“Broken City”, Kalau Mau Kaya dan Culas, Jadilah Politisi Busuk

< ![endif]-->

Broken-City_11

ADA semacam ‘pesan’ menarik tapi jangan dicontoh dalam film Broken City ini. Seperti kata Walikota New York bernama Nicholas Hostetler (Russel Crowe), kalau Anda punya nyali untuk berkuasa, maka jangan ragu-ragu untuk menguasai kekuasaan itu demi memuaskan nafsu apa pun. Tentu saja dalam konteks ini –seperti kata filosof Friedrich Nietzsche—the will to power alias ambisi atau kehendak kuat orang untuk menguasai siapa pun dan apa pun yang masuk dalam jangkauan wilayah kekuasaannya.

Broken City 2012 movie WallpaperWalikota New York yang ambisius dan culas berhasil membuktikan hal itu. Selain merekrut mantan polisi New York yang belakangan menjadi detektif swasta bernama Billy Taggart (Mark Walhberg) sebagai orang upahannya, dia juga mencoba mengais untung besar dari bisnis “meratakan” permukiman kumuh di New York.

Menyulap permukiman kumuh menjadi kota satelit baru di sebuah wilayah di The Big Apple inilah yang membuat Hostetler berani melakukan apa pun demi meraih dan memuaskan syahwatnya untuk berkuasa. Dengan culas pula, dia memperdaya Taggart dengan mengumpankan dia kepada Cathleen Hostetler  (Catherine Zeta-Jones) –istri sang walikota—yang dicurigai main asmara di belakang layar dengan manajer kampanye pesaing suaminya yang bernama Jack Valiant (Barry Pepper).

Karena butuh uang, tawaran menjadi orang upahan itu pun diterima Taggart dan misi menguntit Cathleen dan mematai-matainya memang berhasil dia lakukan. Namun, itu semua berujung pada  sebuah misteri yang tak gampang dicerna.

Tak disangka-sangka, kekasih Cathleen di luar rumah yang bernama  Paul Andrews (Kyle Chandler) mati terbunuh. Dan tudingan pun mengarah pada Sang Walikota.

Merasa terpojok oleh tipuan Sang Walikota,maka Taggart pun membelot mencari  bukti-bukti hukum untuk menjerat Walikota sebagai “otak” di balik segala kekacauan ini. Namun, Sang Walikota juga punya jurus pamungkas, karena diam-diam masa kelam Taggart saat menjadi polisi juga terekam.

Memanage yang impossible menjadi possible

Dalam kerumitan persoalan inilah lalu muncul semacam adagium yang kiranya berlaku di panggung politik di mana pun. Yakni, politics is all about to make things impossible to become possible.

Mencermati adagium ini, rasanya kita tidak perlu heran mengapa para wakil rakyat yang mestinya memperjuangkan hak-hak rakyat akan jaminan hidup sosial ternyata lebih fokus memperjuangkan kepentingan partai, hajat hidup pribadinya sendiri. Akhirnya, kita pun jadi mahfum mengapa tak satu pun politisi di negeri ini yang duduk manis di  Senayan itu terlihat tampil kumuh atau memelas.

Sebaliknya, mereka selalu tampil klimis, ceria, pinter berdebat di depan layar tivi, dan tentu saja kaya. Jadi tak heran pula, kalau tiba-tiba politisi dari parpol ini tersangkut kasus impor daging sapi,sementara politisi dari parpol lainnya tersandung pada kasus gratifikasi bernilai milyaran rupiah.

Jangan-jangan dari Broken City inilah, para politisi korup ini belajar bermain politik yakni membuat hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin dan biasa. Korupsi yang mestinya harus diperangi oleh para anggota legislatif ini tiba-tiba saja bisa menjadi sesuatu hal yang biasa di mata politisi.

Kalau sudah begini, apa masih mau percaya pada yang namanya politisi? Mumpung ajang kampanye Pemilu 2014 masih jauh ….

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.