Blessed to Bless Others (1)

Ayat bacaan: 2 Korintus 9:8 (BIS)
=======================
“Berilah kepada orang lain, supaya Allah juga memberikan kepadamu; kalian akan menerima pemberian berlimpah-limpah yang sudah ditakar padat-padat untukmu. Sebab takaran yang kalian pakai untuk orang lain akan dipakai Allah untukmu.”

Tidak satupun orang yang ingin hidup berkekurangan. Kita ingin kebutuhan bisa tercukupi dengan sisa yang masih bisa ditabung. Terutama menghadapi masa-masa sulit di bidang ekonomi dimana harga terus melambung tinggi sementara pendapatan begitu-begitu saja, ditambah suasana politik yang semakin memanas menuju pemilihan umum tahun depan, kita akan membutuhkan berkat dari Tuhan lebih dari sebelumnya. Pertanyaannya, apakah berkat Tuhan itu semata-mata hanya untuk mencukupi kebutuhan kita? Apa tujuan Tuhan dalam menurunkan berkat bagi kita, memulihkan perekonomian kita bukan hanya sekedar pas-pasan tetapi dikatakan dalam kelimpahan? Apakah itu diberikan agar kita bisa memiliki banyak rumah mewah, tanah yang luas, mobil-mobil terbaru, selusin smart phones, berlibur ke luar negeri sesuka kita dan lain-lain? Bukan, bukan itu tujuannya. Benar, Tuhan memang ingin agar kita senantiasa berkecukupan atas segala kebutuhan hidup, tetapi ada satu tujuan lain yang sangat penting tapi sering kita abaikan, yaitu agar kita bisa memberkati.

Hal ini dengan jelas disampaikan oleh Paulus dalam surat 2 Korintus. “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” (2 Korintus 9:8) Dalam versi Bahasa Indonsia sehari-hari dikatakan demikian: “Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal.” Jadi jelas kita lihat bahwa Tuhan melimpahi kita dengan segala kasih karunia bukan saja agar kita tidak berkekurangan melainkan agar kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Kenyataannya ada banyak orang yang menjadi sombong ketika memiliki kelebihan secara materi. Semakin kaya, semakin sombong dan semakin pelit. Kalaupun memberi itu akan dipakai sebagai sebuah etalase kebanggaan pribadi, agar kemakmurannya bisa dipamerkan didepan banyak orang. Lihatlah artis-artis yang memanggil wartawan untuk meliput mereka beramal atau menunjukkan rumah mereka yang mewah. Mereka memberi demi keuntungan pribadi, dan itu sangat bertentangan dengan tujuan Tuhan memberkati.

Kita bisa lihat salah satu contoh menarik dari ayat bacaan dalam renungan kemarin, yaitu ketika beberapa orang perempuan dicatat Lukas aktif dalam mengikuti Yesus melayani bersama murid-muridNya. “Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.” (Lukas 8:1-3). Lihatlah kembali ayat ini baik-baik. Lukas menjelaskan bahwa para perempuan yang ikut itu adalah mereka yang sebelumnya sudah menerima pertolongan, kesembuhan, pemulihan dan berbagai berkat lain. Maria yang disebut Magdalena dibebaskan dari tujuh roh jahat, dan beberapa lainnya juga mengalami kesembuhan dari berbagai penyakit dan roh-roh jahat. Mereka mengalami jamahan Tuhan dan dipulihkan, dan kemudian mereka turut serta dalam pelayanan. Singkatnya, mereka tahu pasti bahwa berkat yang mereka terima harus dipakai untuk memberkati orang lain. Mereka bergerak aktif dalam mencukupi keperluan Yesus beserta tim selama menjalankan misi pelayanan dari kota ke kota.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.