi penghargaan.  Semakin pintar seorang siswa, semakin tinggi penghargaannya.  Nanang menyabet gelar juara kelas karena nilai ulangan, tugas dan pekerjaan rumah yang jempolan.  Puncaknya hadiah buku dan tepuk tangan diraihnya.


Saya mengenal itu sebagai “meritokrasi”.  Sistem yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk maju berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan mengedepankan faktor-faktor primordial seperti koneksi, ras, suku, agama, gender, atau golongan.


Pencapaian adalah yang utama.  Prestasi adalah yang pertama.  Suatu bentuk sistem masyarakat yang adil dengan memberikan tempat kepada mereka yang jempolan untuk duduk sebagai juara.  Istilah lain adalah “masyarakat madani”.


Praktisi Manajemen SDM tentunya paham akan istilah ini.  Karyawan yang berprestasi tinggi, mendapat penghargaan yang tinggi pula.  Sebut saja jargon seperti :  “reward and punishment”, “carrot and stick”, atau “High achievers landing on top position, earning lucrative salaries”.  Prinsipnya persis sama.  Berikan kepada mereka hak yang telah diupayakannya.


“Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya”.  (2 Timotius 2:6)


Untuk mengisi posisi kosong di suatu organisasi, meritokrasi mutlak dipakai.  Bila menyimpang dari pakem ini, tunggu waktunya saja, “klaar hidupmu”


“Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu” (HR Al-Bukhari).


Dengan bobot yang lebih kental,  contoh meritokrasi yang nyaris ideal, adalah Tri Rismaharini.  Panggilan akrabnya Bu Risma.


Berawal dari seorang aparatur sipil negara “biasa”, Bu Risma maju menjadi calon walikota Surabaya.  Prestasi dan rekam-jejak sebagai Kepala Badan Perencanaan Kota dan Kepala Dinas Kebersihan & Pertamanan yang mencorong, membuahkan kemenangan yang tak terbendung lagi.  Bu Risma menyabet  angka 38.53%.  Tapi itu belum usai.


Tak usah dituliskan apa pencapaian Bu Risma selama perioda pertama (2010-2015).  Tak perlu didaftar apa penghargaan yang diterimanya.  Tak perlu dilukiskan apa kiprahnya.  Tak perlu diceritakan bagaimana masyarakat Surabaya begitu mencintainya.  Kemudian,  fakta dan data membuahkan bukti.


Puncak dukungan masyarakat Surabaya tercatat pada pilwakot periode kedua (2016-2021).    Nyaris tanpa perlawanan.  Bu Risma melejit dengan 86,34% suara.


Jejak tangga berikutnya adalah menjadi Menteri Sosial, Desember tahun lalu.  Belum genap seminggu dilantik, Bu Risma “menggebrak” kaum dhuafa.  Golongan yang menjadi tanggung-jawabnya.


Kolong jembatan disambanginya.  Mbambungan disapanya.  Kehidupan lebih mulia ditawarkannya.  Tak hanya gelandangan yang kaget kegirangan.    Sebagian pihak  tak menyangka tiba-tiba ada langkah kuda yang out of the box.  Bu Risma mencetak “hattrick”.   Skor 3-0 diukirnya.  Itu bukan pencitraan.  Itu meritokrasi.  Ada rekam jejak,  bukti dan fakta.  Silakan bantah bila bisa, asal pakai data.


Nanang dan Bu Risma mengibarkan pataka kemenangan.  Keduanya mengukir pencapaian dan prestasi.  Keduanya membuahkan hormat, kekaguman dan kecintaan teman-teman dan masyarakatnya.  Itulah hasil dari meritokrasi.


“In meritocracy, people respect success and discourage failure”. (Toby Young,  British social commentator and the London associate editor at Quillette)


P.M. Susbandono, Kontributor, Penulis buku Inspiratif, tinggal di Jakarta


Baca di Hidupkatolik.com

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.