“Blackhat”, Berpakaian Kemajuan Teknologi Internet

blackhat2

NICHOLAS Hathaway (Chris Hemsworth) adalah seorang hacker handal yang mendekam di penjara. Akhirnya ia dibebaskan dari penjara dan mendapat kemurahan dari pemerintah Amerika. Misinya kini ialah berkolaborasi dengan Chen Dawai (Leehom Wang), anggota unit perang cyber dari China, untuk memberantas kejahatan cyber yang telah merugikan jutaan dollar.

Dalam pemberantasan ini keterlibatan FBI yang diwakili oleh Carol Barret (Viola Davis) menyebabkan 2 negara raksasa, China dan USA, yang biasanya beradu jotos justru bekerja sama. Sesuatu yang hanya mungkin terjadi di film.

Hathaway, Dawai, dan Barret dipusingkan oleh seorang hacker yang menyebabkan beberapa ledakan di China dan Chicago. Di balik ledakan itu, ternyata ada sekelompok orang yang mengambil keuntungan. Kelompok ini menggunakan teknologi komputer dan internet guna mengacau jaringan informasi data dan juga mentransfer uang jutaan dollar.

Perang dengan hacker yang tak kelihatan ini membawa mereka dari satu negara ke negara yang lain (USA, China, Hong Kong) guna melacak keberadaan si hacker. Akhirnya mereka dibawa ke Jakarta, Indonesia di mana menjadi pusat server si hacker.

Komentar

Ada dua kesan yang penulis dapatkan dari film baru berjudul Blackhat. Pertama, penulis spontan merasa bangga ketika melihat Jakarta menjadi salah satu setting dalam film ini. Beberapa view seputaran ibu kota Indonesia ditampilkan. Walau tak bisa ditutupi, film ini lebih menyorot wajah Jakarta yang semrawut, kotor, dan berbahaya. Jakarta menjadi sarang hacker dan transaksi uang haram. Namun setidaknya Chen Lein (Tang Wei) dan Hathaway menikmati keadaan itu untuk membabat para penjahat cyber.

Kedua, walaupun awalnya film Blackhat menampilkan dunia cyber, perlahan-lahan film yang didistribusikan oleh Universal Pictures justru mengangkat adegan tembak-tembakan, perkelahian dan tentu bumbu romantis. Akibatnya bagi mereka yang rindu film berbau dunia cyber akan kecewa. Kejahatan komputer dengan kepintaran hacker, permainan kode internet, perang dunia maya, dan kontrol satelit hanya disuguhkan sangat sebentar dalam film yang berdurasi 133 menit. Selebihnya kejar-kejaran dan penyelamatan diri. Ini suguhan yang biasa, tidak terlalu istimewa.

Pesan kecil

Walaupun demikian, film Blackhat dapat membuka cakrawala penonton tentang zaman ini. Zaman ini syarat dengan penggunaan teknologi internet untuk mengontrol dunia perekonomian, pertahanan, komunikasi, kesehatan dan bahkan data base. Teknologi seumpama pakaian untuk mengatakan seseorang itu up-to-date atau old fashion.

Melihat tokoh Hathaway, ia semula adalah hacker yang semestinya mesra dengan laptop dan internet namun justru kemudian menjadi James Bond: master dalam berkelahi dan menundukkan hati wanita.

Atau si hacker yang diburu oleh pemerintah China dan USA: mulanya hanya dikenali punggung nya. Ternyata kemudian diketahui adalah seorang yang powerful bukan karena jago berkelahi tetapi karena mampu mengontrol informasi data, memanipulasi jaringan, dan memegang uang.

Maka film Blackhat mau mengatakan bahwa kemajuan teknologi internet seolah-olah pakaian yang membungkus abad 21. Tetapi faktanya, manusia-manusia abad ini tetaplah seperti yang disuguhkan dalam film Blackhat, mereka haus uang dan menghalalkan segala cara, bahkan tega menghabisi sesasamanya. Tidak jauh berbeda karakternya dengan manusia pra-internet.

Singkatnya, teknologi belum banyak meningkatkan etika dan moralitas kehidupan manusia.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.