Blusukan Nekad ke Eropa: Duh, Selangit Rasanya Kehilangan Karcis Eurailpass (4)

Kereta api cepat Eurorailpass di Eropa ok

TEMAN, sejak perencanaan trip Eropa sampai hari terakhir trip ini saya mengalami mujizat dan penyertaan Tuhan terus menerus. Trip Eropa yang dimulai dari wisata rohani, kemudian wisata alam (gunung salju), disambung wisata pantai dan air, lalu ditutup wisata sejarah ini amat indah dan saya yakini disertai malaikat2 Tuhan dalam perjalanan traveling 14 hari.

Saya ingat ketika berada di atas kereta api super cepat dari stasiun Montparnasse, Paris menuju stasiun Basel, Switzerland tiba2 teman saya Lasma mengatakan bahwa tiket kereta api kami Paris-Basel raib. Saya kaget bukan kepalang sebab tanpa dapat menunjukkan tiket kami bisa2 diturunkan di stasiun terdekat dimana kami berdua buta peta dan tentu harus mengeluarkan ongkos ekstra membeli tiket baru. Oemji! Apakah dicopet orang atau jatuh saya tidak tahu sebab sedari tadi sayalah yang berjalan persis di belakang Lasma jadi kalaupun ada copet atau tiket jatuh saya pasti melihatnya.

Saya minta Lasma mengingat-ingat manatahu terselip di ransel, kantong jaket atau tempat duduk atau di mana saja sekitar kami. Waktu itu kami sudah duduk di gerbong kelas 1 nomor seat 42 dan 43. Hadohh…kalau nanti ada pemeriksaan tiket bisa gawat ini. Saya langsung teringat sebuah film yang berjudul “Holiday” yang dibintangi Mr. Bean.

Dalam perjalanan dengan kereta api dari Paris menuju Cannes, Mr.Bean yang selalu teledor itu tidak mempunyai tiket karena tertinggal di atas box telepon umum. Sehingga ia bersembunyi di toilet saat ada pemeriksaan tiket dan sialnya saat bersembunyi Mr Bean baru sadar kalau ada orang sedang buang hajat di toilet. Alhasil ia langsung keluar toilet dan saat membuka pintu, petugas kereta api yang galak itu sudah berdiri di depannya. Maka ditendanglah si Mr Bean keluar dari kereta api di stasiun berikutnya.

Kereta api cepat Eurorailpass di Eropa ok

Enaknya Trent Italia: Inilah nyamannya naik kereta api cepat Trent Italia dari Milan menuju Roma di gerbong kelas satu. Saking nyamannya dan karena dinginnya suhu musim semi, para penumpang menjadi terlelap dalam tidur. (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Oh Tuhan…lindungi kami, seru batin saya panik. Kami berdua sungguh2 tidak dapat menemukan tiket itu. Lasma bilang mungkin tiket yang ia pegang tadi jatuh sebelum naik kereta api. Tetapi kami masih mempunyai tiket terusan Eurailpass yang ada tulisan Paris-Switzerland-Austria-Italia. Meski pesimis mungkin kami bisa tunjukkan tiket pass ini walaupun biasanya petugas kereta justru menanyakan tiket reservasi seat yang raib itu. Sebab tanpa bukti reservasi seat kami bisa disangka penumpang gelap. (Fyi: tiket kereta api terdiri dari 2 yakni tiket terusan dan tiket2 lain berisi reservasi seat sesuai jurusan kereta yang kami ambil).

Hmm….sepanjang awal perjalanan saya berdoa terus di dalam hati. Hingga tiba saat pemeriksaan tiket, satu persatu penumpang di gerbong kami diminta menunjukkan bukti reservasi tiket. Hadoh…jantung saya sudah mulai berdebar tidak karuan. Gimana kalau kami diturunkan dari kereta dengan bawaan segambreng? Olala….olala…seram sekali saya membayangkannya.

Kedua tangan saya sudah terasa dingin dan perut mulai mulas. Semakin dekat petugas kereta api ke arah kami semakin kencang saya berdoa Salam Maria

Demikian juga saya lihat wajah Lasma tak kalah pucat. Kami gelisah menunggu giliran sambil bersiap dengan kemungkinan terburuk.

Akhirnya tibalah petugas kereta api di bangku kami duduk. “Bonjour”, sapanya. Petugas kereta ini usianya 50 an dengan postur tubuh tegap dan mata tajam. “May I see your ticket, please?”.
Hadehh….kiamat sudah, batin saya! Lasma dengan pasrah menyerahkan tiket terusan yang kemudian hanya dibaca sekilas dannnn….kemudian ia mengulangi lagi dengan mata birunya menghujam ke arah kami, “your ticket,please!”

“Emm….we are so sorry we lost our tickets”, kata saya grogi.

Mata biru itu membesar. Tatapannya menyiratkan rasa tidak percaya. (Oohh Tuhan Jesus dan Santa Maria tolong anakmu). Lalu tiba-tiba temannya sesama petugas datang dan mereka berbicara sebentar. Entah apa kami tidak tahu tampaknya ada hal lain yang mereka bicarakan. Tapi yang jelas setelah temannya pergi, si Bapak mata biru ini hanya memandang kami dan berkata “merci”.

Kemudian ia berlalu.

Huuuftttttttt…..thanks ya Tuhan dan Bunda Allah. Selamat!

Kami berdua langsung berpelukan lega. Luarbiasa cara Allah menyelamatkan.

Kalau Lasma berpendapat bahwa kami selamat karena sudah menunjukkan tiket eurail pass/tiket terusan kepada petugas kereta tadi, tetapi saya tetap yakin bahwa kejadian ini tak lepas dari penyertaan tangan Tuhan yang selalu siap menolong. Apa jadinya kalau petugas tetap ngotot menuntut dan mempermasalahkan kami yang tidak dapat menunjukkan bukti tiket reservasi seat?

Bisa jadi tampang Asia kami sudah direkam sebagai penumpang gelap dan selanjutnya bisa dicurigai sebagai imigran gelap pula.

Thanks Jesus for sending us an angel to save our difficult time on the train.

Kredit foto: Perjalanan naik KA Trent Italia dari Milan ke Roma. (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.