Blusukan Nekad ke Paris, Lourdes, Budapest hingga ke Wina (1)

Katedral Notre Dame de Paris ok

TEMAN, sudah enam hari saya nekad “blusukan” di Eropa Barat. Menikmati indahnya Sungai Seine di Paris, mengagumi Paris dari puncak Menara Eiffel yang terkenal itu, ber-selfie ria- di Museum Louvre, mengunjungi Katedral Notre Dame yang megah, melihat l’Arc de Triomphe yang kesohor, mencoba naik jalur kereta api bawah tanah Metro di kota Paris yang padat, mencicipi crepes isi coklat super enak, menaiki kereta cepat TGV (train à grande vitesse) trayek Paris-Lourdes langsung pp.

Juga menikmati malam di di depan Gua Maria dimana dulu tahun 1858 Bunda Yesus pernah menampakkan diri kepada Santa Bernadette Soubirous, minum air suci Lourdes, mengikuti prosesi lilin bersama ribuan umat dari penjuru dunia di sana, mengikuti misa kudus, menyentuh tembok La Grotte (gua) sambil mendoakan titipan-titipan doa teman-teman melalui perantaraan Bunda Tersuci, naik cable car ke puncak Mt. Titlis di Swiss sembari guling-gulingan di atas salju sepuasnya, makan makanan termahal di restoran Mt. Titlis (which is Rp 200 ribu hanya untuk sepiring spageti …amboii alamak!),

Malah juga sempat kehujanan dan tersesat di lereng Mt. Titlis, terhantam kamera sendiri saat selfie, membuat boneka dari salju, ,main perosotan di atas salju sambil teriak-teriak kegirangan sendiri (hehehe..), harus sharing kacamata saya dengan Lasma teman trip saya , karena kacamatanya ketinggalan di Hotel Orchidee Paris dimana tanpa kacamata terus terang hidup saya serasa hampa (hahay…) dan gelap.

Museum Louvree piramid ok

Indahnya panorama di depan Museum Louvre de Paris: Arsitektur indah Museum Louvre dengan bangunan model piramid berbahan kaca menjadi pesona indah di jantung kota Paris (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Senangnya bisa mengagumi Chapelbruck yang keindahan gambarnya sering saya lihat di kartupos Swiss, beristirahat di Taman Lyon –sebuah monumen yang indah di Lucerne, naik kereta super cepat di kelas satu ke Vienna, Austria dan sekarang saya masih di atas kereta Railjet dari Zurich menuju Budapest, Ibukota Hongaria.

Baru setengah perjalanan saya sudah tidak tahan untuk menuliskan semua pengalaman saya dalam jurnal perjalanan saya kali ini. Terlalu indah dan sungguh berharga semua yang saya alami sehingga sayang jika tidak saya bagikan untuk teman-teman.

arch de triomphe les soldats ok

Les soldats inconnus: l’Arch de Triomphe atau Gapura Kemenangan menjadi ikon bagi Parisi dimana di tembok bangunan itu ditulis sejumlah nama ‘pahlawan perang’ Perancis. Petang hari menjelang sore biasanya berlangsung acara penghormatan kepada para pahlawan tak dikenal oleh pasukan militer Perancis. (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Satu hal yang amat berkesan bagi saya saat berada di negara- negara Eropa ini yakni saat berjumpa dengan banyak orang-orang tua yang masih gemar melakukan perjalanan sendiri. Bukan sekali dua saya bertemu dengan opa-opa atau oma-oma yang menggeret koper gede, membawa ransel dan naik bus/kereta/metro bersama saya. Bukan hanya nge -trip berpasangan, tetapi mereka juga layaknya orang muda, ada yang traveling sendiri bahkan juga bersama sesama lansia.

Bukan hanya itu…para lansia ini tidak hanya traveling tetapi juga melakukan banyak aktivitas sendiri. Seolah mereka tidak mau masa tuanya sia-sia dengan duduk diam di rumah. Seolah-olah hidup ini hendak mereka nikmati hingga maksimal. Seolah-olah mereka masih muda….seolah-olah hidup mereka masih panjang.

Padahal kalau saya perhatikan fisik mereka benar-benar sudah lemah, ada yang tremor tapi masih membawa koper, ada yang bungkuk tapi masih sigap naik bus, ada yang susah payah berjalan tapi masih bergaya ala backpacker komplit dengan tas pinggang, bahkan pernah saya yang sedang berkeliaran mencari objek foto dari atas kereta yang berjalan malah saya disuruh duduk di seat-nya oleh seorang oma sementara ia berdiri menunggu saya memotret. Katanya supaya gambarnya bagus.

Wow!!! Luar biasa spirit itu, temans.

Saya jadi malu dengan diri sendiri yang sering cari alasan klasik : ahh aku sudah terlalu tua untuk memulai sesuatu…ahh sudah telat karena umurku sudah tidak muda dan bla bla bla…

Sepotong kisah perjalanan ini menyadarkan saya bahwa umur bukan alasan untuk menolak melakukan apa pun juga. Selagi masih bisa dan ada kesempatan kenapa saya selalu menutup diri? Apapun itu jenisnya ; pekerjaan, hobi, ilmu dan keahlian baru mengapa harus saya siakan karena alasan sudah tua?

Saya pernah membaca ungkapan begini:
Waktu muda punya waktu, punya tenaga tapi tidak punya uang. Waktu dewasa punya uang, punya tenaga tapi tidak punya waktu. Waktu tua punya uang, punya waktu tapi tidak punya tenaga.
Sepertinya ungkapan itu perlu ditinjau ulang oleh penulisnya karena ternyata di Eropa yang terjadi adalah justru pada masa tua orang punya uang, punya waktu dan punya tenaga.

Dan yang penting adalah ternyata hidup itu masih panjang, lebar, tinggi dan luas. Apa yang saya lakukan di usia saya sekarang ini belum apa-apa. Saya masih bisa mengerjakan banyak hal di sepanjang hidup karena kehidupan memang selayaknya diisi secara maksimal untuk lebih berguna bagi sesama.

Temans, kalau Anda termasuk orang yang seperti saya, mari kita cepat-cepat bertobat dari cara pikir lama dan membiarkan spirit hidup itu tetap terbakar sampai waktunya nanti. Jangan padamkan energi dan cita-cita hidup kita sampai tetes darah penghabisan! Mari kita isi hidup dengan sebaik-baiknya, mekar semekar-mekarnya dan tumbuh setinggi-tingginya sehingga nanti Sang Pencipta berkata: “Bagus sekali hambaKu, engkau sudah mengembangkan dua talenta yang Kuberi menjadi 10 talenta dan kini engkau layak masuk dalam KerajaanKu.”

Betapa bahagianya kita saat itu…!
Semoga.

Salam hangat dari Vienna,Austria

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.