Boneka Lilin Mainan

Ayat bacaan: Yesaya 64:8
======================
“Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.”

Sewaktu masih kecil saya sangat suka berkreasi membuat berbagai boneka dengan menggunakan lilin mainan (playdough). Bukan hanya karakter atau individu, tapi saya membuat sebuah maket dari sebuah situasi seperti kebun binatang lengkap dengan pagar dan pengunjung, lapak es krim dan lain-lain, atau yang paling saya sukai adalah ketika membuat sekumpulan superhero seperti Batman, Superman, Spiderman, Iron Man hingga tokoh-tokoh super rekaan dalam negeri seperti Godam dan Gundala. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk membuatnya, mengeluarkan seluruh imajinasi, kreasi dan lain-lain agar bisa memperoleh hasil terbaik. Saya memperhatikannya, meletakkan di tempat aman agar tidak tersenggol atau rusak, membersihkannya dari debu dan kotoran. Jika anda berlibur ke luar negeri, ada Madame Tussauds yang hadir di banyak kota besar di dunia. Madame Tussauds memajang boneka selebritis dan tokoh-tokoh legendaris dunia terbuat dari lilin. Bentuknya begitu mirip, dengan ukuran yang sama dengan tokoh aslinya sehingga sepintas sulit dibedakan.

Seperti saat saya menciptakan boneka dan maket dari lilin mainan, Tuhan mencurahkan hatiNya untuk membuat yang terbaik, dan merencanakan segala sesuatu yang terbaik pula bagi manusia, His masterpiece, ciptaanNya yang teristimewa. Ketika semua ciptaanNya Dia katakan dibuat dengan sungguh amat baik, suitable, pleasant, menyenangkan dan membanggakan hatiNya, manusia mendapat perlakuan khusus dalam pembuatannya. Kita diciptakan Allah secara istimewa dengan mengambil gambar dan rupanya sendiri (Kejadian 1:26-27) dengan mengambil bahan dasar tanah dan membuatnya hidup dengan menghembuskan nafas ke dalam hidungnya (2:7). Ketika manusia jatuh dalam dosa, Tuhan menganggap penting untuk melakukan langkah atau misi penyelamatan dengan mengorbankan AnakNya yang tunggal agar tidak satupun dari kita binasa melainkan beroleh kehidupan kekal. (Yohanes 3:16). Kepada kita semua Tuhan sudah merencanakan yang terbaik, “… rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Artinya, Tuhan ingin memberi yang terbaik bagi kita, menjamin hidup orang-orang yang hidup seturut kehendak dan rencanaNya, baik dalam kehidupan pada fase dunia menuju keselamatan yang kekal, bersamaNya kelak di Surga. Jika melihat ini semua, alangkah ironis ketika manusia merasa berhak untuk bersikap sombong, memamerkan harta kekayaan, kekuatan, status, pangkat, jabatan, koneksi dengan orang-orang berkuasa dan lain-lain. Sesombong-sombongnya manusia, pada saatnya kelak semuanya harus menghadapi Sang Pencipta, dan tidak akan ada satupun yang bisa mengelak dari pertanggungjawaban sepenuhnya atas perbuatan selama hidup. Siapapun kita, tak peduli sebesar apa kekuasaan atau kekayaan kita saat ini, kita tidaklah lebih dari sosok yang kata Alkitab hanya dibentuk dari tanah liat.

Dalam kitab Yesaya dikatakan: “Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” (Yesaya 64:8). Dalam ayat lain Yesaya mengatakan bahwa manusia tidaklah lebih dari hembusan nafas semata, sehingga kita jangan pernah menaruh harapan terlalu tinggi pada sebuah figur atau sosok manusia. “Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2:22). Dari kedua ayat ini kita bisa melihat bahwa sebagai mahluk ciptaan Tuhan kita tidak boleh meletakkan harapan kekuatan sendiri atau orang lain, tetapi sudah seharusnya kepada Tuhan, Bapa yang membentuk kita, hasil buatan tanganNya yang istimewa. Kita harus menyadari bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas segalanya, dan kita hanyalah ciptaanNya yang dibentuk dengan tanah liat dan diberi nyawa lewat hembusan nafasNya sendiri. Dia sudah memberi rancangan atau rencana terbaik bagi kita hingga mencapai garis akhir menuju hidup yang kekal. Jika demikian, sangatlah keliru apabila kita hanya menggantungkan harapan kepada yang lain selain Tuhan. Seharusnya kita mencari tahu apa panggilan kita, menjalani hidup sesuai sekuens Tuhan dan merendahkan diri kita agar Tuhan tetap ditinggikan atas apapun yang kita lakukan. Itu akan membuat kita bisa memiliki sebuah kualitas kehidupan yang tinggi, tidak mudah tergoncang, penuh damai sukacita tanpa tergantung pada situasi dan kondisi. Itu akan memampukan kita menuai segala rencana terbaik Tuhan atas kita.

Mari kita lihat lebih jauh status kita dibanding Tuhan yang disampaikan lewat Yeremia. Jika kita adalah tanah liat, maka Tuhan adalah Penjunan kita. Sebagai tanah liat tentu kita tidak punya kekuasaan apa-apa. Tanah liat tidak pernah bisa mengatur pembuatnya untuk membentuk dirinya sesuai dengan keinginannya. Tapi si pembuatlah yang pasti mengenal jenis tanah liat dan seperti apa ia bisa dibentuk agar hasilnya bisa seindah mungkin. Demikianlah sebuah pelajaran yang dipetik oleh Yeremia lewat seorang tukang periuk. Dalam pembuka Yeremia 18 kita membaca bahwa Tuhan menyuruh Yeremia ke tukang periuk untuk mendapat pelajaran penting mengenai hakekat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.” (Yeremia 18:4). Ini hasil pengamatan Yeremia. Lalu Tuhan berkata: “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!” (ay 6). Ya, Tuhanlah sang Pembuat, sedang kita adalah tanah liat yang berada di tangan sang Pembuat. Karenanya bukan segala kehebatan, kekuatan dan harta kita yang bisa membuat kita menjadi baik, berkelimpahan dan selamat, namun semata-mata karena kehebatan Tuhan membentuk kita-lah maka kita bisa menjadi bejana-bejana yang indah. Menyombongkan diri atau berlindung di belakang orang lain adalah sebuah sikap yang memalukan, karena itu artinya si orang tersebut tidak menyadari betul siapa dia sebenarnya. Malah Alkitab mencatat demikian “Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5).

Jika Tuhan sebagai sang Penjunan atau sang Pembuat periuk/bejana yang mengenal karakter kita, para “tanah liat”, dengan sangat baik dan tahu pula apa yang terbaik buat kita masing-masing.  Proses pembentukan karakter diperlukan, dan hal itu seringkali tidak nyaman bahkan menyakitkan. Tapi lihatlah nanti, sebuah bejana yang sangat indah akan terbentuk. Kita hanyalah tanah liat yang tidak lebih dari hembusan nafas. Tidak seharusnya kita bersikap paling hebat di atas segala-galanya dan hidup seenaknya dengan kekuatan diri kita sendiri maupun orang lain dan merasa lebih hebat atau lebih tahu dari Sang Penjunan. Ingatlah bahwa di atas sana ada Tuhan, Sang Penjunan yang begitu mengasihi kita dan tidak ingin satupun dari kita binasa. Hiduplah sesuai rencanaNya. Follow His sequence and gain every best thing He’s been wanting to give us. Muliakan Tuhan dalam segala yang kita lakukan dan terus menjadi terang dan garam bagi sesama. Tuhan akan bangga atas hasil ciptaanNya yang istimewa, dan senang bahwa semua yang terbaik yang Dia inginkan tidak luput dari kita.

The One who made us knows what best for us more than anyone else

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.