Bimbang

Ayat bacaan: Matius 14:31
=====================
“Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

Saya pernah mengikuti jalan di atas bara api sebagai sebuah metode untuk melatih keyakinan dan keberanian dalam melakukan sesuatu pada saat saya mengambil kuliah. Tentu awalnya mengerikan membayangkan kaki harus melewati bara api sepanjang beberapa meter tanpa memakai alas. Kuncinya agar kaki tidak terbakar sebenarnya hanya satu, kita harus melakukannya tanpa ragu. Jika kontak kulit dan bara api terjadi dalam jarak waktu yang sangat singkat maka kaki tidak akan mendapatkan cukup panas untuk membakar kulit sehingga kita bisa luput dari luka bakar serius. Langkah yang cepat juga membuat kaki menginjak ringan saja sehingga resikonya pun menjadi jauh lebih ringan. Sedikit saja ragu di tengah, itu akan membuat langkah kita melambat dan disanalah masalah bisa terjadi.

Bimbang artinya tidak yakin. Tidak yakin menang, tidak yakin kalah. Tidak yakin sukses, tidak yakin gagal. Tidak yakin antara mau atau tidak. Keraguan atau kebimbangan seringkali menngganggu dalam saat-saat penting di kehidupan kita. Jika tidak waspada, hati kita bisa dengan mudah dipenuhi oleh berbagai keraguan yang akan membuat performa atau produktivitas kita menurun atau malah gagal. Dalam hal iman pun demikian. Iman yang dijalankan dengan ragu-ragu, antara percaya dan tidak seringkali merupakan penghambat utama dari keberhasilan kita menerima berkat atau mukjizat Tuhan. Jadi bukan hanya tidak percaya yang bisa merugikan, sekedar bimbang pun ternyata sanggup untuk menggagalkan kita untuk menerima sesuatu dari Tuhan. Dan Alkitab sudah menyatakan bahwa kebimbangan akan membawa kita ke dalam banyak kegagalan dalam hidup ini.

Kita bisa melihat contoh yang sangat jelas dari peristiwa yang di alami oleh Petrus dan murid-murid Yesus lainnya dalam Matius 14:22-33. Pada suatu malam mereka tengah cemas terombang ambing oleh gelombang di tengah danau. Antara jam 3 sampai jam 6 pagi, Yesus pun datang menghampiri mereka dengan berjalan di atas air. Mereka semua terkejut dan ketakutan mengira yang datang itu hantu. (ay 26). Rasa takut atau gentar membuat mereka tidak bisa berpikir jernih. Yesus pun kemudian menenangkan mereka, namun Petrus masih meragukan bahwa itu adalah Yesus. “Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” (ay 28). Yesus memanggilnya, dan Petrus pun mengalami peristiwa ajaib dengan berjalan di atas air. Ini mukjizat luar biasa. Petrus manusia biasa, tapi lewat iman yang percaya terhadap perintah Yesus ternyata ia bisa berjalan di atas air. Ia pun terus berjalan di atas air untuk menghampiri Yesus. (ay 29). Tapi lihat apa yang terjadi setelahnya. Ternyata di tengah-tengah danau itu angin mulai membuatnya takut. Imannya memudar, dan ia kemudian mulai tenggelam. Seketika itu pula Petrus lalu berteriak minta tolong pada Yesus. Yesus kemudian menegurnya. “Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Matius 14:31). Petrus kemudian diselamatkan, dan mereka menaiki kapal. Seketika itu pula angin reda. (ay 32).

Ini kesaksian hidup Petrus dan para murid Yesus yang tentu sudah tidak lagi asing bagi kita. Lihatlah bahwa apa yang dialami Petrus pada mulanya luar biasa. Petrus sudah mengalami keajaiban dengan berjalan di atas air. Tapi ketika rasa bimbang mulai timbul disertai rasa takut, maka ia pun mulai tenggelam dan gagal mencapai tujuannya. Ini sebuah gambaran jelas bagaimana kebimbangan bisa menghancurkan kita. Seperti Petrus, kita pun bisa mengalami perkara-perkara besar dan ajaib dalam hidup kita, ketika kita taat pada Tuhan. Tapi lihatlah ketika kita mulai mengandalkan perasaan yang kerap dipengaruhi oleh kebimbangan, maka kita pun akan tenggelam. Iblis raja tipu muslihat sangat suka memanfaatkan kebimbangan manusia untuk masuk dan menghancurkan diri kita dari dalam. Iblis akan selalu berusaha menghabisi iman kita dengan cara menyerang kita lewat kebimbangan demi kebimbangan. Kebimbangan akan membuat kita ragu-ragu dalam melangkah, dan bisa menimbulkan ketidakpercayaan. Ketidakpercayaan ini akan mengarah pada ketidaktaatan, dan akhirnya kita pun akan tenggelam sia-sia.

Kita sering terlalu cepat merasa takut terhadap sesuatu yang belum terjadi. Kita sering terlalu mudah diliputi keraguan akan sesuatu. Dibalik kebimbangan tersembunyi kegagalan, dan kita seringkali lupa akan hal itu. Iman yang dikatakan sebagai bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat dalam Ibrani 11:1 seharusnya mampu menjadi jawaban dalam mengatasi segala bentuk keraguan kita. Apa yang dialami Petrus sesungguhnya sering kita alami juga dalam kehidupan kita. Banyak orang yang mungkin sudah mengalami berbagai pengalaman ajaib bersama Tuhan, mengalami kuasa dan mukjizatNya yang luar biasa, namun kemudian ketika kebimbangan mulai merasuki hati dan pikiran kita, maka kita pun mulai kehilangan seluruh berkat dan janji-janjiNya.

Kebimbangan membuat iman kita tidak cukup besar untuk bisa melakukan perkara-perkara besar. Kita percaya akan Firman Tuhan, namun di sisi lain kita mencoba melakukan banyak alternatif-alternatif lain karena rasa percaya itu terkontaminasi oleh sesuatu yang namanya bimbang. Kita tidak cukup tegas untuk berpegang pada janji Tuhan, dan ketika itu terjadi, disanalah benih-benih kegagalan mulai mengintip. Agar tidak bimbang, penting bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita, apa yang Dia kehendaki, dimana Dia akan ada bersama kita karena kita berjalan sesuai rencanaNya. Kita harus ingat bahwa hidup yang terbaik bukanlah tergantung pada pendapat kita atau manusia, tapi sepenuhnya tergantung pada Tuhan. Selanjutnya Yakobus mengingatkan kita untuk meminta dalam iman yang bulat, utuh tanpa ada kebimbangan di dalamnya. “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin” (Yakobus 1:6). Jangan bimbang, karena dengan kebimbangan kita tidaklah akan mendapatkan apa-apa, tapi percayalah sepenuhnya pada Tuhan, karena bagi diriNya tidak ada satu pun yang mustahil. Yesus berkata “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24). Percaya, itu timbul dari iman. Dari mana iman timbul? “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17). Berjalan bersama Kristus berarti hidup bersama kasih, dan dalam kasih itu tidak ada ketakutan. “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:18). Artinya, tidak ada tempat bagi kebimbangan dan ketakutan jika kita sempurna di dalam kasih Kristus. Jangan berikan tempat bagi kebimbangan yang bisa membuat kita kehilangan janji-janji Tuhan. Alamilah terus perkara besar dalam hidup anda, hiduplah dalam kepercayaan dan ketaatan penuh dalam iman yang teguh akan Kristus.

Kebimbangan akan merusak diri kita dan menghambat kita untuk mengalami perkara-perkara besar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.