Blusukan Nekad ke Eropa: Antrian Panjang untuk Naik Menara Eiffel (2)

Le tour d'Eiffel by Mathias Hariyadi

TEMAN, kalau Anda orang yang sabar dalam proses, punya pendirian, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain dan punya keyakinan yang kuat pada diri sendiri, saya percaya keberhasilan sudah berdiri di muka pintu hidup Anda dan hendak masuk memberikan kebahagiaan yang didambakan.

Saya mengalami kejadian menarik ini ketika saya dan teman saya, Lasma hendak naik ke puncak Menara Eiffel di Paris, beberapa hari yang lalu.

Pukul 8 pagi waktu Paris, kami dengan semangat 45 naik metro bawah tanah di line 1 disambung line 6 menuju Eiffel. Tidak terlalu sulit mempelajari peta subway di Paris karena semua sudah terintegrasi dalam sistem transportasi yang canngih layaknya di kota-kota besar dunia.

Cukup membeli tiket metro/subway seharga 1.70 euro (kurs Rp16.000) di vending machine yang ada di station maka kami bisa “ngebolang” dengan nyaman dan cepat ke tujuan. Mesin otomatis ini selain menerima koin euro, juga menerima pembayaran dengan kartu kredit. Jangan kuatir kalau tidak punya pecahan 1.70 cent euro, mesin otomatis akan mengembalikan kelebihan uangnya. Hari itu rencananya kami ingin naik ke puncak Eiffel (mumpung ….hehehe).

Setelah tiba di kaki Menara Eiffel, kami lihat antrian sudah mengular di bawah Eiffel. Ada dua antrian berbeda dan saya tanya kepada seorang bapak yang sedang antri di situ apa bedanya yang satu dan yang lain. Bapak itu menjawab kalau antrian yang satu untuk naik puncak Eiffel melalui tangga sampai tingkat 2 lalu disambung lift. Sementara antrian yang Bapak itu sedang ikuti adalah antrian naik lift langsung ke pucuk Eiffel gak pake tangga!

Setelah mikir sebentar sambil lihat isi kantong akhirnya kami putuskan antri bersama Bapak itu. Jadi kami akan naik ke puncak Eiffel (300 m) langsung pakai lift! Wow berasa jadi orang kaya karena sanggup membayar 15 euro untuk sensasi naik Eiffel pagi ini.

Lama kami mengantri dan saya lihat antrian sudah bertambah panjang mengular berkelok-kelok mirip sungai. Panjang sekali. Beruntung kami datang pagi sebelum loket buka jadi meskipun panjang tapi kami gak di belakang- belakang amat. Udara di bawah Eiffel cukup sejuk dan berangin, dingin buat kulit Indonesia tapi demi puncak Eiffel kami tahan berdiri berjam-jam.

Mendekati pukul 9.30 saat loket akan buka, wajah-wajah kami sudah sumringah luar biasa. Masing-masing orang yang antri pasti punya tujuan sendiri-sendiri. Ada yang sudah bawa pasangan karena mau foto berdua di puncak. Ada yang dengan teman serombongan. Ada yang membawa keluarga dan ada yang backpcker seperti kami, berdua maupun bertiga. Semua wajahnya senang.

Tetapi sampai pukul 10 loket belum juga dibuka. Beberapa pengantri sudah mulai tanya-tanya kepada para pengantri di antrian sebelah yang pakai tangga. Saya juga mulai gelisah. Apalagi melihat pengantri lift sudah mulai menyeberang ke antrian tangga. Waduh…something wrong nih kayaknya!

Eiffel et le jardin de tuillerie ok

Menara Eiffel dari perspektif taman: Indahnya Menara Eiffel dari sudut taman umum dimana banyak orang menikmati hangatnya sinar matahari sembari menari spontan dengan iringan berbagai jenis instrumen musik. (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Benar saja temans, tiba-tiba datang 3 petugas Eiffel ke antrian lift. Ada info bahwa lift rusak dan sedang diperbaiki. Berapa lamanya tidak jelas karena namanya juga perbaikan bisa saja the whole day, jadi kami diberi saran untuk pindah ke antrian tangga yang panjangnya sudah 1 km. Walaaahh!!

Bapak yang antri bersama saya tadi sudah langsung angkat kaki pulang ke hotel. Besok saja katanya. Yang lain langsung pindah jalur ke antrian tangga. Sejenak kami bimbang. Tapi akhirnya kami memutuskan tetap berdiri di antrian lift menunggu perbaikan selesai. Konyol bukan? Lift rusak kok ditunggu…gak jelas lagi sampai jam berapa.

Kami pikir yaah siapa tahu beruntung, sejam dua jam lift bisa dipakai lagi. Lagipula waktu kami masih banyak jadi tidak tergesa. Yang berpikiran sama dengan kami banyak juga bahkan di bagian belakang antrian masih panjaannng. Beruntung orang- orang di depan kami sudah mundur teratur jadi posisi kami ada di nomor dua.

Sepintas ragu juga dengan diri sendiri bahkan sudah mulai juga melirik lirik ke jalur sebelah sambil memikirkan betapa luckynya mereka tidak ada masalah seperti jalur lift. Apalagi waktu lihat ada sepasang turis Jepang yang pakai siasat cerdik. Yang perempuan antri di jalur lift dan yang laki-laki di jalur tangga. Artinya gak dapat yang satu masih ada cadangan, gitu kali pikiran mereka . Kalau kami sudah teler mbayangin ikut antrian tangga. Enggak banget deh ngantri paling buncit. Jadi tetap di jalur lift sambil berdoa semoga ada miracle dan lift bisa digunakan lagi.

Tiga jam mengantri dalam dingin dan lelah ditambah pikiran-pikiran otak kiri yang selalu mengirim informasi-informasi kekawatiran, keraguan, kemustahilan ke dalam benak membuat penantian jadi terasa lama sekali.

Tiba-tiba terdengar sedikit keributan di belakang yang ternyata berasal dari suara para petugas Eiffel yang sedang menpersiapkan sesuatu. Wah sepertinya kabar baik! Benar saja. Tak lama muncul banyak petugas loket yang tadi tak nampak batang hidungnya..membuka pintu-pintu loket.

Segera kami bersiap-siap antri lagi dalam barisan sementara gantian para pengantri jalur tangga sekarang yang melihat kami dalam tatapan iri. Si mas-mas Jepang tadi juga segera kembali merapat ke barisan jalur lift setelah pasangannya berteriak memberi kode.

Akhirnya pintu loket dibuka dan semua orang riuh bertepuk tangan. Hooraaayy!!!….
Lalu setelah membeli tiket kami melangkah dengan bahagianya ke dalam lift di tengah tatapan para pengantri tangga yang mulai heboh entah pada ngomong apa….hahahayy!!

Finally, dalam 10 menit kemudian kami sudah berada di pucuk Menara Eiffel Paris (sekali lagi …Paris, hehehe alay…) untuk menikmati pemandangan kota Paris yang spektakuler dari atas menara.

Wow…luar biasa indah Paris dibelah Sungai Seine yang tampak bermandikan cahaya pagi dari atas.

Tidak ada kata terucap dari mulut kami…hanya melongo dan melongo…its so amazing! Sambil tak lupa hati mengucap syukur, thanks God pelajaran hari ini sungguh indah pada akhirnya. Ternyata kesabaran selalu berbuah manis.

Photo credit: Le tour d’Eifeel de Paris by night (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Tautan: 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.