Blusukan Nekad ke Eropa: Drama Koper Robek (3)

Belanja koper 4 email ok

TEMAN, selama perjalanan ke empat negara (Perancis, Swiss, Austria dan Italia) saya mengalami kejadian lucu bin ajaib tentang koper saya. Dalam perjalanan yang judulnya backpacker ini saya tidak membawa ransel saja, tetapi juga membawa sebuah koper. Keputusan membawa koper saya ambil karena perpindahan antar negara selalu menggunakan kereta api. Naik kereta api lebih gampang di Eropa daripada naik pesawat, gak perlu check in dua jam sebelumnya, gak perlu kawatir kelebihan bagasi, gak perlu antri nunggu bagasi, gak perlu diperiksa koper dan tasnya (dimana saya membawa banyak air Lourdes di koper saya).

Pokoknya gak perlu repot deh, gitu kata teman saya. Bisa duduk manis 15 menit sebelum kereta berjalan.

Masalahnya pengalaman nggeret koper itu menyisakan trauma untuk saya yakni saat gagang koper saya patah dalam trip dari Shanghai menuju Beijing dan oleh karena itu saya harus beli koper baru.

Dalam trip ini saya hati-hati sekali menggeret koper pink saya apalagi saat melintas jalan yang konturnya bergelombang. Kali ini koper saya beratnya 13 kg plus ransel 4 kg (lumayan berat). Total saya berjalan membawa beban 17 kg. Isi koper memang berat karena isinya selain pakaian saya juga membawa jaket winter, sepatu boot, longjohn dan teman-temannya termasuk panci listrik, uwel-uwelan kabel dan makanan ringan. Maklum meski sudah summer tapi kami hendak lihat salju di Mt. Titlis. Jadi pakaian yang dibawa macam-macam. Wuihh komplit.

Selama di Paris, Swiss dan Austria saya tidak mengalami kendala berarti waktu menggeret koper. Ada saja orang baik yang membantu saya menurunkan atau menaikkan koper entah ke bus atau naik metro dalam kota menuju hotel. Atau juga saat tiba di hostel yang tidak mempunyai lift seperti di Lucern, Swiss ada saja malaikat baik yang membawakan koper saya naik ke lantai 4 lewat tangga!

Tak terbayang kalau saya harus membawa koper berat itu sampai lantai 4. Mungkin akan ada otot yang menangis minta diluruskan.

Menurut saya orang Perancis, Swiss dan Austria itu helpful. Mereka tak segan bantu orang asing (atau mungkin juga wajah saya tampangnya terlalu melas kali,ya..hehe)

Di kota Mestre, Italy, sekitar 30 km dari kota air yang terkenal, Venezia dimana kami stay 1 malam 2 hari, saya mendapat kejutan menarik soal koper. Tiba di stasiun kereta api di Mestre saya dibuat kecut karena melihat tidak ada lift di stasiun yang sederhana ini. Yang ada tangga biasa ke bawah lalu jalan sebentar di lorong dan nanti naik tangga lagi ke atas. Huufttt!! Bakalan patah nih gagang koper saya. Bakalan salah urat nih saya menggotong beban 17 kg dan mungkin sudah lebih dari 17 kg karena tambahan oleh-oleh titipan teman.

Sedang bingung memikirkan bagaimana cara naik turun tangga tanpa encok, tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara ramah seorang pemuda yang dari nada dan gerak tubuhnya saya tebak ia menawarkan bantuan membawa koper saya.

Grazie! Kata saya dalam bahasa Itali (cuma itu kata yang saya bisa..hehe) dan saya biarkan dia menggotong koper sampai bawah. Lumayan pikir saya, masih ada malaikat di dunia. Langkah saya kegirangan mengikuti si pemuda ganteng ini. Tetapi sampai bawah tangga tiba-tiba ia menadahkan tangan sambil bilang: 1 euro, please…

Owwwhhhh…..jadi ini gak gratis tho? Teman saya Lasma bilang: iya mba itu tukang pundak….(kuli, maksudnya). Jadi cepat- cepat saya kasih 1 coin euro untuknya sambil tetap berterimakasihlah sebab bagaimanapun saya selamat dari musibah salah urat.

Waktu naik tangga berikutnya juga demikian. Ada gadis-gadis remaja yang memang menunggu di situ untuk mencari 1 coin euro dengan membantu jadi tukang pundak. Kali ini saya tidak terkejut dan saya langsung siapkan 1 coin euro untuk ongkos membawa koper ke atas.

Dalam hati saya bersyukur ketemu mereka sebab koper saya asli berat bingitss! Itu masih ditambah dengan satu tas tentengan isi baju kotor yang nambah2i repot bawaan saya ya ransel …ya koper ….ya tas tenteng. Alamak!!!

Malahan saya rencana nanti pulang dari Venezia saya akan cari lagi tukang pundak supaya membawa koper saya. Apalagi ternyata koper saya beranak di Venezia, sodara-sodarah. Iya temans, mengingat barang saya yang makin banyak maka saya putuskan membeli koper di Venezia sekalian koper ini saya beli sebagai titipan. Maka saya membeli 1 koper seharga 35 euro (ukuran kabin supaya ringkas).

Jadilah sekarang saya membawa dua koper dan 1 ransel. Dalam hati saya bingung memikirkan bagaimana cara membawanya sampai Jakarta. Tapi bayangan para tukang pundak itu menghapus kekawatiran saya. Lebih baik saya siapkan coin saja untuk mereka. Sama-sama saling bantu, tho hehe…
Apalagi tinggal beberapa hari saya di Roma. Nanti tinggal memikirkan berapa kelebihan bagasi di pesawat nasional rute Singapura-Cengkareng yang ternyata hanya menyediakan 15 kg untuk bagasi.

Semoga uang rupiah saya masih ada!

Jadi intinya bawalah koper bila berpergian naik kereta api di Eropa. Dan jangan kawatir bila koper kita nantinya beranak pinak dalam perjalanan. Selalu ada orang baik dijalan untuk kita (sejauh kita juga selalu berbuat baik untuk orang lain ) dan kalaupun harus memberi coin 1 euro kepada orang yang membantu, janganlah menyesal sebab saya yakin apa yang kita beri itu memang Tuhan minta dari kita untuk dilipatgandakan.

Bukankah dari memberi kita pasti menerima? Dari menabur kita pasti menuai? Dari membuang kita pasti akan mendapatkan?

Kredit foto: Belanja koper di sebuah mal di depan Kebon Binatang Beijing, Tiongkok (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Tautan:
Blusukan Nekad ke Eropa: Duh, Selangit Rasanya Kehilangan Karcis Eurailpass (4)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.