“Blended”, Keluarga pun Harus Blended

SAYA suka dengan aktor Adam Sandler. Salah satu film yang dia bintangi dan masih mengesan adalah 50 First Dates.

Dalam film tersebut, Sandler jatuh cinta dengan seorang wanita yang memiliki masalah ingatan karena sebuah kecelakaan. Kenangan akan film 50 First Dates muncul kembali ketika Adam Sandler membintangi Blended, dan sialnya, aktris lawan mainnya dalam film barunya ini adalah wanita yang sama dalam 50 First Dates, yakni Drew Barrymore.

Bedanya dalam Blended, demikian title film ini, mereka berdua berperan sebagai single parent yang tengah membesarkan anak-anak mereka. Adam Sandler menjadi Jim. Jim itu seorang ayah yang memiliki tiga putri dengan karakter yang unik. Ketiga putrinya dibesarkan dengan lingkungan maskulin sehingga penampilan mereka pun tomboy. Istri Jim telah meninggal karena kanker.

Barrymore berperan sebagai Lauren. Dia merupakan ibu muda yang harus mengurus kedua anak lelakinya yang badung tetapi menyenangkan. Lauren telah bercerai dengan suaminya. Baik Jim maupun Lauren memiliki masalah yang sama, bagaimana mendampingi anak-anak mereka secara seimbang dalam masa adolescent. Keduanya merasakan betapa sulitnya untuk mendidik anak-anak sebagai single parent. Cinta saja tak cukup untuk membesarkan mereka. Mereka menyadari pula bahwa ada ketidaklengkapan sebagai single parent dalam mengasuh anak-anak mereka.

Bagi saya, justru pergulatan single parent inilah yang menarik dari film drama komedi ini. Dalam Blended, penyebab Lauren menjadi single parent adalah perceraian dengan suaminya yang selingkuh. Perceraian dianggap sebagai solusi atas persoalan mandegnya hubungan antara pasangan suami-istri.

Tetapi film ini juga mampu memunculkan sisi lain dari perceraian: ketika seorang hidup sendiri, tidak lagi bersama pasangannya, lahir kerinduan untuk dilengkapi. Hal itu diekspresikan oleh Lauren yang merasakan kekosongan akan relasi cinta yang hangat. Juga sebagai orang tua, dia merasa terbatas dalam mengatasi problem anak-anaknya. Single parent melahirkan hal lain yang mesti dilengkapi, yakni kebutuhan anak-anak akan afeksi dan figur orang tua.

Ini sangat primer dalam pertumbuhan kepribadian anak-anak seperti yang ditampilkan dalam Blended. Sebagai misal, Hilary anak pertama Jim selalu dikira cowok karena gaya penampilannya yang sama sekali tidak modist. Sedang anak pertama Lauren di masa pubernya terobsesi oleh fantasi seks terhadap babysitter. Jim dan Lauren menyadari keterbatasannya dalam pengasuhan anak. Blended bertutur bahwa perceraian pun memberi pekerjaan rumah bagi pasangan masing-masing.

Dalam kebuntuan tersebut, Jim dan Lauren kemudian dipertemukan dengan cara ajaib. Sebelumnya mereka telah berkencan tetapi hasilnya menyedihkan. Mereka kembali dipertemukan dalam liburan keluarga di Afrika Selatan. Kebetulan (pasti disengaja oleh pengarang cerita) mereka diikutsertakan dalam sebuah program “pembangunan keluarga”. Program paket liburan ini memang bertujuan untuk mengokohkan relasi keluarga, dan tentunya pasangan suami istri. Asyiknya, Jim dan Lauren dikira sebagai suami istri.

Dalam liburan tersebut, banyak hal baik terjadi. Anak-anak Lauren yang super nakal berproses dengan Jim. Mereka menemukan sosok Jim sebagai pelatih dan partner yang ideal. Sedangkan putri-putri Jim, menemukan Lauren sebagai ibu yang bisa menyanyikan lullaby dan membuat Hilary tampil sebagai putri yang cantik.

Blended memanfaatkan kecantikan Afrika Selatan sebagai obat kebosanan orang-orang Amerika akan gedung dan mall. Namun hal fundamental yang justru patut disimak dalam kisah liburan di Afrika Selatan ialah meleburnya suatu keluarga terjadi dalam aktivitas kebersamaan: dalam makan bersama, naik mobil bersama, rekreasi ke taman bersama, bertanding bersama, berdansa bersama dan lain-lainnya. Kualitas relasi keluarga semakin kokoh dalam aktivitas bersama.

Aktivitas bersama anak atau pasangan lebih berbicara ketimbang nasehat-nasehat yang terasa kuno di telinga anak zaman sekarang. Di situlah pelajaran bagus yang disodorkan oleh Blended. Liburan itu seolah berpesan bahwa perceraian yang terjadi umumnya dikarenakan pasangan dan keluarga tidak memiliki kesempatan untuk melakukan kegiatan bersama-sama.

Beberapa komentator dunia film menilai film ini biasa-biasa saja, khususnya penampilan Adam Sandler yang kurang menggigit. Tetapi bagi saya, film ini sederhana dan bermakna mendalam. Saya kira bioskop-bioskop kita layak untuk memutar film keluarga yang memberi inspirasi bagi banyak orang untuk membangun keluarga. Anda tertarik mengetahui kelanjutan nasib dua keluarga ini? Silahkan mencarinya bersama-sama dengan keluarga Anda.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.